
"Takut?" Lingga mengernyitkan kedua alisnya.
Mira kembali tertunduk, dan mengeratkan pelukan pada lututnya sendiri.
"Ada banyak sekali kenangan Thom di sana. Aku nggak sanggup untuk masuk ke sana," ucap Mira.
Lingga pun segera memeluk wanitanya itu, dan menepuk-nepuk pelan pundak Mira, mencoba menenangkan kembali hati si ratu es.
"Tenang lah. Sebaiknya kita kembali ke apartemenku dulu. Ayo," ajak Lingga yang memapah Mira dan membawanya masuk kembali ke apartemen miliknya.
Mereka duduk di ruang tamu, dengan Mira yang masih bersandar di dada Lingga.
"Mir, bagaimana kalau kita tinggal bersama saja. Ehm … mak … maksudku, itu terserah kamu. Aku hanya menyarankan. Kamu kan tadi bilang takut kembali ke sana, jadi aku menawarkan padamu untuk tinggal bersama di sini. Bagaimana?" seru Lingga.
"Lalu apartemenku?" tanya Mira.
"Kau bisa menjualnya jika mau," jawab Lingga.
Mira menegakkan duduknya dan menatap pria yang duduk di sampingnya.
"Tidak! Jangan! Aku nggak mau jual tempat itu. Di sana banyak sekali kenangannya. Aku tak sampai hati," jawab Mira dengan lingkar mata yang memerah.
Lingga kemudian menangkup wajah wanita itu, dan menghapus buliran yang sempat menggenang di sudut matanya.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan meminta orang untuk mengambil barang-barangmu dari sana dan memindahkannya ke mari, kemudian memesan jasa pembersih untuk membersikan tempat itu setiap hari. Bagaimana?" papar Lingga.
"Ehm …." Mira mengangguk setuju.
Lingga pun kemudian menawarkan diri untuk mengambilkan pakaian Mira di apartemennya. Setelah itu, mereka berdua pergi ke rumah sakit dan melakukan pemeriksaan terhadap kaki Lingga.
...💋💋💋💋💋...
Malam harinya,
Saat ini, Lingga dan Mira sedang menonton sebuah acara televisi bersama, dengan Lingga yang berbaring dengan paha Mira sebagai bantalnya.
Mira menyuapi Lingga dengan potongan buah segar yang ia siapkan untuk pria itu selepas makan malam tadi.
"Yang bagus yang mana sih?" gerutu Lingga yang sedari tadi mengganti-ganti saluran TV-nya.
Sedangkan Mira, terus saja menyuapi pria itu hingga mulutnya penuh dengan potongan buah-buahan.
"Mir, jam segini biasanya kamu lihat apa?" tanya Lingga dengan tangan yang terus memencet remot TV.
"Jam segini yah …," Mira menoleh dan melihat jam yang ada di layar ponselnya.
Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat itu.
"Jam segini aku biasanya lihat orang mabuk, orang joget-joget, orang lagi ciuman, orang em el, malah mungkin aku lagi lihat teripang darat orang," lanjut Mira dengan santainya.
__ADS_1
Lingga seketika bangun dari pangkuan Mira dan menatapnya tajam.
"Kau … berani kau melihat teripang darat orang lain?" tuding Lingga dengan remot TV di tangannya.
"Iya … memang kenapa?" tanya Mira yang tak paham dengan arah pembicaraan Lingga.
Wanita itu hanya menjawab seadanya, seperti apa yang biasa ia lihat setiap malam di paradise fall. Mira tak tau jika jawabannya itu membuat Lingga bereaksi lebih.
"Kenapa kau berani melihat benda mengerikan mereka. Apa kau tidak puas hanya melihat monster punya ku, hah?" keluh Lingga yang seolah merajuk karena jawaban polos Mira.
Mira mengerutkan alisnya, dan mencoba mencerna apa yang sedang dibicarakan pria di hadapannya.
"Kenapa kamu bertanya begitu, Kak? Bukannya Kakak tau kalau aku ini … pelacur?" sahut Mira.
Urat di kening Lingga pun seketika mengendur, dan netranya membulat.
"Oh …." Lingga kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Mira, seolah tak terjadi apa-apa.
