
“Elu kapan?” tanya Mira.
“Jangan tanya gue. Gue masih takut,” sahut Tania cepat.
“Masih ragu? Bukannya Nick udah ngelamar elu waktu itu? Kenapa elu belum mau terima?” tanya Mira lagi.
Tania diam. Dia ragu jika harus berkomitmen dengan seseorang.
Mira meraih tangan Tania dan menuntunnya agar duduk di sampingnya.
“Puk, gue juga dulu sama kek elu. Ragu kalau harus jatuh cinta pada seorang pria. Gue paham banget apa yang elu rasai. Tapi asal elu tau, itu semua cuma karena kerjaan kita dulu yang selalu berhubungan dengan pria brengsek, yang kebanyakan justru sudah memiliki pasangan. Tapi, percaya deh, ada waktunya kita ketemu sama orang yang benar-benar peduli sama kita.”
“Lu lihat gue. Ada Kak Arya yang mau nerima gue, sayang sama gue, peduli dan perhatian banget sama gue. Keluarganya pun begitu. Gue yakin, Nick juga begitu ke elu. Kalau nggak, dia nggak bakalan ngajakin elu buat ikut dia ke sini,” tutur Mira panjang lebar.
Tania diam, namun seutas senyum terbit dari bibirnya.
“Mungkin lu bener, Mok. Gue aja yang terlalu takut betkomitmen,” sahut Tania.
...💋💋💋💋💋...
Acara pun dimulai. Peragaan busana yang mengusung tema Musim semi yang ceria, namun tetap dengan sentuhan glamor, dibawakan oleh beberapa model profesional.
Tania akan menjadi model yang mengenakan setelan utama dari peragaan tersebut, dan menyerahkan buket bunga kepada designer-nya.
Semua model berjalan melenggak lenggok di atas cat walk, membawakan busana rancangan Mira selama satu musim ini. Puluhan baju di pamerkan di sana.
Kondisi belakang panggung begitu sibuk dengan para model dan kru yang harus bertindak cepat, mengganti pakaian yang akan di bawakan masing-masing model selanjutnya.
Hingga tibalah di penghujung acara, di mana semua model berjejer di atas panggung, dan Mira berjalan di tengahnya hingga ke ujung depan.
Mira mengucapkan terimakasih banyak kepada semua hadirin yang datang ke acara tersebut.
Tania kemudian berjalan ke depan untuk menghampiri temannya, dan memberikan buket bunga kepada perancang busana itu. Konfeti pun turun seiring tepuk tangan yang terdengar riuh di tempat acara.
Namun Tiba-tiba, lampu mendadak mati dan membuat semuanya pun terkejut. Tak berselang lama, sebuah lampu sorot, menyinari Tania yang berada di ujung depan panggung dan pintu masuk yang ada di belakang.
Wanita itu bingung dengan situasi ini. Dia mencoba meraih-raih sesuatu di samping. Dia mengira jia sahabatnya masih berada di sana, tapi ternyata, dia sedang sendirian di atas panggung itu. Musik kembali mengalun dengan lembut.
Tania pun semakin bingung. Matanya seketika membulat, saat melihat sosok yang muncul dari balik pintu.
“Nick!” gummanya.
Pria itu muncul dengan setelan berwarna senada dengan pakaian yang dikenakan olehnya. Memegang sebuah microphone dan menyajikan sebuah lagu berjudul beauty in white.
__ADS_1
Hati Tania seakan ingin melompat keluar melihat prianya yang tiba-tiba muncul dengan sebuah lagu indah, yang menyiratkan niat untuk menjadikannya seorang pengantin, yang akan menemani Hari-hari pria itu kelak.
Sebuah lamaran, yang disampaikan melalui lantunan lirik indah penuh makna. Tanpa terasa, mata Tania berkaca-kaca. Dadanya begitu terasa sesak karena merasakan keharuan yang teramat.
Dia sekuat hati menahan agar dirinya tak menangis. Tangannya membekap mulutnya erat.
Nicholas berjalan semakin mendekat ke arahnya, seiring lagu yang hampir usai. Lampu pun menyala dan terlihat jika panggung telah sepi. Hanya ada Tania dan Nicholas.
Saat tiba di hadapan sang kekasih, Nicholas meraih tangan wanitanya dan menggenggamnya erat.
