
Keesokan harinya, Mira sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Lukanya sudah sembuh dan kondisinya pun sudah semakin membaik.
Meskipun fisiknya sudah berangsur pulih, namun dokter berpesan untuk tetap menjaga kondisi mental Mira. Karena kejadian terakhir kali, sewaktu-waktu bisa membuatnya kembali mendapat serangan panik.
Selama di rumah sakit, Lingga selalu menemani Mira, dan tak pernah sekalipun pergi dari sisinya, kecuali hari itu. Hari di mana dia harus menjelaskan semua hal tentang wanita yang tinggal bersamanya, dan aksi perkelahiannya di gudang yang ada di dekat dermaga.
“Apa semuanya sudah beres?” tanya Lingga pada Tania, yang saat itu sedang membantu wanitanya untuk berkemas.
"Sudah ku packing semua, Tuan. Sepertinya tidak ada yang tertinggal. Ku kira, Anda dan Mira mau pindah ke mari, ternyata balik ke apartemen lagi,” sindir Tania, karena melihat barang-barang Lingga dan Mira yang sangat banyak.
“Dasar cerewet,” gumam Lingga.
Pria itu kemudian keluar dan memanggil Nicholas yang tengah berbincang dengan anak buahnya.
“Nick, bawa semua barang-barang ini ke mobil mu. Aku akan pulang bersama Mira dengan mobilku sendiri,” seru Lingga.
Tania seketika menghampiri kedua pria itu dan ikut menyembulkan dirinya ke luar pintu.
“Terus aku gimana?” tanya Tania.
Dia tak mau kalau harus ditinggal di rumah sakit sendirian.
“Kamu bisa ikut saya,” sahut Nicholas.
Tania seketika mengulum senyumnya. Hal ini membuat Mira terkekeh geli melihat kelakuan rekannya itu.
“Cieeeehhhh... Ada yang mau pulang barengan nih,” goda Mira lirih saat Tania duduk di sampingnya.
“Gue mau coba pedekate sama dia lagi ah,” sahut Tania sambil cekikikan.
Mira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja mendengar ucapan dari rekan se profesinya itu.
Lingga kemudian meminta Mira untuk duduk di atas kursi roda, dan kemudian dia mendorong wanitanya hingga ke parkiran.
Sejak pertemuannya dengan ibu dan adiknya, Lingga mendadak lebih banyak diam. Sikapnya pada Mira terasa dingin, dan seperti ada sesuatu yang selalu dipikirkannya.
Mira pun merasakan hal tersebut. Meskipun pria itu masih terus mengurusnya, namun rasanya sangat berbeda. Lingga tak sehangat sebelumnya.
Ketika di dalam mobil pun, Lingga terus mengacuhkan Mira. Dia lebih memilih fokus pada jalanan, ketimbang mengajak bicara wanita yang saat ini ada di sampingnya.
Ada apa dengan mu, Kak? Apa pertemuan mu dengan Mami kemarin yang membuatmu seperti ini? Terkai Mira dalam hati.
__ADS_1
Wanita itu pun memilih diam dan tak mempertanyakannya. Dia takut akan apa yang akan diungkapkan Lingga padanya. Dia berpikir jika ibu dari pria itu, telah meminta Lingga untuk meninggalkannya yang sangat tak layak ini.
Sesampainya di apartemen, Lingga hendak menggendong Mira dan membawanya ke dalam lift. Namun, wanita itu telah lebih dulu keluar dan berjalan sendiri ke sana.
Lingga pun menyusulnya, dan merangkul pundak wanita itu.
Mira mendongak dan menatap wajah prianya. Lingga pun menundukkan pandangannya dan membuat mata kedua orang itu bertemu.
Si primadona itu mengulas senyum tipis ke arah Lingga, namun pria itu kembali memalingkan wajahnya ke depan, tanpa membalas senyumannya. Pria itu justru semakin mengeratkan rangkulannya dan mambuat Mira sulit berjalan.
Setelah tiba di apartemen, Mira duduk di ruang tamu, sambil menunggu Tania dan juga Nicholas datang dengan membawa barang-barangnya.
“Nggak istirahat di kamar aja, Mir?” tanya Lingga.
“Aku duduk di sini aja, Kak. Mau nungguin Tania. Kakak ada urusan lagi?” tanya Mira.
