Mirage

Mirage
Berkunjung


__ADS_3

Selepas sarapan yang penuh canda tawa, kini mereka telah berada di dalam perjalanan menuju ke kedai milik Mia, senior Mira di paradise fall.


"Mir. Mia ini temenmu di mana?" tanya Lingga tiba-tiba saat mereka tengah melintas di jalanan.


"Oh … Kak Mia itu kayak senior aku gitu Kak, di tempatnya Mom Winda," jawab Mira dengan santainya.


"Jadi, dia l*nte insyaf?" seloroh Lingga.


Dia pun langsung mendapat cubitan yang cukuo keras di perut dari Mira, karena perkataanya tadi.


"Aaawwww … sakit, Mir!" keluh Lingga.


"Habisnya Kakak ngomongnya gitu banget. Nggak inget apa kalau aku juga sama kayak dia," gerutu Mira.


Wanita itu kemudian melipat kedua lengannya di depan dada, dan membuang pandangannya ke luar jendela.


Aduh! Salah ngomong. Lagian, biasanya juga dia nggak papa kalau ku singgung masalah kerjaannya. Kenapa sekarang jadi sensitif banget gini sih? heran, gerutu Lingga dalam hati.


Pria itu kemudian mengulurkan tangannya dan meraih sebelah tangan Mira yang masih terlipat.


"Maaf, Sayang. Aku nggak bermaksud nyinggung kamu, Kok. Beneran deh," bujuk Lingga.


"Hem …," Mira menepis tangan Lingga dan kembali membuang muka.


Hah … jadi ngambekan gini juga lagi. Haduh, Mir, batin Lingga kesal.


"Sayang, maaf yah. Yang aku maksud bukan kamu kok. Aku juga nggak sengaja ngomong gitu. Udah dong. Masa kita mau ke sana, tapi kamunya cemberut gitu. Kan nggak enak sama temenmu nanti," bujuk Lingga lagi.


"Tapi aku nggak suka kamu ngomong kaya tadi, Kak," ketus Mira.


"Iya … iya. Aku minta maaf. Janji deh nggak ngomong kayak gitu lagi, hem," ucap Lingga.


Pria itu pun kembali meraih tangan Mira, dan mengecup pungung tangannya, sembari dia sibuk mengemudi.


"Beneran, janji nggak ngomong gitu lagi," rengek Mira.


"Iya Mommy-nya lil babby," sahut Lingga.


Pria itu pun melepas tangan Mira dan beralih mengusap puncak kepala wanitanya.


Suasana pun kembali ceria. Mira dan Lingga kembali berbincang-bincang, bercanda dan saling mengolok. Kebersamaan yang pernah terlewatkan begitu saja, karena Lingga yang meninggalkan Mira di masa lau.


Andai saja sejak dulu aku tetap di sampingmu, pasti sekarang kau sudah benar-benar menjadi milikku, Mir, batin Lingga.


Tak lama kemudian, sebuah panggilan masuk ke ponsel Lingga.


"Nicholas?" gumam pria itu saat melihat nama yang tertera di layar.


"Kenapa nggak diangkat, Kak? Dari Nick tuh. Kali aja penting," seru Mira saat ikut melihat nama si penelepon.


Lingga pun memasang hands free ke telinganya, dan menggeser tombol hijau ke kanan.

__ADS_1


"Halo, Nick. Ada apa?" tanya Lingga.


"Maaf, Tuan. Tapi ada masalah penting yang harus ditangani langsung oleh Anda," tutur Nicholas dari seberang.


Lingga nampak mengerutkan keningnya, sambil menoleh sekilas ke arah Mira yang juga memandangi dirinya sedari tadi.


"Apa tidak bisa kau handle dulu?" tanya Lingga memastikan.


"Maaf, Tuan. Ini tentang anggaran yang akan kita ajukan ke rapat dewan. Ada beberapa yang ingin mendengar langsung presentasi dari Anda sebelum rapat dimulai minggu depan," papar Nicholas.


"Hah …," terdengar helaan napas panjag dari mulut pria itu.


Mira yang melihat pun, seolah tahu jika prianya harus segera pergi karena ada situasi darurat. Dia pun mengulurkan tangannya dan mengusap lembut pundak Lingga.


