Mirage

Mirage
Sirine ambulance


__ADS_3

Sirine terdengar meraung-raung, seiring dengan lampu rorator yang terus berputar, di atas sebuah van ambulan yang saat itu tengah membelah jalanan ibu kota di malam hari, dan membuat kehebohan di jalan raya.


Nampak seorang wanita terbujur di atas tandu dengan tubuh bersimbah darah. Seorang pria yang duduk di sampingnya, terus menggenggam erat tangan wanita itu, dengan wajah yang begitu pucat.


"Kuatlah. Aku mohon, kuat lah," ucap pria itu.


...💋💋💋💋💋...


Bebebepa saat yang lalu, di sebuah gudang tua, terjadi pertempuran antara anak buah Nicholas dan anak buah Soraya, yang berakhir dengan terdesaknya Soraya.


Berkat kelicikan Erik, janda Thomas itu mampu membalikkan keadaan, dan membuat Lingga terluka parah dengan beberapa sayatan di tubuhnya dan sebuah luka tembak di kaki.


Saat Erik berhasil dikalahkan, Soraya maju dan membidikkan senjata ke arah Lingga. Namun, belum sempat wanita itu melepas pelatuknya, Mira yang masih terikat di kursi pun melompat menimpa janda itu, bermaksud menolong Lingga dari tembakan senjata api milik Soraya.


Namun nahas, pelatuk yang sudah terlanjur ditarik itu pun, terlepas dan meluncurkan sebuah proyektil keluar dari moncongnya.


DOOOR!


Terdengar sebuah tembakan. Suasana mendadak hening. Semua orang saling pandang, dan meraba tubuh masing-masing. Lingga dan Mira pun saling pandang seolah bertanya siapa yang tertembak.


"Eenngggg …,"


Namun, tiba-tiba suara erangan lirih keluar dari mulut Mira. Keningnya berkerut seperti tengah menahan sakit.


Lingga pun melihat wanitanya dari ujung kepala hingga kaki memindai tubuh Mira. Hingga tiba lah dia tepat di perut Mira, yang mulai mengeluarkan darah.


"Nggak! Nggak! MIRAAAA!" jerit Lingga.


Pria itu pun segera merangkak ke arah wanitanya yang terguling di dekat soraya dengan posisi masih menempel di kursi.


Nicholas yang menyadari hal tersebut pun, segera memberi perintah kepada anak buahnya agar maju menyerang.


Dalam sekejap, semuanya bisa dibekuk beserta Soraya dan juga Erik.


Tak berselang lama, ambulance dan polisi datang ke tempat kejadian. Lingga terus membuat Mira tersadar, hingga bantuan berdatangan.


"Kamu harus kuat, Mir. Kamu harus kuat!" seru Lingga sambil terus menekan kuat perut Mira agar pendarahannya bisa diminimalisir.


"Sa … kit … kak …," rintih Mira.


Ikatannya sudah berhasil dilepas, dan kini dia sedang berbaring di depan prianha. Lingga sudah tak peduli lagi dengan semua luka yang dideritanya. Dia hanya memikirkan Mira yang tengah merasakan kesakitan, tapi dia tak bisa melakukan apapun untuk mengurangi sakitnya.


"Tuan, tim medis sudah datang. Biarkan mereka mengambikl alih Nona Mira," ucap Nicholas yang datang dengan para medis.

__ADS_1


"Aku akan ikut dia ke rumah sakit. Kau urus semuanya sampai tuntas. Mengerti!" seru Lingga.


"Baik, Tuan," sahut Nicholas.


Para medis mulai mengangkat tubuh Mira ke atas tandu dan salah seorang yang lain menekan kuat luka tembak di perut sebelah kirinya.


Lingga pun ikut berlari mengikuti tim medis dan turut masuk ke dalam ambulance.


"Tuan, Anda juga terluka. Sebaiknya, kita obati dulu luka Anda," seru salah seorang perawat yang turut masuk ke dalam bagian belakang ambulance menemani Lingga dan juga Mira.


"Jangan pedulikan aku. Cepat urus dia dulu. Dia dan bayinya yang lebih penting," ucap Lingga.


"Nona ini sedang hamil?" tanya petugas medis.


"Ya, usia kandungannya hampir empat bulan," jawab Lingga.


Pria itu terus menggenggam erat tangan wanitanya, dan terus memohon dalam hati agar Mira baik-baik saja.


Jarak dari tempat kejadian ke rumah sakit cukup memakan waktu, hingga Mira pun kehabisan banyak darah.


