
"Kak, kamu apa kabar?" tanya Mira saat dia dan Mia telah berada di sebuah caffe yang terletak di dalam mall.
"Aku baik, Mir. Kamu sendiri? Oh, iya. Aku turut berduka atas meninggalnya Thomas yah," ucap Mia sambil menepuk-nepuk punggung tangan Mira.
"Trimakasih, Kak. Tapi, aku udah nggak papa kok sekarang," sahut Mira.
"Iya sih. Kelihatan banget kalo kamu lagi seneng. Ada kabar apa nih?" tanya Mia.
"Nggak ada yang spesial, kok. Biasa aja, Kak," jawab Mira.
Seorang pelayan datang mendekati mereka berdua dan mengeluarkan buku menu.
"Permisi. Silakan, mau pesan apa?" ucapnya.
Mira dan Mira lalu melihat-lihat isi di daftar menu.
"Aku makaroni skotel, sama es kapucino aja. Kakak apa?" ucap Mira pada si pelayan dan bertanya kepada Mia.
"Ehm … aku samain aja deh," sahutnya yang kemudian melipat buku menunya.
"Baik. Dua makaroni skotel dan dua es kapucino. Ada lagi?" seru Si pelayan.
"Cukup. Itu saja," kata Mira.
"Baik. Tunggu sebentar." pelayan itu pun lalu pergi meninggalkan mereka berdua lagi.
"Oh iya, Kak. Kakak ipar kelihatannya baik banget ya sama kakak dan Joy. Kakak pasti bahagia banget bisa hidup sama pria kaya dia," ucap Mira.
__ADS_1
"Yah begitulah, Mir. Meski awalnya nggak mudah, dan sulit sekali mendapat restu dari orang tuanya karena pekerjaanku dulu, tapi seiring berjalannya waktu, kita bisa lalui semua itu sama-sama. Aku beruntung banget bisa ketemu pria sebaik dia," tutur Mia dengan mata yang tampak berbinar kala menceritakan perjuangan dirinya dan sang suami.
"Sesulit itu kah penerimaan orang tentang latar belakang kita, Kak?" taya Mira yang terdengar sendu.
"Mir, emang kamu ada rencana mau nikah?" tanya Mia balik.
"Eh … nggak … nggak kok, Kak. Hehehe …," jawab Mira kikuk.
Saat itu, pelayan datang membawakan pesanan mereka. Setelah meletakkan semuanya di meja, dia pun kembali pergi.
Mia masih terus melihat raut wajah Mira yang dinilainya aneh, dan tak biasa. Walau sudah tak bertemu lama, tapi Mia sangat mengenal bagaiman sikap Mira, karena dialah orang yang membantu Mira bangkit setelah kejadian malam itu dengan Thomas
"Apa udah ada calonnya?" tanya Mia lagi yang semakin penasaran dengan ekspresi Mira, yang tiba-tiba terlihat sedih dan kecewa saat dirinya menjelaskan perjuangan cintanya dengan sang suami.
"Ehm … gimana ya, Kak. Dia pria yang baik, untuk sekarang aku bisa bilang begitu. Tapi, aku belum berani main perasaan di sini. Bukannya dalam profesi kita, hal itu sangat dilarang," tutur Mira yang memainkan ujung sedotan di dalam gelasnya.
"Mir. Kita ini cuma manusia biasa. Meskipun kita dilarang pake perasaan, tapi kalau cinta udah dateng, kita bisa apa? Nggak ada salahnya jatuh cinta kok, Mir. Kalau emang dia baik, kenapa nggak?" ujar Mia melihat juniornya tengah terlihat gundah itu.
"Mir. Kita lagi bahas cinta lho. Kenapa tiba-tiba sakit hati?" kata Mia.
"Bukannya cinta itu dekat dengan luka, sakit hati? Kalau kita mencintai, berarti kita siap disakiti. Bukannya begitu?" ucap Mira.
"Mira. Kamu lihat kakak kan. Bagaimana aku dulu jatuh cinta pada kakak iparmu? Bagaimana aku berusaha keluar dari tempat Mom Winda, dan bagaimana akhirnya kami bisa sama-sama? kamu tau semuakan?"
"Terkadang, yang orang bilang cinta nggak ada logika, itu memang benar adanya. Meskipun terasa sakit, namun jika kita lakukan demi orang yang kita cintai, akan terasa setimpal. Kamu akan tau sendiri nanti jika sudah tiba saatnya," tutur Mia kepada Mira.
"Yah, mungkin nanti," ucapnya dengan pandangan menerawang.
__ADS_1
"Siapa aku dan siapa dia? Hal itulah yang membuatku ragu, Kak. Jarak kami sangat jauh, jauh berbeda," batin Mira.
Terdengar helaan nafas berat dari wanita cantik itu.
Setelah selesai melepas rindu dengan sang seniornya, Mira pun kini mengantarkan Mia untuk menemui suami dan anaknya di area bermain anak.
"Kakak ipar, nih aku balikin lagi kak Mianya," ucap Mira kepada suami temannya itu.
Pria itu hanya tersenyum ramah ke arah Mira.
"Oh iya, Mir. Aku dan suamiku sekarang buka kedai kopi kecil-kecilan. Kapan-kapan kamu mampir yah. Ini alamatnya," ucap Mia sambil menyerahkan selembar kartu nama kepada Mira.
"Oke, Kak. Nanti aku mampir ke sana. Aku pulang dulu yah … bye, Joy. Tante pulang dulu yah," ucap Mira kepada pasangan tersebut dan anak kecil yang berada di gendongan sang ayah.
"Hati-hati, Tante Mira. Papay," sahut Joy sambil melambaikan tangannya.
.
.
.
.
Nyai, uripmu kakehan galoooonnnnnn😅
Mira : galau woi... galau🤨
__ADS_1
😅😅😅😅😅
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