“Karena kamu sudah boleh pulang, aku harus kembali bekerja. Ada beberapa hal yang harus ku urus sendiri,” ucap Lingga.
Pria itu mengusap lembut puncak surai hitam Mira. Meski terasa begitu lembut, namun entah kenapa ada rasa aneh saat Lingga menyentuhnya.
Maafkan aku, Mir. Aku harus cari tahu soal foto itu, sebelum aku menanyakannya langsung padamu, batin Lingga.
Kenapa gue ngerasa kamu lagi nyebunyiin sesuatu, Kak, batin Mira.
Seperginya Lingga dan Nicholas, seperti biasa Mira dan Tania bersantai sambil bersenda gurau di depan televisi. Mereka menjadikan sofa di depan layar datar itu, sebagai kasur yang selalu dijadikan tempat ternyaman mereka di apartemen tersebut.
Meskipun Lingga sudah berpesan pada Tania, bahwa dia tidak boleh tertidur saat menemani Mira, namun ladies itu tak bisa menahan kantuknya, akibat dari kerja malam yang dia geluti.
Mira pun memaklumi hal itu, dan tidak mengadukannya kepada Lingga.
Saat Tania sudah terlelap, Mira yang ditinggal tidur pun merasa kesepian. Dia tak menikmati acara TV sama sekali dan memilih untuk mengambil ponselnya. Dia berselancar di media sosial, namun tak begitu membantu menghilangkan suntuknya, karena pertemanannya yang begitu terbatas.
“Hah... Katanya manusia itu makhluk sosial, tapi kenapa aku merasa nggak punya teman yah,” gumamnya.
Dia pun kemudian mencoba melihat daftar nama-nama yang ada di kontak ponselnya.
Hampir semua nama yang tertera di sana adalah pelanggan paradise fall yang pernah memakai jasanya, dan juga nomor para ladies yang bekerja di sana.
“Kasihan banget sih gue. Semuanya cuma kenalan doang, nggak ada yang benar-benar bisa diandelin ... kecuali.... ,” ucapannya terhenti tatkala melihat sebuah nama yang ada di daftar kontaknya.
Mira kemudian mengetikkan sesuatu di atas layar ponselnya, dan menekan tombol kirim ke nomor tersebut.
__ADS_1
Semoga dia bisa bantuin gue, batin Mira.
💋💋💋💋💋
Di tempat lain, nampak Lingga tengah duduk di sebuah caffe. Dia terlihat melirik jamnya beberapa kali sejak tadi, seolah tengah menunggu kedatangan seseorang.
Tak berselang lama, seorang pria menghampirinya, dengan membawa sebuah koper di tangannya.
“Tuan, ini koper Anda. Sesuai yang Anda katakan, jika koper ini tidak saya keluarkan saat di apartemen,” ucap sang asisten.
“Terimakasih, Nick. Bagaimana dengan tiket ke parisnya?” tanya Lingga.
Nicholas terlihat mengambil sesuatu dari balik saku jasnya, dan menyerahkannya kepada Lingga.
Terlihat sebuah tiket pesawat dengan tujuan paris, yang akan berangkat satu jam dari sekarang, serta passpor milik pria itu.
“Apa tidak sebaiknya Anda beritahukan perjalanannya Anda ini kepada Nona Mira? Takutnya, dia akan merasa khawatir, saat tahu Anda tidak pulang malam ini,” usul Nicholas.
“Tidak perlu. Sebaiknya, dia tidak usah tau aku mau ke mana dan untuk apa. Semua itu hanya akan membuatnya merasa dicurigai. Harga diri wanita itu begitu tinggi. Kalau dia sampai tau, bisa-bisa dia kabur dariku,” sahut Lingga.
“Lalu, bagaimana jawaban saya saat Nona Mira bertanya di mana Anda?” tanya Nicholas.
“Hah ... Katakan saja kalau aku menginap di kantor, dan akan pulang besok harinya,” seru Lingga.
“Baik, Tuan,” sahut Nicholas.
.
.
.
.
othor up lagi, sebenarnya cerita ini tinggal dikit lagi sih, tapi karena kejar target kemarin, jadi terbengkalai. ya ampun, maafkan othor ini🙏🤧
sambil nungguin next up, bisa coba mampir ke novel temen aku dong ya😁ceritanya bagus lho.
2
__ADS_1
jangan lupa favoritkan ya😘