
Mira berlari menyusuri trotoar di sepanjang jalan dari The Royal Blossom menuju ke jalan raya. Ia melihat keramain orang berkerumun dari kejauhan, dan membuat hatinya semakin berdebar tak menentu.
"Aku mohon, biarkan aku salah. Tuhan, aku mohon jangan biarkan dugaanku benar," batin Mira seraya terus berlari, dan semakin mendekat ke arah kerumunan itu.
Sesampainya di sana, Mira langsung menyerbu dan menyeruak masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang tengah melihat tempat terjadinya kecelakaan.
"Permisi! Permisi! permi … si …." Mira tertegun, kala matanya menangkap sebuah mobil yang telah hancur dengan kondisi terbalik, serta banyaknya darah yang tercecer di sana.
Langkahnya terseok, kala mengenali kendaraan itu. Matanya membelalak dan lingkar netranya memerah. Ia membekap mulut dengan kedua tangannya, sambil menggelengkan cepat.
"Tidak! Tidak! Aku mohon," batin Mira mengharapkan apa yang ia duga salah.
Saat itu, Mira mendadak Tuli, seolah sekitarnya sunyi tak ada seorang pun di sana. Kakinya melangkah sendiri ke arah mobil yang ringsek itu, dengan tetap membekap mulutnya, dan mata yang menatap nanar.
"Tidak! Jangan seperti ini. Tolonglah," batin Mira terus berharap.
Mira terus berjalan maju, namun langkahnya terhenti, kala seseorang menepuk bahunya dari belakang.
Wanita itu pun lalu berbalik, dan melihat seorang petugas kepolisian tengah berdiri di belakangnya.
"Maaf, Anda tidak bisa masuk seenak ke TKP. Silakan Anda berdiri di belakang garis polisi," ucap sang petugas itu sambil menunjuk ke arah kerumunan warga.
Mira masih tertegun, seolah ia tak mengerti bahasa yang digunakan oleh si petugas. Dia kembali menoleh ke arah mobil nahas itu berada.
"Si … siapa ko … korbannya?" tanya Mira sambil terus menatap mobil itu.
__ADS_1
"Apa Anda mengenali mobil itu?" tanya si petugas.
Mira mengangguk pelan, tanpa melepaskan pandangannya dari kendaraan yang telah rusak itu.
"Korban adalah seorang pria tu. Beliau ditemukan dalam keadaan kritis saat bantuan datang, dan sekarang sudah di bawa ke rumah sakit di pusat ibu kota," ucap petugas kepada Mira.
Mira masih terdiam, hingga akhirnya petugas itu menuntunnya agar menjauh dari tempat terlarang tersebut.
Setelah dibawa ke belakang garis polisi, Mira mundur dan kini berada di belakang orang-orang yang masih berkerumun di sana.
Ia berjalan gontai. Pikirannya kacau. Sebuah taksi biru berlogo burung melintas dari arah belakang, dan membuat Mira sontak meneriakinya.
"TAKSI! TAKSI!" pangil Mira dan seketika, taksi itu berhenti agak jauh di depan sana.
Mira berlari dan buru-buru masuk ke dalam taksi tersebut.
Di tengah perjalanan, tak ada lagi wajah tenang Mira yang memandang keluar jendela mobil. Yang ada sekarang hanyalah wajah khawatir dan cemas. Dia masih berharap jika dugaannya salah.
Taksi terus berjalan membelah hiruk pikuknya lalu lintas ibu kota. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh dari The Royal Blossom, kini Mira telah sampai di rumah sakit tujuannya.
Mira segera memberikan selembar uang pecahan seratus ribu kepada supir, tanpa meminta kembalian. Dia bergegas masuk, dan mencari tahu kondisi korban tabrakan itu.
"Sus, korban tabrakan di sebelah mana ya?" tanya Mira kepada seorang suster yang tengah berpapasan dengannya.
"Oh … korban tabrakan mobil yang barusan ya? Beliau sedang di operasi," jawab suster itu dengan tenang.
__ADS_1
"Di … di mana ruang operasinya?" tanga Mira lagi dengan wajah paniknya.
"Ruang operasi ada di lantai tiga," sahut suster itu.
"Thanks!" ucap Mira sambil kemudian berlari menuju lift.
Mira menaiki lift dengan hati cemas, hingga kuku jarinya pun tak luput dari giginya yang sedari tadi terus mengigiti hingga hampir menyentuh kutikula.
Setibanya Mira di lantai tiga, Mira kembali berlari dan menuju ke tempat tunggu operasi.
Langkahnya mendadak memelan, kala melihat beberapa orang tengah berada di sana.
Pandangannya tertuju pada seorang wanita, dengan balutan busana yang anggun dan elegan, tengah menangis tersedu-sedu di bangku tunggu.
Mira berhenti melangkah, dan bersembunyi di balik dinding, yang ada di persimpangan lorong.
"Aku harus bagaimana? Aku ingin sekali tau siapa dan bagaimana kondisi korban itu. Tapi di sana itu pasti keluarganya. Apa tidak apa-apa jika aku langsung bertanya kepadanya," batin Mira sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding yang berada di belakangnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