Mirage

Mirage
Sarapan pagi


__ADS_3

Keesokan harinya, Lingga beriniat meninggalkan Mira di apartemen untuk beberapa jam kedepan. Ada sesuatu hal yang harus ia urus sendiri, dan juga mengenai permintaannya kepada Nicholas atas rekaman CCTV di sekitar taman rooftop gedung perusahaannya.


Awalnya dia enggan untuk meninggalkan Mira seorang diri di apartemen, apalagi kondisinya yang masih belum stabil. Namun, masalah kali ini melibatkan anggota dewan yang sangat sulit untuk dihadapi, jika bukan Lingga langsung yang datang menemuinya.


"Nggak papa, Kak. Aku baik-baik aja kok," ucap Mira saat baru saja bangun pagi, dan masih nyaman di dalam pelukan prianya.


Lingga yang baru saja menerima panggilan dari Nicholas pun, terpaksa memberitahukan hal tersebut kepada Mira, karena wanita itu mendengarnya langsung dari sambungan telepon yang ia angkat di dekat Mira.


"Tapi, aku yang cemas sekarang," sahut Lingga.


"Beneran nggak papa. Kakak pergi aja," ujar Mira.


Lingga melonggarkan pelukannya, dan menatap wajah wanita itu lekat-lekat. Dia mencoba mencari keyakinan di mata Mira agar dia bisa tenang meninggalkannya sendiri.


"Beneran?" tanya Lingga memastikan.


Mira pun mengangguk pelan sembari mengulas senyum tipis.


"Atau, kamu ikut aku aja ke sana. Iya gitu aja yah," seru Lingga.


Mira pun terkekeh.


"Kak, aku beneran nggak papa kok ditinggal sendiri. Kalau aku ikut, yang ada nanti malah bikin kesan mereka ke kamu jadi kurang baik kan. Masa pertemuan penting kek gitu malah ngajakin cewe sih. Emangnya meeting di bar. hehehe …," tutur Mira yang diselingi tawa.


Lingga pun ikut tersenyum melihat tawa Mira telah kembali.


Mungkin nggak papa kalau aku tinggal dia sebentar aja, batin Lingga.


"Ya udah, kalau gitu, aku mau siap-siap dulu yah," ucap Lingga yang mencium sekilas bibir wanitanya.


"Ehm … ya udah. Aku siapin sarapan dulu kalo gitu," sahut Mira.


"Nggak mandi bareng lagi?" tanya Lingga.


"Ish … nakal," keluh Mira memukul kecil dada Lingga.


pria itu pun terkekeh mendengar keluhan Mira atas ajakannya yang memang bermaksud menggoda wanita itu.


"Cuma nawarin. Nggak mau ya udah," ucap Lingga sembari turun dari ranjangnya meninggalkan Mira yang masih kesal.


"Dasar nyebelin," ujar Mira.


Wanita itu pun kemudian bangkit dan berjalan menuju ke meja rias. Dia mengambil bandana yang ada di dalam laci dan mengenakannya di kepala.


Dia berjalan ke arah walk in closet , dan memilihkan kemeja serta celana yang akan dikenakan oleh Lingga hari ini.


"Ehm … aku suka kalo dia pake warna biru. Yang ini aja deh," gumam Mira.

__ADS_1


Wanita itu mengambil sebuah kemeja dengan warna kesukaannya, dan sebuah celana bahan berwarna gelap. Kemudian, dia pun meletakkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur.


Mira pun kemudian keluar menuju ke dapur untuk membuat sarapan, sambil menunggu Lingga selesai mandi dan bersiap-siap.


Tak berselang lama, terdengar langkah dari arah tangga. Mira menoleh dan melihat prianya telah turun dengan mengenakan setelan yang telah ia siapkan tadi.


"Seger bener," ucap Mira.


Lingga berjalan mendekat, dan memeluk Mira dari belakang, yang saat itu tengah memasak sup ayam.


"Ehm … tadi diajakin bareng nggak mau sih. Lebih seger tau," sahut Lingga.


Mira pun menyikut perut Lingga dan membuat pria itu terkekeh.


Lingga menciumi puncak rambut Mira yang selalu wangi, dan membuatnya ingin terus menciuminya.


"Aku masih bau lho, Kak. Mending kamu duduk di meja makan aja deh," ujar Mira.