Pria itu menoleh dan melihat senyum manis dengan tatapan teduh yang begitu menenangkan hatinya.


"Kalau mendesak banget, mending Kakak pergi saja. Wku nggak papa kok," seru Mira.


"Maaf yah," ucap Lingga.


Mira tak menyahut lagi. Wanita itu hanya tersenyum dengan tatapan yang begitu lembut.


"Kapan waktu pertemuannya?" tanya Lingga.


"Satu jam dari sekarang, Tuan," sahut Nicholas dari seberang.


"Oke, aku ke sana sekarang." Lingga pun segera memutus sambungan dan melepas alat yang menempel di telinganya.


"Maaf yah. Aku nggak bisa temenin kamu," ucap Lingga yang merasa bersalah.


"Nggak papa kok. lain kali kan masih bisa," sahut Mira.


Tak lama kemudian, mereka pun tiba di depan kedai milik Mia.


"Aku akan selesaikan urusanku secepatnya. Setelah itu, aku akan menjemputmu lagi di sini yah," pesan Lingga.


"Iya, Kak. Ya udah, aku keluar dulu ya," pamit Mira.


Wanita itu pun meraih tas yang ada di pangkuannya dan hendak membuka pintu mobil. Namun, Lingga menarik lengan Mira hingga si ratu es pun menoleh.


Lingga mengecup sekilas bibir merah wanitanya, dan beralih ke kening Mira.


"Have a nice day," ucap Lingga.


"You too," sahut Mira.


Wanita itu pun keluar dari mobil, dan berdiri di samping kendaraan roda empat berwarna putih tersebut. Saat Lingga melajukan kembali mobilnya, Mira pun melambaikan tangan hingga pria itu menjauh.


Seseorang nampak keluar dari dalam kedai, dan berjalan menghampiri Mira yang masih betah berdiri di tepi jalan, memandangi Lingga yang sudah tak terlihat.


"Mir," panggil orang yang tak lain adalah si pemilik kedai, Mia.

__ADS_1


Mira pun menoleh, dan senyumnya mengembang seketika, saat melihat orang yang sudah seperti kakak baginya berjalan menghampirinya


"Kak, Mia!" sahut Mira.


Keduanya pun saling berpelukan, seraya melepas rindu di antara keduanya.


"Kakak apa kabar?" tanya Mira selepas pelukan mereka terurai.


"Baik. Kamu tadi dianter sama siapa?" tanya Mia menyelidik.


"Ehm … itu …," jawab Mira ragu.


"Orang itu kah?" tanya Mia yang mengacu pada pembicaraannya tempo hari, saat mereka bertemu di sebuah mall.


"Ah … apaan sih Kakak," jawab Mira tersipu.


"Kenapa nggak diajak sekalian?" tanya Mia.


"Dia sibuk, Kak. Udah ah … aku nggak diajak masuk nih?" keluh Mira yang mengalihkan pembicaraan.


"Lupa. Hehehe … gara-gara keasikan introgasi kamu, Mir." Mia pun merangkul Mira dan berjalan masuk menuju ke dalam kedai.


Mira disambut oleh suami dan juga putri Mia, Joy. Gadis kecil itu begitu lengket dengan Mira meski mereka baru dua kali ini bertemu.


"Udah cocok lho, Mir," ucap suami Mia.


"Ah, Kakak ipar bisa aja." Mira pun tersipu.


Mia sedari tadi terus memperhatikan perbedaan sikap Mira yang dia kenal dulu dan sekarang.


Sepertinya, kamu sekarang jauh lebih ceria, Mir. Aku harap, pria itu benar-benar tulus padamu, batin Mia.


.


.


.


.


Next eps, besok ya😊


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


sambil nunggu besok, mampir ke novel baru aku yuk



itu dia judulnya😁tenang, di sini nggak ada pelakornya, justru si karakter utama cewenya ituah pelakornya🤭


Mau tak kek gimana nasib pelakor yang teranianya nggak??? Dengan berbagai caci maki dan hinaan dari masyarakat?

__ADS_1


Yuk cus meluncur ke pencarian😘


__ADS_2