
Seminggu sudah sejak kunjungan Mira ke tempat Mia. Morning sickness tak begitu terasa, bahkan n*fsu makannya semakin meningkat. Namun ada satu hal yang membuat Lingga kerepotan, yaitu perasaan Mira yang semakin hari semakin sensitif, apa lagi jika menyangkut tentang Lingga.
Setiap kali dipeluk pria itu, Mira akan sulit dilepaskan. Bak lem super yang melekat erat, Mira seakan tak mau terpisah dari Lingga. Pimpinan Shine group itu pun sampai bingung jika sikap Mira yang seperti itu sudah muncul.
Di suatu pagi, Lingga yang tengah bersiap pergi ke kantor, bermaksud memberikan pelukan selamat pagi kepada Mira.
"Ehm … wangi sekali Mommy-nya lil baby," ucap Lingga sembari memeluk wanitanya dari belakang, dan mengecup pelipis Mira.
Wanita itu pun kemudian menoleh, dan memeluk prianya itu dengan erat. Aroma tubuh Lingga yang begitu khas, perpaduan antara musk dan juga mint yang menciptkan kesan maskulin, dan membuat wanita hamil itu merasa nyaman berlama-lama di dekatnya.
"Ehm … Daddy-nya lil baby ganteng banget sih. Mau ngantor yah?" tanya Mira yang masih betah berlama-lama di dalam pelukan Lingga.
"Ehm … aku mau ke kantor dulu. Kamu baik-baik yah di rumah," ucap Lingga sambil mengurai pelukannya.
"Ehm … nanti dulu. Aku masih pengin meluk." Mira terus mengeratkan pelukannya.
Lingga pun membiarkannya sebentar lagi. Namun, ternyata bukan sebentar, melainkan cukup lama hingga kaki pria itu pun terasa letih berdiri menopang wanktanya yang terus berada di dalam pelukannya.
"Mir, udah siang. Aku ada rapat penting dengan para dewan direksi nih," ucap Lingga.
"Ehm … Kak, gimana kalau aku ikut kamu aja ke kantor," pinta Mira sambil mendongak menatap wajah prianya.
"Jangan hari ini yah. Aku pasti bakal lama rapatnya. Nanti kamu bete lagi. Besok-besok lagi aja yah," tolak Lingga dengan lembut.
Namun, Mira tiba-tiba menunduk. Bahunya terlihat berguncang. Lingga pun mengurai pelukannya dan menangkup kedua pipi wanita itu.
"Lho … kok kamu nangis?" tanya Lingga yang heran dengan sikap Mira yang akhir-akhir ini sering sekali tiba-tiba berubah melankolis.
"Kakak udah nggak sayang aku lagi kan, makanya nggak bolehin aku ikut ke kantor. Hik … hik …," ucap Mira ditengah isaknya.
Hah … bukannya dia sendiri yang nolak buat ikut ke kantor waktu itu? Kenapa sekarang malah dia yang maksa buat ikut sih? batin Lingga bertanya-tanya.
"Ehm … bu … bukan gitu, Sayang. Maksudku bukan nggak boleh, tapi kan hari ini aku sibuk banget. Lain kali aja kamu ikutnya yah," bujuk Lingga.
Namun, Mira seketika menepis kedua tangan besar pria itu dari wajahnya.
"B*do amat! Pokonya Kakak udah nggak sayang aku lagi," gerutu Mira sambil berbalik dan berjalan menuju ke arah balkon.
Lingga menghela nafas panjang, dan mengekori wanita hamil itu. Mira nampak duduk di kursi yang ada di sana dan membuang muka, sedangkan Lingga duduk berlutut di hadapan wanitanya.
"Mommy-nya lil baby, jangan ngambek dong. Kan besok masih bisa ikut. Jangan hari ini yah. Aku takut kamu be te nunggu aku lama-lama," bujuk Lingga dengan lembut sambil meraih tangan wanita cantik itu.
"Au ah! Pokoknya aku sebel sama Kakak!" keluh Mira yang tetap tak mau mengalah.
"Hah … terus gimana dong? kamu emangnya mau nunggu aku seharian di sana?" ujar Lingga yang sedikit kesal dengan Mira.
"Ya kan aku masih bisa keliling buat lihat-lihat perusahaan kamu," sahut Mira sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Hih … gemes banget deh. Tapi kenapa dia jadi ngambekan gini sih. Bikin pusing aja, batin Lingga yang gemas dengan Mira.
"Ya udah … ya udah! Kamu boleh ikut, tapi janji nggak ngambek kalo nungguin aku kelamaan yah." Lingga akhirnya menuruti kemauan calon ibu muda itu.
"Beneran, Kak?" seru Mira dengan mata berbinar.
"Iya. Kamu siap-siap gih. Aku udah hampir telat nih," ucap Lingga.
Mira pun seketika membungkuk mendekat ke wajah Lingga dan mengecup singkat pipi pria itu.
"Makasih Kakak!" ucapnya sambil beranjak dari duduknya.
