Mirage

Mirage
Mengambil Keputusan


__ADS_3

Mira mengurai ciumannya, namun Lingga menahan tengkuk wanita itu, dan kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir manis Mira yang pias tanpa polesan lipstik tebal.


Dia mem*gut bibir atas dan bawah wanita itu, hingga semua basah terkena salivanya. Lidahnya menerobos masuk, dan membelit Mira di dalam sana, mengabsen deretan gigi putih Mira yang berjejer rapi di tempatnya.


Ciuman yang di awal terasa begitu dalam dan hangat, kini semakin panas dan bern*fsu. Tangan pria itu mulai bermain, membuka resleting belakang baju yang dipakai Mira.


Dia mengusap lembut punggung wanifa itu, hingga menemukan pengait yang membebatkan gundukan sintalnya.


Perlahan, Lingga menurunkan baju Mira dari pundak, dan mulai mengusap lembut dada Mira, dan memelintir pucuknya hingga membuat wanita itu meleng*h.


“Ehmmm...,”


Suara yang indah pun keluar dari mulut Mira, yang masih terbungkam oleh bibir Lingga yang terus menyesapnya hingga terasa kebas.


Pria itu kemudian melepas p*gutannya dan mulai menyusuri leher jenjang Mira dengan bibir dan lidahnya. Des*han dan l*nguhan terdengar, saat bibir itu mengulum puncak mungil di dada Mira.


“Aaaahhhh... Kak...,” des*h Mira.


Kedua tangannya terus merem*s rambut Lingga dan semakin membenamkannya di sana.


Lingga terus menguul*m dan menyesap ujung mungil itu hingga basah, dengan satu tangannya yang merem*s gunung satunya lagi.


“Eehhhhmmm....,” leng*han terus terdengar saat Lingga menyes*p kuat kedua buah besar itu hinga meninggalkan jejak kemerahan di sana.


Tangan Lingga yang lainnya, turun ke bawah merayapi punggung hingga memberikan sedikit remataan di bokoong Mira yang bulat sempurna dan padatberisi itu.


Suasana semakin panas, seiring gerakan Lingga yang semakin turun bahkan kini sudah menelusup masuk di balik dress bagian bawah Mira yang pendek.


Namun, saat Lingga hendak memasukkan jemarinya ke dalam lapisan tipis penghalang inti Mira, Tiba-tiba saja wanita itu menahan tangan Lingga dan menghentikan aksinya.


“Kak, jangan sekarang,” ucap Mira disela nafasnya yang terengah-engah.


Lingga pun melepas kuluumannya di dada Mira, dan mendongak melihat wajah si ratu es yang sudah merah dipenuhi oleh g*irah. Matanya terlihat begitu sayu, tertutup oleh kabut n*fsunya.


“Ada apa, Sayang? Apa kamu gak nyaman di sini? Atau mau makan dulu? Atau...,” tanya Lingga yang juga menahan gemuruh di dalam dadanya, karena n*fsu yang sudah sangat memuncak.


Bahkan, celananya pun terasa sangat sesak karena sesuatu yang bangun di antara pangkal pahanya.


“Ehm... Aku... Aku masih keluar darah, Kak. Kan aku baru aja keguguran,” jawab Mira.


“Hah?!” pekik Lingga yang terkejut dengan penuturan Mira barusan.


Dia pun mundur dan menjauhkan diri dari tubuh Mira yang sudah nampak berantakan itu.


Lingga mengusap wajahnya kasar, dan mengacak rambutnya dengan frustasi. Sedangkan Mira, dia hanya bisa tersenyum kaku ke arah prianya, sambil membenahi pakaiannya yang hampir lepas seluruhnya dari badan.

__ADS_1


“Maaf, Kak. Atau, mau aku bantu pake yang lain?” ucap Mira sambil merengangkan ke sepuluh jari tangannya, dengan gigi yang menggigit bibir bawanya.


Lingga lalu mendekat dan menarik ke bawah dress Mira yang tersingkap ke atas. Dia lalu menuntun kepala wanita itu untuk bersandar di dadanya.


Dia memeluk Mira sembari mengatur nafasnya yang masih tak beraturan, dan menormalkan lagi degup jantung yang terdengar tak karuan itu.


“Maaf yah. Aku terlalu bersemangat. Aku sangat rindu padamu, Mir. Rindu berduaan seperti ini dengan mu. Jadi, kebawa suasana deh,” turut Lingga.


Mira mendongak dan mencoba melihat wajah prianya. Lingga menunduk dan menatap mata hitam Mira yang terus membuatnya terpesona.


Wanita itu tersenyum begitu manis hingga Lingga pun tak sadar seketika mengecup kening wanitanya.


