Mirage

Mirage
Kekhawatiran Lingga


__ADS_3

Flash back on


Saat Mira berada di kantor Lingga, dia merasa jenuh menunggu prianya yang sedang mengikuti rapat dewan direksi, yang membahas tentang pengajuan dana untuk pembangunan proyek Eropanya.


Dia pun kemudian keluar dan berjalan berkeliling di sekitar ruang kerja pimpinan perusahaan tersebut.


"Maaf, Nona. Anda mau ke mana?" tanya seorang wanita yang berada di depan ruang kerja Lingga.


"Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar," sahut Mira datar, seperti gayanya yang biasa.


"Apa mau saya temani?" tawar wanita itu.


"Tidak usah. Aku bisa sendiri. Terimakasih," ucap Mira yang kemudian berlalu pergi.


Mira nampak berjalan ke arah lift, namun matanya menangkap sebuah cahaya yang ada di ujung lorong.


Dia pun mengurungkan niatnya untuk turun ke bawah, dan memilih untuk melihat apa yang ada di ujung sana.


Langkahnya terhenti, saat dia melihat sebuah pintu keluar yang terbuka sedikit. Dia pun kemudian membukanya, dan betapa terpesonannya dia saat melihat hamparan taman bunga yang indah di hadapannya.


"Wah … kenapa tempat sebagus ini bisa ada di sini?" gumam Mira.


Dia pun kemudian melangkah masuk ke dalam area taman rooftop tersebut. Mira tak menutup kembali pintunya, melainkan membiarkannya terbuka sedikit.


Dia tak sadar, jika ada seseorang yang mengintainya sedari tadi, dan mendekat ke arah pintu yang menuju ke taman tersebut.


Mira pun duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana. Saat dia sedang menikmati susana taman bunga yang begitu memesonanya, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang berada di balik pintu yang terbuka sedikit itu.


"Kayak ada orang?" gumamnya.


Mira pun memicingkan matanya dan mencoba melihat siapa yang sedang bersembunyi di balik pintu sana, dan mengawasinya sedari tadi.


"Apa si sekretaris tadi?" gumam Mira.


Dia pun berjalan menghampiri orang tersebut.


Namun, saat Mira baru beberapa langkah mendekat, orang itu nampak menyeringai dan membuat langkah Mira terhenti.


Sosok misterius itu pun pergi meninggalkan tempatnya, dan menghilang begitu saja meninggalkan Mira yang berdiri mematung.


Hembusan angin menyadarkan Mira, dan seolah menghentikan sihir yang diciptakan sosok misterius tadi pada dirinya. Wanita itu pun mengusap-usap lengannya yang terasa dingin.


"Sebaiknya, aku nunggu di dalam ruangan Kak Arya aja lah," ucap Mira pada dirinya sendiri.


Dia pun lalu pergi meninggalkan taman yang indah itu, dan berjalan kembali menuju ruang kerja pimpinan Shine group yang berada di ujung sebaliknya.


Sesampainya di ruangan, Mira duduk di sofa. Namun, rasa kantuk mulai menyerangnya. Dia pun berbaring di sofa dan tertidur, hingga mimpi buruknya datang menghampirinya, bahkan hingga saat ini.


Flash back off

__ADS_1


...💋💋💋💋💋...


"Mira," panggil Lingga lirih saat merasakan wanitanya memeluk dengan tubuh yang kembali gemetar.


Dia pun meletakkan spatula yang tengah di pegangnya, lalu kemudian berbalik menghadap ke arah wanita itu. Lingga menangkup kedua pipi si ratu es, dan kembali melihat ekspresi ketakutan serta cemas di wajah cantik itu. Mata Mira terus bergerak ke kanan dan kiri tak beraturan.


"Dia kembali … dia kembali, Kak … dia kembali! Aku takut!" Seru Mira yang semakin membuat Lingga cemas, terlebih air matanya yang mulai mengalir dengan derasnya.


"Siapa yang kembali? Kamu takut sama siapa?" tanya Lingga yang begitu khawatir dengan wanitanya itu.


"Dia … dia kembali … aku takut …," racau Mira yang menatap kosong ke arah Lingga.


"Tenanglah! Ada aku di sini, hem." Lingga mendekap wanitanya erat.


Makan malam mereka pun gagal, karena Mira yang kembali ketakutan. Lingga memilih untuk membawa wanitanya kembali ke kamar.


Pria itu terus mendekap wanitanya, hingga Mira berangsur-angsur terlelap.