"Aneh!" batin Mira.
Namun sedetik kemudian, pria itu kembali bangun dan menatap tajam ke arah Mira.
"Aku akan maafkan kelakuanmu yang dulu. Tapi, mulai sekarang jangan coba-coba melihat milik mereka lagi. Mengerti?" perintah Lingga sambil menudingkan telunjuknya ke depan wajah cantik itu.
Pria itu lalu kembali berbaring di pangkuan Mira.
"Pppfffttt …." Mira membekap mulutnya menahan tawa, karena tingkah Lingga yang menurutnya sangat lucu.
Pria itu hendak marah. Namun, Mira tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan membelai pipi Lingga.
"Kenapa juga harus nurut, kalau hukumannya bikin nagih," ucap Mira sambil meniupkan nafasnya ke wajah Lingga.
Seketika, Lingga yang hendak marah, emosinya pun turun drastis. Dia menjadi tersipu dan tersenyum-senyum.
"Curang," keluhnya.
"Curang gimana, Kak?" tanya Mira.
Lingga kembali merebahkan kepalanya, dan menunjuk-nunjuk ke arah kakinya.
"Kakiku masih sakit, dan kau malah menggodaku. Kalau bukan curang, apa dong namanya," gerutu Lingga.
Mira justru terkekeh melibat pria besar itu merajuk bak anak kecil yang diiming-imingi sesuatu tapi tidak diberikan.
Wanita itu pun lalu mencubiti pipi Lingga dengan gemas.
"Bayi besar, jangan ngambek dong." Mira membujuk Lingga, masih dengan menahan tawanya.
"Cium!" rengek Lingga sambil mengerucutkan bibirnya ke arah Mira.
__ADS_1
Cup!
Satu kecupan singkat mendarat di bibir pria itu.
"Ckk … pelit amat," keluh Lingga lagi.
"Nggak mau banyak-banyak. Nanti monsternya bangun, bisa repot deh. Hahahahha …," gelak tawa Mira semakin menjadi.
"Awas kamu yah," seru Lingga sambil menyerang pinggang Mira dan menggelitikinya.
Mira menepis-nepis tangan Lingga yang semakin gencar membuat wanita itu tertawa kegelian, hingga sudut matanya basah.
"Hahaha … ampun, Kak … hahahahaha … udah …," rengek Mira di sela tawanya.
"Nggak ada maaf. Kamu udah berani godain aku. Rasain nih." Lingga terus menggelitiki Mira hingga Mira pun kelelahan tertawa.
"Udah dong, Kak. Capek nih ketawa mulu. Perutku sakit," keluh Mira di sela nafasnya yang terengah-engah
"Ya udah, aku maafin. Tapi nanti hukumannya digabung sama yang kemarin yah," ucap Lingga samnil menaik turunkan alisnya ke arah Mira.
Wanita itu mengerutkan alisnya mendengar hal tersebut.
"Hukumannya di gabung? Emang mau kaya gimana nanti, Kak? Aku nggak mau yang aneh-aneh yah," seru Mira memperingati.
"Lihat aja ntar," ucap Lingga denga seringainya yang membuat Mira mengangkat sebelah alisnya.
"Hukuman biasa aja bikin lemes, gimana kalau gabungan gini? Waduh … tak tau lah," batin Mira yang mulai membayangkan hal-hal panas itu.
Lingga yang melihat Mira diam pun, lalu melambaikan tangannya di depan wajah Mira.
"Hem … lagi ngelamun jorok yah. Bayangin hukuman tuh. Iya kan," goda Lingga yang membuat Mira langsung tersipu.
"Ihhh … apaan sih. Nggak kok! Sok tau!" elak Mira.
"Alah … ngaku aja deh," goda Lingga lagi.
"Au ah … aku mau tidur, ngantuk. Sebel sama Kakak," gerutu Mira yang beranjak pergi menuju ke kamar atas.
"Mir! Mira, tunggu!" panggil Lingga yang menyusul ratu esnya setelah mematikan TV-nya.
.
.
.
.
Manis bener deh mereka😍😍😍
__ADS_1
Next eps besok lagi ya😁
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