“Tania, aku tau kalau selama ini sudah begitu kaku. Bahkan, saat pertama kali kamu mendekatiku, aku sama sekali tak peduli dan acuh,” ucap Nicholas.
Tania terus diam dengan mulut yang terus terbekap. Alunan musik romantis terus mengalun, seiring degupan jantungnya yang semakin tak bisa terkontrol.
“Aku mengira, kamu adalah wanita paling cerewet dan merepotkan yang pernah ku temui. Tapi lucunya, aku justru merasa sepi saat kamu nggak ada disekitarku. Saat itulah aku sadar, jika aku sudah terpikat oleh mu.”
“Kamu wanita pertama, yang mampu melunakkan hatiku yang kaku. Kamu adalah satu-satunya wanita yang mampu membuat emosiku naik turun karena kelakuanmu yang bar-bar.”
“Meski sudah beberapa kali ditolak, namun aku tak akan menyerah. Aku akan terus meyakinkanmu, bahwa aku berbeda dari pria yang pernah kamu temui dulu.”
Setetes bening luruh ke pipinya, mendengar semua perkataan Nicholas. Dia tak menyangka jika pria itu akan kembali melamarnya, bahkan di depan umum seperti ini.
Nicholas kemudian mengambil sesuatu dari saku jasnya, dan berlutut di hadapan sang kekasih.
Dia membuka kotak beludru merah hati, dan terlihatlah sebuah cincin berlian di dalamnya. Semua yang hadir bersorak melihat adegan yang sangat romantis ini.
“Tania, kali ini aku akan melamar mu di depan semua orang yang ada di sini, dan ini bukan yang terakhir meski kamu akan menolak juga.”
Dadanya benar-benar sesak seakan ingin meledak. Air matanya terus mengalir dan membasahi pipinya yang merah.
“Jadilah istriku. Temani aku. Lengkapi diriku yang tak sempurna ini. Will you marry me?” tanya Nicholas.
“Terima, Puk!” teriak Mira yang ternyata sudah berada di bawah panggung bersama dengan suaminya.
Tania menoleh ke arah sahabatnya itu. Mira mengangguk ke arah temannya seolah tengah memberikan dukungan, agar Tania meyakinkan hatinya akan keseriusan pria yang berada di atas panggung tersebut.
Apa ini saatnya aku melabuhkan hati? batin Tania.
Wanita itu kembali menoleh melihat ke arah Nicholas. Dia menatap mata coklat keabuan itu dengan lekat, seakan mencari kebohongan di matanya.
Namun, terlihat jika pria itu begitu berharap padanya. Ketulusan seolah terpancar dari mata manusia kayu itu. Bahkan, lapisan bening mulai tampak di sana, membuat Tania tersentuh.
__ADS_1
Dengan sedikit canggung, Tania pun mengangguk dengan sebuah senyum manis yang menghias di bibirnya.
“Yes, I do. I will marry you Nick,” sahut Tania.
Semua bertepuk tangan, dan taburan bunga mawar turun di atas panggung penuh cinta itu, ketika Tania menyatakan bersedia menikah dengan Nicholas, kekasihnya.
Mira pun memeluk erat snag suami, seolah ikut merasakan kebahagiaan temannya itu.
"So sweet," seru Mira.
Lingga semakin mengeratkan dekapannya di tubuh sang istri.
"Nanti aku bikinin yang lebih so sweet buat kamu," sahut Lingga.
"Ehm, nggak usah. Cukup jadi suami dan Dady yang baik aja. Lagian juga udah telat lima tahun yang lalu," ucap Mira.
"Sebenernya, dulu aku mau kasih kamu kejutan. Cuma gara-gara kamu pake acara mau kabur, jadi nggak jadi deh," ungkap Lingga.
"Ya udah lah. Yang penting sekarang kita udah bahagia kan," sahut Mira.
"Kamu benar, Mir. Kita sudah bahagia. I love you, Sweetie," ucap Lingga.
Mira mendongak menatap lekat wajah pria yang telah menemaninya lebih dari lima tahun ini, dan berharap agar bisa selamanya bersama.
Sebuah ciuman mendarat di bibir Mira. Terasa lembut dan dalam. Hanya sebentar, dan mereka pun mengurainya.
"Love you, too," sahut Mira yang kembali memeluk suaminya itu.
Malam itu, menjadi malam yang benar-benar romantis di kota romantis, untuk kedua pasangan yang sangat romantis.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1