
Kini, ia telah sampai di hotel bintang lima, di mana terdapat sebuah restoran Perancis yang sangat terkenal di area rooftop hotel tersebut.
Nicholas membimbing Mira untuk menuju ke tempat pertemuannya. Namun, saat telah tiba di depan pintu, Nicholas berhenti dan mempersilakan Mira untuk masuk seorang diri.
"Tugas saya mengantar Anda hanya sampai di sini, Nona. Silakan Anda masuk ke dalam," ucap Nicholas.
"Tapi, aku kan belum tau seperti apa bosmu, Nick. Bagaimana kalau aku salah orang?" tanya Mira.
"Oh iya, saya lupa. Nomor meja Anda adalah 17, silakan Anda pergi ke meja dengan nomor itu," ucap Nick.
Mira pun mengangguk. Dia kemudian berjalan mendekati pintu masuk, di mana seorang pelayan menyambut kedatangannya.
Pelayan itu membukakan pintu kaca yang berornamen classic gold, dan terkesan mewah untuk Mira.
"Terimakasih," ucap Mira sambil mengulas senyumnya.
Wanita cantik itu berjalan masuk, dan melihat ke seluruh penjuru ruangan, mencari di mana tempat yang telah disiapkan untuknya.
Netranya tertuju pada sebuah meja yang terletak paling ujung, tepat di samping pagar pembatas yang terbuat dari kaca, dan berhias lampu-lampu taman yang berkelap-kelip serta tanaman sulur yang membuat tempat itu tampak asri.
"Itu meja tujuh belas kan." Mira berjalan menuju meja yang sempat diberitahukan oleh Nicholas.
"Wah … sepertinya dia pria yang cukup romantis. Tempat yang ia pilih pun lumayan juga," gumamnya saat tiba di depan mejanya.
Pemandangan malam kota metropolitan, yang beratapkan langit malam penuh bintang dengan bulan yang bertahta di atas sana, menambah kesan romantis di tempat itu.
Mira pun duduk. Dia tak mendapati siapun di sana.
"Kata Nick, bosnya sudah nunggu. Mana? Nggak ada?" ucap Mira seraya menoleh ke kanan dan ke kiri, sambil meletakkan tasnya di atas meja.
Mira duduk sembari menumpukan kedua sikunya di atas meja, dengan kedua tangan yang mengepal ke atas dan bertumpu pada pundaknya.
"Kira-kira, tamu spesial ini orangnya seperti apa yah? Kata Mom Winda, dia masih muda." Mira sebenarnya sangat penasaran dengan orang yang sudah mem-booking-nya itu.
Namun, ia menutupi rasa ingin tahunya itu dengan sikap yang elegan, dan terkesan cuek.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba saja seseorang duduk di hadapannya. Mira pun langsung tersadar dari lamunannya, dan menatap lurus ke depan.
"Hei! Sedang apa Anda di sini?" tanya Mira yang merasa kesal dengan kehadiran orang itu, yang secara tiba-tiba duduk tanpa permisi di mejanya.
"Hei, Nona. Ini restoran! Memangnya mau apa lagi aku ke sini, kalau bukan untuk makan. Kau aneh sekali," ucap pria yang selalu saja bertingkah menyebalkan di depan Mira.
"Tuan Lingga, sebaiknya Anda pergi dari meja saya, karena saya sedang ada janji dengan orang yang sangat penting," ucap Mira datar.
"Wah … sepenting apa memangnya?" tanya Lingga yang seperti tengah menyelidiki.
"Anda tidak perlu tahu," ucap Mira dingin.
Di tengah ketegangan yang terjadi di antara mereka, seorang pelayan mengantarkan pesanan, yang sudah dipesan terlebib dulu, bahkan sebelum Mira datang.
Pelayan itu meletakkan di depan keduanya, masing-masing seporsi menu hidangan pembuka berupa Ratatouille, sebuah olahan yang terbuat dari sayur-sayuran yang dibumbui lalu kemudian dipanggang.
Makanan yang pada jaman dahulu dikenal sebagai makanan para petani ini, kini digemari oleh banyak orang, dan disajikan dengan roti, kentang tumbuk, nasi dan diolah dengan bumbu yang semakin bervariasi.
Tak lupa, red wine turut menemani hidangan pembuka itu di atas meja.
__ADS_1
"Silakan dinikmati," ucap pelayan itu.
"Terimakasih," sahut Mira kepada si pelayan yang kemudian pergi.
Saat Mira kembali menoleh ke depan, ia kembali dibuat kesal oleh pria yang ada di hadapannya itu.
Lingga menyantap makanan itu dengan lahapnya, tanpa menawari Mira terlebih dulu. Apalagi, Mira yang sangat geram karena pria itu sepertinya akan membuat pertemuannya dengan si tamu istimewa menjadi kacau.
"Tuan Lingga. Apa Anda tidak punya sopan santun? Ini meja saya, dan ini hidangan yang sudah dipesan oleh tamu saya. Kenapa Anda dengan seenaknya memakan semua itu. Tidak tau malu," sarkas Mira.
"Ehm … ah … makanan ini sangat lezat! Apa lagi dipadu dengan anggur merah yang berkualitas ini. Apa kamu tidak akan memakannya? Sayang lho," ucap Arya sambil terus menyantap makanannya.
