
Tangan kiri Lingga menumpu tubuhnya, sedangkan tangan kanannya terus membelai lembut wajah Mira yang berada di bawahnya.
Pagutan mereka pun semakin liar seiring nafas yang berkejaran. Hangat tubuh Mira yang hanya terbalut bath robe dan kini mulai terbuka, berkeseskan dengan Lingga yang juga bertela*njang dada.
Geleyar-geleyar gair*ah mulai muncul, dan semakin membuat mereka hanyut dan terbuai.
Tangan Lingga mulai membuka tali bath robe yang dipakai Mira, dan memampangkan keindahan wanita itu di depan matanya.
Lingga semakin dalam menyesap dan mereguk manisnya bibir Mira, sambil tangannya mere*mas bulatan sintal di dada wanita itu.
"Ehm …,"
Lenguhan mulai terdengar dari bibir Mira yang masih dibungkam dengan kelincahan lidah Lingga.
Pria itu terus mere*mas mainannya dan memelintir puncaknya hingga Mira merintih-rintih. Tak puas sampai di situ, Lingga mulai turun menyusuri leher jenjang Mira dengan bibir dan sesekali menjilatinya hingga Mira semakin mengeluarkan suara-suara indahnya.
"Aaaaahhhh … kak …,"
Pria itu mulai menyesap ujung merah muda yang terpampang di depannya, dan dengan nakal mulai menariknya dengan bibir, hingga Mira semakin mengelinjang.
Semakin lama, has*rat mereka semakin memuncak dan menginginkan lebih. Mata mereka semakin sayu dan berkabut, solah mendamba hal yang lebih lagi.
Lingga mulai turun dari ranjang, dan hendak membuka celananya,
"Aaarrrghhh … ****!" Lingga tiba-tiba memekik kesakitan dan mengumpat.
Mira yang terkejut pun bangun dengan kedua lengan yang menumpu tubuhnya ke belakang.
__ADS_1
"Anda kenapa?" tanya Mira dengan wajah yang sudah memerah dan mata yang sayu.
Lingga terlihat sedang memegangi pergelangan kakinya yang kembali terasa sakit karena ia menjejakkanya di lantai begitu saja.
"Ppfffttt … Pppfffttt … hahaha … hahaha …," tiba-tiba tawa Mira pecah melihat pria di hadapannya itu kesakitan karena ulahnya sendiri.
Dia pun kemudian duduk bersila di atas kasur sambil membetulkan bathrobe-nya yang telah terbuka lebar.
Sedangkan Lingga yang tadi sempat kesal, kini justru ikut tertawa melihat Mira yang tertawa begitu lepas. Has*ratnya turun seketika, dan dia pun tak lagi menginginkan hal panas itu.
"Tak apa aku terlihat konyol, asalkan kamu bisa tertawa lagi, Mari," batin Lingga.
Dan mereka pun saling menertawakan diri mereka yang gagal bercinta karena Lingga yang mengaduh kesakitan, karena lupa jika kakinya sedang cedera.
Puas tertawa hingga perut mereka sakit. Kini keduanya tengah berada di atas ranjang dengan Mira yang bersandar di head board, dan Lingga yang memilih tidur telungkup dengan sebuah bantal yang berada di bawah dadanya.
"Apa tidak sebaiknya Anda memanggil dokter untuk memeriksa luka Anda?" tanya Mira.
Lingga mendongak dan menatap wajah Mira lekat-lekat.
"Aku heran padamu," ucap Lingga tiba-tiba.
Mira mengernyitkan keningnya.
"Heran kenapa?" tanya Mira penasaran.
"Kenapa kau selalu memanggilku dengan panggilan kak, kalau kita sedang bercinta saja?" tanya Lingga yang membuat Mira meng*lum bibirnya rapat-rapat.
__ADS_1
Sedangkan Lingga terus menatapnya, sambil menunggu jawaban dari wanita itu.
"Ehm … kenapa Anda malah balik bertanya? Jawab dulu perkataanku sebelumnya," ucap Mira yang terlihat bersemu.
Lingga tersenyum tipis melihat hal langka itu.
"Baiklah. Aku akan memanggilnya untuk mengobati lukaku agar cepat sembuh." Lingga bangkit duduk dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas.
"Setelah itu, akan kuhukum kau, karena sudah mengurung diri selama berhari-hari dan membuatku khawatir setengah mati," ucapnya sambil mengerlingkan sebelah matanya ke arah Mira.
"Semoga Anda beruntung … Tu … an," ucap Mira menantang.
Lingga pun seketika menerkam Mira yang masih berada di hadapannya, dan membuat keduanya jatuh dan terbaring. Lingga terus menggelitiki wanita itu hingga Mira tertawa terpingkal-pingkal.
"Hentikan … hahahaha … ampun, Kak … hahahahah …," teriak Mira di sela tawanya.
.
.
.
.
next eps besok ya😊
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1