Perawat yang tengah menekan luka di perut Mira, berteriak ke arah depan, dan menyerukan sesuatu.


"Hubungi rumah sakit. Kita butuh banyak suplai darah," serunya.


"Apa golongan darahnga?" tanya orang di depan.


"B … golongan darahnya B," awab Lingga mantap.


"Apa Anda yakin?" tanya perawat itu.


"Ya, aku sangat yakin," sahut Lingga mantap.


"Golongan darahnya B," seru perawat itu kepada rekannya di depan.


Mereka pun berkoordinasi dengan pihak rumah sakit, dan meminta mereka mneyiapkan lebih banyak kantung darah dengan golongan yang sama.


Setibanya di rumah sakit, Mira segera dibawa ke ruang operasi, di mana semua dokter yang bertugas sudah bersiap di tempat.


"Tolong selamatkan dia dan bayinya, dok!" seru Lingga di tengah kekalutannya.


"Kami akan usahakan yang terbaik. Anda tunggu dulu di sini," ucap salah satu dokter yang terakhir masuk ke dalam.


"Tuan, mari ikut saya ke UGD. Anda juga membutuhkan penanganan segera," seru seorang perawat yang bertugas merawat luka Lingga.

__ADS_1


Saat turun dari ambulance tadi, Lingga sudah terlihat berjalan dengan terpincang-pincang karena memaksakan kakinya ya g terluka untuk terus bergerak.


Soerang perawat yang menyadari hal itu pun, mendorong serta sebuah kursi roda dan mengikuti pria tersebut hingga ke ruang operasi.


Awalnya, Lingga bersikeras untuk tetap menunggu hingga Mira selesai di operasi. Namun, bujukan dari beberapa tim medis akhirnya membuat pria keras kepala itu mau menurut dan mengobati lukanya yang hampir terinfeksi karwena terlalu lama dibiarkan.


Setelah menerima beberapa jahitan di lengan dan beberapa bagian tubuh lainnya, serta mengeluarkan peluru yang bersarang di kaki, kini Lingga kembali dibawa ke depan ruang operasi, dibantuboleh seorang perawat yang mendorong kursi rodanya.


Waktu berjalan sangat lambat menurut Lingga. Sudah hampir tiga jam Mira di dalam dan belum ada kabar sama sekali dari sana.


"Kenapa lama sekali?" tanya Lingga kepada perawat yang masih setia berdiri di belakangnya.


"Tenanglah, Tuan. Tim dokter pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk menolong pasien. Anda berdoa saja agar pasien bisa kembali lagi di tengah-tengah kita," ucap sang perawat.


Lingga pun mulai berdoa dalam hati. Pria yang bisa dibilang sangat jauh dari kata agamis itu, dengan ragu mulai meminta kepada tuhannya, agar memberinya kesempatan untuk membahagiakan wanita yang sudah menolongnya dua kali.


Kenapa harus terjadi lagi seperi ini? Dulu pun kejadiannya sepeti ini. Kau terluka karena melindungiku, dan aku hanya bisa menunggumu di depan sini dengan cemas, batin Lingga.


Enam jam sudah Lingga menunggu, dan akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Nampak rombongan dokter yang bertugas satu persatu keluar, dan salah satunya berjalan menghampiri Lingga yang terlihat begitu cemas.


"Bagaimana, Dok? Apa dia baik-baik saja?" tanya Lingga dengan cepat.


"Syukurlah, karena pasien masih bisa selamat. Sekarang, dia hanya perlua dipantau dalam sekali dua puluh empat jam, untuk melihat apakah operasinya memiliki efek samping atau tidak," jawab dokter itu.


"Syukurlah … la … lalu, bagaimana dengan bayinya? Di … dia juga baik-baik saja kan, Dok?" tanya Lingga penuh harap.


Namun, sang dokter tertunduk sambil menggeleng pelan. Lingga seolah tahu ada hal buruk yang terjadi dengan calon anaknya.


"Maaf, Tuan. Pendarahan hebat yang terjadi, sudah menurunkan suplai oksigen ke janin. Ditambah lagi, benturan yang cukup keras pada bagian pinggulnya, membut kandungan pasien, tak bisa di selamatkan. Kami pun terpaksa mengeluarkannya dari sana," ungkap sang dokter.


Lingga seketika lemas mendengar penjelasan itu.


A … anakku, batin Lingga.


Tanpa terasa, air mata luruh begitu saja dari mata pria itu.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf, nongol2 kasih kejutan hebat🤧🤧🤧🤧🤧


Jangan lupa like dan komen yah🤧 kembang ma kopi juga boleh banget🤧


__ADS_2