Wanita itu tak sadar, jika gerakan memasaknya yang retus bergerak ke sana ke mari meraih benda-benda yang berjarak cukup jauh, membuat gesekan antara bok*ng dan teripang darat Lingga.


Pria itu pun dengan nakal semakin menekan miliknya agar terus menempel di antara dua bulatan sintal milik wanitanya.


Hingga Mira pun menyadari jika ada yang mengganjal di belakang, yang terasa begitu keras. Wanita itu pun menghentikan gerakannya yang sedang mengaduk sup menggunakan sendok sayur.


"Kak," Panggil Mira yang melirik sekilas ke belakang.


Pria itu terus menyandarkan dadanya di punggung wanuta itu hingga Mira merasa semakin terdesak ke depan.


"Aku lagi pegang sendok sayur lho ini. Mau aku ketok biar benjol yah? Minggir nggak!" hardik Mira yang merasa waktu memasaknya menjadi tidak nyaman akibat ulah Lingga.


"Ehm … bentar. Cuma nempel doang, Sayang," sahut Lingga yang terus menghirup aroma rambut Mira yang membuatnya semakin berh*srat.


PLETAK!


"Aawwww!" pekik Lingga yang mengaduh kesakitan.


Mira benar-benar memukul prianya dengan menggunakan sendok sayur yang saat itu ia pegang.


"Sakit, Mir," keluh Lingga sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Hasr*tnya yang tadi sempat naik, kini turun seketika dan hanya tersisa nyeri di kepalanya.


"Kan aku udah bilang. Kakak duduk aja di sana, aku lagi pegnag sendok sayur. Tapi Kakak maunya diketok sih, jadi ku pukul aja deh, heheheh … sakit yah? Maaf," ujar Mira yang seolah tak berasalah sama sekali.


"Iya deh, iya. Aku ke sana dulu," gerutu Lingga sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit.


Mira nampak masih terkekeh melihat prianya itu terus mengomel karena dia yang benar-benar tega memukulnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, sup ayam sudah matang beserta lauk pelengkap lainnya. Lingga yang sedari tadi duduk, kini bangkit dan berjalan ke dapur, membantu wanitanya untuk menata semua makanan di atas meja.


"Makasih, Sayang," ucap Mira.


Lingga segera mendekatkan pipinya ke arah Mira, pertanda minta ucapan terimakasih yang lain dari wanita itu.


Mira terkekeh melihatnya, dan memberikan kecupan singkat di pipi Lingga.


"Tumben nggak bikin ayam kecap, Mir?" tanya Lingga yang telah duduk di kursinya.


Mira nampak mengambilkan nasi panas dari mesin penanak nasi otomatis untuk Lingga.


"Itu sih, yang di piring. Nggak kelihatan ayam kecapnya ya?" tanya Mira yang kini sedang menuang sup ayam ke mangkuk.


Mira meletakkan semangkuk sup dan sepiring nasi di hadapan Lingga, kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.


"Emang ini ayam kecap? Kok potongannya kecil-kecil gini?" tanya Lingga yang mengambil sedikit dan menaruhnya di atas piring.


"Lagi pengin bentuk baru, Kak. Bosen kalo bentuknya potongan gede-gede kaya biasanya. Kali ini ku potong kecil terus ku tumis pake kecap. Tapi aku sih suka yang kaya gini. Lebih seger, soalnya aku kasih irisan cabe," ucap Mira yang duduk dan mulai mengambil lauk untuknya.


"Ehm … iya sih. Lebih kerasa ya bumbunya. Nanti pas aku pulang, masakin yang kaya kini lagi yah. Ehm … enak banget" puji Lingga.


"Kakak kabarin dulu kalo mau pulang, jadi aku bisa siapin dulu sebelum Kakak sampe," ucap Mira.


Sarapan mereka berlangsung seperti biasa, seolah tak ada masalah yang tengah menimpa mereka.


Lingga pun bergegas pergi, meski rasa ragu terus membayanginya kala meninggalakn Mira seorang diri di apartemen.


Tak berselang lama setelah Lingga pergi, seseorang terdengat mengetuk pintu dari luar. Mira yang sedari tadi tengah duduk di ruang tamu pun mendengar ketukan tersebut dan menghampiri pintu.


Dia membuka pintunya, dan betapa terkejutnya Mira saat mendapati siapa yang berada di luar apartemennya.


"Elu?!"


.


.


.


.


Maaf, kemarin bolos up🙏


jangan kapok nungguin ya🤧


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁

__ADS_1


__ADS_2