"Eh … jangan lompat-lompat gitu. Inget kandunganmu, Mir!" seru Lingga dari arah balkon.
"Iya, Kak!" sahut Mira yang sudah melesat masuk ke walk in closet.
Tak lama kemudian, Mira muncul dengan mengenakan blouse berwarna soft mocca berbahan satin, dilengkapi dengan aksen tali di lehernya. Dipadukan dengan rok hitam selutut, dan tambahan heels berwarna senada, membuat tampilan Mira terkesan begitu formal namun tetap terlihat seksi dan cantik.
"Aku sudah siap, Kak," ucap Mira saat turun ke bawah menghampiri Lingga yang sudah menunggunya di sana.
"Wah … kenapa kamu cantik banget sih. Aku jadi takut ngajak kamu ke kantor," goda Lingga yang berjalan menghampiri Mira.
"Tuh kan gitu lagi! Sebel," gerutu Mira yang mulai cemberut lagi.
"Nanti tanya ke Dokter Stella dong, aku udah boleh nengok lil baby apa belum?" bisik lingga di telinga wanitanya.
Mira memukul kecil dada Lingga.
"Nakal! Udah ah, katanya dah telat. Ayok berangkat!" ajak Mira.
Lingga pun hanya terkekeh melihat wanitanya itu tersipu malu karena perkataannya.
Mereka keluar dari apartemen, dan bersama-sama turun ke parkiran.
Tanpa mereka sadari, seseorang nampak mengintai unit mereka sedari tadi, dan kini dia terlihat meninggalkan tempatnya dan masuk ke dalam pintu keluar darurat, setelah melihat Mira dan Lingga pergi.
...💋💋💋💋💋...
Di kantor, Mira dan Lingga telah berada di ruang kantornya. Sepanjang jalan menuju ruangannya, banyak karyawan yang memandang ke arah kedua orang itu.
Banyak di antara mereka yang berbisik dan bertanya-tanya siapa sosok cantik yang ada di samping big boss mereka.
Namun seperti biasa, Mira selalu acuh dan tak mempedulikan semua omongan orang atas dirinya. Saat ini, dia hanya ingin terus berada di sisi prianya, ayah dari anak yang tengah ia kandung.
"Kamu mau minum apa?" tanya Lingga yang berjalan menuju ke kursi kerjanya.
__ADS_1
Sedangkan Mira, wanita itu duduk di sofa yang ada di seberang meja kerja Lingga.
"Ehm … nanti aku pesan delivery order aja deh. Belum pengin," ucap Mira yang memandang ke sekeliling ruang kerja pria itu.
"Oke, deh." Lingga menatap tumpukan berkas yang ada di hadapannya.
Tak berselang lama, Nicholas masuk ke dalam ruangan, dan memberitahukan atasannya untuk segera bersiap-siap.
"Maaf, Tuan. Rapat akan segera berlangsung. Anda diminta untuk segera datang ke tempat rapat," ucap Nicholas.
"Oke, lima menit lagi, Nick," sahut Lingga.
"Baik, Tuan." Nicholas pun kembali meninggalkan Lingga dan Mira berdua di dalam ruangan.
Wanita cantik itu nampak berjalan menghampiri Lingga yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Kak, aku boleh keliling-keliling buat lihat-lihat gedung ini nggak? Kayaknya tadi di sebelah sana ada taman deh," pinta Mira yang sudah berdiri di belakang Lingga sambil memijat pelan pundak prianya.
"Ehm … boleh. Perlu aku minta seseorang untuk temenin kamu nggak?" tawar Lingga.
"Nggak usah. Aku bisa sendiri kok," sahut Mira.
"Ya udah. Aku rapat dulu yah. Kalau perlu apa-apa, di depan ada sekretarisku yang lain. Minta tolong dia aja yah," pesan Lingga.
"Iya, Kak. Semangat rapatnya," ucap Mira.
"Cuma gitu?" tanya Lingga yang memutar kursinya hingga menghadap ke arah Mira. Dia meraih pinggul wanitanya dan membuat si ratu es terdorong ke depan hingga menimpa Lingga yang masih duduk.
Mira tersenyum, dan dia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Lingga. Ia memiringkan kepalanya, dan seketika menautkan bibirnya ke bibir pria di hadapanny.
Mereka pun saling mem*gut dan mel*mat bibir masing-masing. Lidah Lingga menerobos masuk dan mengundang Mira untuk ikut membelitnya.
"Ehm …," l*nguhan lirih terdengan saat tangan Lingga mulai turun dan merem*s bokong sintal wanita itu.
Ciuman mereka pun memanas. Namun, Mira menghentikan semuanya, dan memundurkan badannya.
"Sudah waktunya rapat. Aku akan tanya ke dokter Stella, apa kamu udah bisa nengokin lil baby apa belum, oke?" ucap Mira sambil mengusap sisa lipstik yang menempel di bibir Lingga.
"Oke. Aku akan bersabar demi kamu … (Lingga menoel hidung Mira) … dan lil baby," ucapnya yang kemudian mengusap lembut perut rata Mira.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