Apa yag sebenarnya kau takutkan, Mir? tanya Lingga dalam hati, saat memandangi Mira yang telah lelap.


Keesokan paginya, Lingga terbangun karena cahaya mentari masuk begitu terik ke dalam kamar tidur.


Dia pun berbalik hendak bersembunyi dari silaunya sang surya, tapi seketika itu Lingga membuka mata, saat menyadari jika di sampingnya tak ada siapapun.


"Mir," gumamnya lirih.


Dia pun duduk dan mengedarkan pandangannya. Lingga melihat jika pintu balkonya terbuka lebar.


Dia pun meregangkan ototnya sambil beranjak dari tempat tidur. Ia melakukan gerakan mematahkan leher untuk mengurangi rasa pegal pada bagian tersebut.


Lingga berjalan mendekat dan keluar menuju balkon. Helaan nafas terdengar begitu melegakan saat dia melihat wanitanya berada di sana.


Mira tengah duduk tenang, dengan kedua kaki yang terangkat ke atas. Wanita itu tampak memeluk kedua lututnya yang menekuk di depan dadanya.


Lingga berjalan kembali ke dalam, dan mengambil selimut yang ada di atas ranjang. Ia kemudai balik lagi ke balkon, dan perlahan menghampiri Mira.


"Lagi ngapain sih? Dingin lho, ntar kamu masuk angin gimana?" ucap Lingga sambil menyelimuti tubuh Mira, yang hanya mengenakan kaus oblong milik Lingga, dan sebuah underwear tipis.


Mira menoleh dan tersenyum tipis ke arah pria itu.


"Cuma pengin duduk di sini aja kok, Kak," sahut Mira.


Lingga pun duduk berlutut di depan Mira, karena di balkon itu hanya terdapat sebuah kursi yang sudah di duduki oleh mira.


"Sepertinya, aku perlu tambah satu kursi lagi di sini, supaya kita bisa duduk sambil menikmati suasana pagi atau sore bersama," ucap Lingga.


Mira hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan prianya. Dia lalu menurunkan kakinya dan berdiri.


"Kakak duduklah di atas," ujar Mira yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


"Ehm … terus kamu mau ke mana?" tanya Lingga yang bingung denga perkataan Mira.


"Aku ya mau duduk juga. Kakak kan bisa pangku aku kan," jawab Mira.


Lingga pun tersenyum. Dia mengerti maksud Mira dan bangkit dari posisinya. Pria itu kemudian duduk di kursi yang tadi ditempati si ratu es.


"Baiklah. Sekarang, sini duduk," ucap Lingga sambil menepuk-nepuk kedua pahanya.


Mira pun duduk menyamping di atas pangkuan pria itu. Lingga meraih selimut yang masih dipegang Mira, dan menutupi tubuhnya serta Mira dengan selimut itu, sambil memeluk wanitanya.


"Ehm … hangatnya," gumam Mira.


Dia merebahkan kepalanya di dada bidang Lingga, sambil memejamkan matanya, meresapi setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya.


"Mir," panggil Lingga.


"Ehm … kenapa, Kak?" sahut Mira yang masih memejamkan matanya.


"Apa kamu nggak mau cerita sama aku, soal kejadian semalam?" tanya Lingga yang begitu penasaran dengan apa yang dialami oleh Mira, hingga membuatnya ketakutan setengah mati.


"Ehm … hanya masa lalu. Mimpi yang biasa datang dulu, Kak. Tidak penting," jawab Mira.


Tanpa sadar, tangannya merangkul lengan Lingga dengan erat. Pria itu semakin merasa jika wanitanya tidak sedang baik-baik saja.


"Apa kamu yakin?" tanya Lingga menyelidik.


"Ehm … aku yakin kok," sahut Mira yang masih enggan membuka matanya, tapi justru semakin merapatkan keduanya.


"Lalu, kenapa kamu terus mengatakan kalau 'dia' sudah kembali? Memang siapa 'dia'? Dan kembali dari mana?" tanya Lingga yang semakin penasaran.


Seketika, Mira membuka matanya. Dia kembali teringat dengan sosok yang mirip Erik, yang mengawasinya saat berada di taman rooftop kantor Lingga.


Tanpa terasa, rangkulannya berubah menjadi cengkeraman yang membuat Lingga merasa kesakitan.


.


.


.


.


Guys, sambil nungguin next ep, coba mampir ke karya pertama ku yuk🤭 udah tamat lho😊




Seperti biasa, Nyai up lagi siangan klo sempet🤭semoga sempet, sambil nunggu, sok meluncur atuh ke novel diatas😁

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2