
Pagi hari, mendung menggelayut, membuat mata terasa berat untuk membuka dan menatap dunia. Suasana begitu suram, sesuram hati Mira.
Wanita itu tengah duduk di depan meja riasnya, dengan pakaian serba hitam, perpaduan antara brokat dan satin. Polesan make up tipis dan lipstik berwarna peach, menghiasi wajah cantiknya hari itu.
Mira menyanggul kasar rambutnya ke atas, dengan anak rambut yang menjuntai di sisi kiri dan kanannya. Dia tak menambahkan aksesoris apapun, namun Mira tetap terlihat anggun dan cantik.
Terdengar suara ketukan dari arah luar apartemennya. Mira pun dengan malas bangkit dan berjalan, sambil menyambar tas selepang hitam bertali rantai putih yang berada di atas meja, lalu menuju ke bawah.
Ketukan kembali terdengar, dan Mira pun membukakan pintu.
Tampak di sana Lingga telah menunggunya, dengan mengenakan setelan hitam, seperti Mira. Hari ini, mereka akan menghadiri upacara pemakaman Thomas.
"Kau sudah siap?" tanya Lingga kepada Mira.
Namun, Mira tak menyahut. Wanita itu hanya berjalan keluar apartemen, dan mengunci pintunya.
Lingga lagi-lagi hanya bisa mneghembuskan nafas kasar, karena sikap Mira yang semakin sulit ia gapai. Gunung es itu telah bertambah tinggi dan kokoh.
__ADS_1
Mira berjalan mendahului Lingga, sambil mengenakan kaca mata hitamnya. Lingga pun menyusulnya, dan bediri di samping Mira, yang tengah menunggu lift datang.
Tak ada percakapan atau adu mulut seperti biasanya. Suasana sangat kaku, dingin dan muram. Tak ada lagi perdebatan bodoh di antara keduanya, tak ada lagi teriakan Mira yang kesal dengan keisengan Lingga, tak ada lagi gerutuan yang keluar dari mulut wanita cantik itu.
Lingga begitu sedih melihat Mari kecilnya seperi itu. Kehangatannya yang selama ini ia ciptakan, dan perlahan mencairkan kebekuan hati Mira, kini justru terlihat sia-sia, saat Mira kembali menutup diri, karena terus menerus menyalahkan dirinya atas kematian Thomas.
Setibanya di pemakaman, Lingga membiarkan Mira berjalan di depan, agar ia bisa menjaganya dari belekang. Mira melihat iring-iringan mobil pembawa jenazah telah sampai di sana.
Namun, ketika Mira melihat peti jenazah di bawa ke dalam area pemakaman, langkah kakinya terhenti. Dia tiba-tiba lemas, hingga limbung. Beruntung, Lingga dengan sigap menangkapnya, dan menopang tubuh lemah Mira.
"Kau baik-baik saja? Apa kita sebaiknya pulang?" tanya Lingga yang merasa khawatir kepada kondisi wanita itu.
Air matanya kembali bergulir dari balik kaca mata hitamnya.
Lingga pun menyadari hal itu. Namun, dia hanya diam dan membiarkan Mira meluapkan perasaan sedihnya terakhir kali untuk Thomas.
Hujan tiba-tiba mengguyur para pelayat yang datang. Mereka mulai membuka payung yang dibawa masing-masing.
Begitu pun Lingga, yang senantiasa menemani Mira, meski punggungnya basah terkena hujan, namun ia terus memayungi wanita di depannya, agar dia tak kehujanan.
__ADS_1
Pemakaman berjalan lancar di bawah guyuran hujan yang cukup deras. Para pelayat mulai membubarkan diri, begitu pun istri Thomas yang juga pergi meninggalkan tempat pemakaman sang suami, setelah semuanya selesai.
Saat telah sepi, Mira berjalan menembus hujan, sambil tetap dipayungi oleh Lingga dari belekangnya. Ia mendekati makam Thomas yang masih terlihat sangat baru.
Mira bediri di sampingnya, dan membuka kaca mata hitamnya.
"Hai, Thom. Apa kamu senang di sini? Aku harap kau bahagia di alam baru mu. Aku akan tetap lanjutkan hidupku, meski tidak ada lagi orang yang peduli padaku seperti dirimu," ucapnya.
"Aku janji, akan selalu peduli pada mu, Mir. Aku janji atas nama Thomas," batin Lingga yang terasa perih mendengar penuturan Mira barusan.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1