“Beneran nggak mau ku bantu?” tanya Mira.


Lingga menggeleng pelan, dan semakin mendekap erat Mira.


“Aku nggak mau maksain kamu. Biar aku sabar nunggu aja. Habis itu, aku akan hamilin kamu lagi secepatnya. Hehehehe,” sahut Lingga.


Mira pun terkekeh diikuti Lingga yang juga tertawa karena ucapannya sendiri.


Tak berselang lama, makanan mereka pun datang. Lingga membantu Mira untuk memindahkan makanan tersebut ke atas piring. Sedang wanita itu mmenyiapkan minuman untuk keduanya.


Setelah itu, keduanya pun makan malam dengan tenang, dan dilanjutkan beristirahat, karena hari itu sudah cukup melelahkan untuk keduanya, dengan ulah Mira yang hampir kabur keluar negeri.


...💋💋💋💋💋...


“Mir, Mira!” panggil Lingga.


Mira menoleh ke arah tangga dan melihat jika pintu kamarnya terbukan. Lingga menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


“Kenapa, Kak?” tanya Mira.


“Ada balasan dari Tuan Moris. Katanya, satu jam lagi dia akan melakukan panggilan vidio call,” sahut Lingga.


“Ya udah. Kakak siap-siap, terus kita sarapan dulu aja,” seru Mira.


“Oke!” sahut Lingga yang kembali masuk ke dalam kamar.


Sementara Mira, dia pun kembali memasak nasi goreng spesial untuk kekasih hatinya.


Selang lima belas menit, Mira telah selesai menata meja makan, bertepatan dengan Lingga yang terlihat turun ke bawah menghampiri wanitanya.


Dia berjalan menuju ke arah Mira dan mengusap surai hitam wanita itu, lalu kemudian mengecup keningnya singkat.


“Pagi, Sayang,” sapa Lingga.

__ADS_1


“Pagi, Kak,” sahut Mira dengan senyum cerahnya.


Hari ini, semuanya kembali seperti sedia kala. Tak ada mendung di wajah keduanya, dan hanya ada bahagia dan kebersamaan yang tercipta.


Lingga kemudian duduk di kursinya, dan Mira mulai mengambilkan sarapan untuk calon suaminya itu.


“Makasih ya,” ucap Lingga.


Mira hanya tersenyum menyahuti ucapan lingga. Dia pun kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Setelah selesai sarapan, Lingga yang harusnya pergi ke kantor, berencana menemani Mira terlebih dulu untuk menerima panggilan vidio dengan Moris, pengacara mendiang Thomas.


Mereka kini tengah dudu di ruang tengah, dengan sebuah laptop yang terbuka di depan mereka. Lingga bermaksud untuk menerima panggilan Moris lewat benda tersebut.


Mira nampak menggenggam erat tangan Lingga. Dia gugup ketika harus berhadapan dengan pengacara itu lagi, meski secara virtual.


“Tenanglah. Semua pasti akan baik-baik saja,” ucap Lingga seolah tahu kegelisahan yang tengah rasakan Mira.


“Kak, apa aku harus menerimanya?” tanya Mira.


Dia masih ragu tentang konsekuensi apa yang harus dihadapinya, ketika meminta bantuan Moris untuk memberinya semua dokumen pribadi yang dibutuhkan, untuk pernikahannya esok hari.


Lingga dan Mira telah membicarakan hal ini tadi pagi buta, ketika Mira terbangun karena terpikirkan soal surat wasiat Thomas yang belum dia setujui sampai saat ini.


Pria itu mengusap lembut surai hitam Mira, dan memintanya untuk menyandarkan kepalanya di bahu kekarnya.


“Aku yakin, kamu yang paling tau jawabannya,” ucap Lingga.


Memang sudah berkali-kali pria itu meyakinkan Mira untuk menerima semuanya, karena hingga akhir hayatnya, yang ada dipikiran Thomas adalah kebahagiaan Mira.


Terlebih, sekarang Mereka yang akan segera menikah, harus menyediakan persyaratan dokumen pribadi masing-masing mempelai untuk di daftarkan ke kantor catatan sipil.


Hal ini lah yang menjadi pertimbangan Lingga, agar Mira menerima wasiat dari Thomas itu.


Tepat pukul setengah sembilan pagi, Sebuah panggilan vidio call masuk, dan itu dari Moris. Lingga pun meng-klik iKon telpon berwarna hijau untuk menerimanya.


“Halo, Tuan Lingga dan Nona Mira. Saya tidak akan berbasa-basi. Langsung saja, bagaimana keputusan Anda Nona Mira?” tanya Moris.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2