"Tuan Lingga!" bentak Mira dengan sura lebih keras, sambil berdiri dari duduknya.
Beberapa pengunjung yang berada dekat dengan mereka berdua, nampak menoleh karena terganggu dengan keributan yang terjadi.
Lingga mendongak dan menatap datar ke arah Mira.
"Nona, apa kau mau mempermalukan dirimu sendiri sepepti itu? Duduklah dengan tenang. Kita nikmati saja makanan yang sudah disiapkan ini," seru Lingga dengan tatapan tajam, dan nada bicara yang dingin.
"Lebih baik saya pergi, dari pada harus malu di depan tamu saya karena kelakuan Anda," ujar Mira sembari meraih tasnya yang ada di atas meja.
Saat Mira berbalik dan hendak pergi, Lingga menjentikkan jarinya beberapa kali, dan pintu depan restoran terbuka.
Tampak seorang pria dengan setelan jas hitam, masuk dengan membawa sebuah amplop coklat.
Mira melihatnya, dan menghentikan langkahnya. Seketika, ia menatap ke arah pria berjas yang sedang berjalan lurus ke arahnya.
Pria berjas itu berpapasan dengan Mira dan menyapanya.
"Nick, Aku sudah menunggu lama di sini. Mana bosmu?" tanya Mira.
"Ehm … maaf, Nona. Bukankah sejak tadi, Anda sudah bertemu dengn beliau?" tanya Nick yang membuat Mira bingung.
" Aku? Kapan aku …," perkataan Mira terhenti, dan seketika dia menoleh ke belakang, dan melihat ke arah pria menyebalkan itu.
Lingga tersenyum miring, sembari menatap lurus ke arah Mira.
"Kau?!" pekik Mira yang terkejut dengan apa yang baru saja ia ketahui.
"Nick, suruh dia duduk!" perintah Lingga.
"Mari, Nona." Nick mengajak Mira untuk duduk kembali di tempatnya.
"Maaf, saya menolak permintaan Anda!" ucap Mira dan kembali berbalik hendak berjalan pergi.
"Tunggu!" panggil Lingga yang membuat Mira kembali berhenti.
"Nick, beritahu dia poin pertama di dalam kontrak itu," perintah Lingga kepada asistennya.
"Pihak pertama, yaitu Nona Mira, bersedia mematuhi apapun perintah dari dari pihak kedua, yaitu tuan Lingga Arya Putra. Jika pihak pertama tidak bersedia melakukannya setelah penandatangan surat kontrak ini, maka pihak pertama harus bersedia menerima hukuman apapun yang akan diberikan oleh pihak kedua, atau membayar denda sebesar satu miliyar rupiah,"
Itu adalah bunyi pin satu di dalam surat perjanjian yang telah ditanda tangani oleh Mira.
Mira menoleh dan menatap nyalang ke arah Lingga.
__ADS_1
"Anda sangat licik!" hujat Mira.
"Sebutkan peraturan nomor tiga, Nick!" perintah Lingga lagi.
"Peraturan nomer tiga, yaitu Pihak pertama harus bersedia untuk makan bersama dengan pihak kedua, setiap pagi, siang dan juga malam, kecuali jika pihak kedua tidak menginginkannya" ucap Nick yang langsung membuat Mira memejamkan mata karena jengah.
"Sudah dengar? Aku yakin kamu nggak membacanya dengan menyeluruh, karena kamu adalah seorang wanita tipe pembangkang. Benar begitu bukan?" ujar Lingga dengan seringainya.
Lingga kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, dengan kedua siku yang bertumpu pada meja.
"Aku yakin, satu miliyar itu jumlah yang sangat besar untukmu. Jadi sekarang silakan pilih, mau menemaniku makan atau dapat hukuman, hem?" seru Lingga yang membuat Mira bertambah emosi.
.
.
.
.
Kira2, Mira bakal pilih yang mana yah?🤔
Tunggu next eps besok😊✌
Jangan lupa like dan komen dibawah ya, kopi ama kembang juga nggak nolak🤭🙏
Oh iya, othor mau minta bantuannya lagi nih buat para reader yang baik😊(mode ngerayu🤭)
Jadi, novel ini lagi ikut sebuah lomba tim mager up😅dimana event ini juga melibatkan dukungan dari para readers biar othornya tambah semangat up😁
Caranya akan othor jelasin di bawah nih👇
Kalian masuk aplikasi dan klik yang bawah paling tengah, komunitas, nanti tampilannya bakal kek gambar diatas, habis itu kalian klik event atas, yang ditunjuk pake panah biru.
Nanti munculnya kek gitu guys, nah kalian ketikkan judul novel ini "mirage" di pencariannya seperti yang dia tunjuk ya
maka muncul kek gitu, dan kalian klik vote
sekarang, itu adalah keterangan novel dievent tersebut. kalian tinggal klik vote aja
terus, pilih berapa jumlah poin yang akan kamu pake buat dukung novel ini, disesuaikan juga sama jumlah poin kalian seperti yang dilingkari itu ya. habis tu, klik vote lagi.
yang terakhir adalah konfirmasi, dan dukungan kalian akan otomatis masuk ke dukungan untuk novel ini. ya siapa tau bisa dapet banner promosi, kan nanti othor bisa sukuran lagi🤭
__ADS_1
Ditunggu dukungannya ya🙏😊