
Saat tertidur pun, Mira terus memipikan Thomas. Rasa bersalahnya begitu besar, hingga tak membiarkannya tidur dengan tenang barang sebentar saja.
Peluh keluar dari pelipisnya, dan rintihan serta gumaman terdengar dari bibir wanita cantik itu.
"Thomas! Tidak, Thom. Tidak. Jangan. JANGAAAAANNNNN!" pekik Mira yang terbangun dari tidur singkatnya.
Dia seketika terduduk dengan nafas yang tersengal-sengal. Mira mengusap wajahnya kasar, dan menjambak rambut belakangnya.
Wanita itu kembali mengambil minuman yang berada di dalam kantong belanjaannya, dan menenggaknya.
Dia menghembuskan nafas berat. Dadanya sangat sesak. Sulit sekali baginya bernafas saat itu. Tangis seakan menghilang dari wajahnya, namun dia justru terlihat semakin menyedihkan.
Hal itu terjadi hingga keesokan harinya. Lingga yang telah bangun di pagi hari setelah tertidur, karena kelelahan mengurusi pekerjaannya, kini tengah berada di depan apartemen Mira.
Dia menggedor-gedor pintu itu, namun Mira menulikan pendengarannya. Dia sama sekali tak menggubris sedikit pun kegaduhan yang dibuat oleh tetangganya itu.
"Mir! Mira! Buka pintunya, Mir!" teriak Lingga dari balik pintu.
Mira sama sekali tak menghiraukannya, dan terus meneguk minumannya yang semakin berkurang.
Lingga begitu khawatir karena wanita itu tak kunjung meresponnya. Dia pun lalu mengambil ponselnya dari saku, dan mencoba menghubungi Mira.
Sayup-sayup terdengar bunyi ringtone ponsel Mira dari tempat pria itu berada, yang menandakan jika wanita itu tengah berada di dalam apartemen.
__ADS_1
Lingga kembali menggedor-gedor pintu berkali-kali namun hasilnya tetap nihil. Mira sama sekali tidak peduli dan tetap diam dengan pandangan yang ksoong.
Lingga beranjak dari sana, dan masuk ke dalam apartemennya. Dia segera menuju ke arah balkon kamarnya.
Pria itu mulai berteriak memanggil-manggil Mira dari balkonnya. Dia sama sekali tak peduli, jika tetangga yang lain melaporkannya karena membuat keributan.
"Mira! Jawab aku, Mir. Kamu ada di dalam kan? Mira!" teriaknya.
Namun sama sekali tak ada sahutan dari arah sampingnya.
Dia pun kemudian mencoba sebuah ide gila, untuk melompat dari balkonnya ke balkon Mira.
ketika ia hendak memanjat pagar pembatas, Lingga sempat menoleh ke bawah dan seketika itu ia ragu. Namun, rasa khawatirnya membuat ia melanjutkan ide gilanya itu.
Pria itu pun lalu mengurungkan niatnya dan hanya berteriak frustasi.
"Aaarrrgghhhh!" teriaknya sambil menjambak rambut belakangnya dengan kuat.
Dia sudah tak tau lagi harus berbuat apa. Ingin meminta bantuan pihak pengelola gedung, namun dia dan Mira tak ada hubungan apapun. Jika dipaksa, bisa-bisa Mira balik melaporkannya karena mengganggu privasi, dan membuat Lingga tak bisa lagi tinggal di tempat itu.
Hari semakin siang, dan pangilan dari Nicholas membuatnya harus mau meninggalkan Mira kembali seorang diri.
Lingga hanya bisa menggedor pintu wanita itu setiap pagi, siang, sore bahkan malam hari. Namun tetap tak ada jawaban.
__ADS_1
Dia sampai meminta Mom Winda untuk mencoba membujuk Mira agar mau membuka pintunya, tapi tetap saja. Mira seolah sedang menjauhkan dirinya dari dunia.
Wanita itu tengah tenggalam dalam rasa bersalahnya, dan memilih untuk terus mengurung diri di dalam apartemnennya seorang diri.
.
.
.
.
Nyai, kelaur atuh. Kenapa mabok bae, Nyai. Kesian itu si Linggalinggaling.
Mira : Pan elu yang bikin gue stres, thor.
Oh iya, lupa.
Mira : dasar pe a
Dah ah, abaikan lawakan garing diatas😅 next eps besok lagi ya😊
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1