
"Aku seperti mengenalnya. Tapi siapa?" batin Mom Winda saat menatap gadis yang masih mematung di depan pintu kamar mandi, karena melihat ada orang lain lagi yang berada di sana.
"Kau sudah selesai?" tanya Thom, yang membuat kedua wanita beda generasi itu, tersadar dari pikiran masing-masing.
Mira hanya merespon dengan anggukan. Sedangkan Mom Winda, ia segera melakukan sebuah panggilan, setelah mengkonfirmasi keberadaan gadis itu di tempatnya.
"Halo! Mia, kamu di mana?" tanya Mom Winda kepada seseorang bernama Mia di ujung telepon.
Nampak dia tengah mendengar jawaban dari seberang.
"Datanglah ke sini sekarang juga! Aku tunggu kamu di atas," perintah Mom Winda.
Sambungan pun terputus, dan Mom Winda menoleh ke arah pintu, di mana sudah ada seorang penjaga keamanan, yang selau bertugas di tempat hiburan itu.
"Jordan! Cepat carikan pakaian yang layak untuk anak ini," perintah Mom Winda.
Wanita itu begitu peka, ketika melihat pakaian sang gadis kecil yang telah robek-robek di beberapa bagian, akibat perbuatan tak sadar dari seorang Thomas.
"Kau sebaiknya membersihkan dirimu juga, Thom. Biar gadis kecil ini aku yang urus," ucap Mom Winda.
Thom pun bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju kamar mandi. Pria itu melewati Mari yang masih diam mematung di depan pintu.
"Pergilah dengan wanita itu. Dia akan membantumu," ucap Thom kepada Mari yang masih tertunduk, ketika ia telah mencapai abang pintu.
Sekilas, Thom mencuri lihat ekspresi wajah Mari yang terus tertunduk ke bawah. Namun, ia seolah tak menangkap gurat kesedihan. Yang ia tangkap justru wajah datar dan dingin tanpa ekspresi.
"Apa mungkin dia seterpukul itu?" batin Thom.
Pria itu pun lalu masuk ke kamar mandi, dan menutup pintunya rapat-rapat.
Di luar, Mom Winda terus menatap ke arah Mari.
"Kau … kemarilah!" panggilnya.
Mari mengangkat wajahnya, dan menatap lurus ke arah Mom Winda.
"Tatapan mata itu …," lagi-lagi, Mom Winda dibuat terkejut dengan Mari.
"Ehkem … kemari. Ayo!" perintah Mom Winda lagi, yang menyadarkan dirinya dari pikiran lain.
Mari pun perlahan mendekati Mom Winda, mencoba berjalan dengan se normal mungkin, sambil menahan sakit yang teramat di pangkal pahanya.
"Duduk lah di situ!" Mom Winda menunjuk ke arah bibir ranjang, yang tadi sempat di duduki oleh Thom.
Mari pun menurut.
"Siapa nama mu?" tanya Mom Winda.
Namun, Mari hanya diam dengan wajah yang tertunduk.
"Apa kamu tau, bagaimana caranya gadis kecil seperti mu bisa berada di tempat seperti ini?" tanya Mom Winda lagi.
__ADS_1
Mari tetap diam bergeming sedikit pun.
Mom Winda menghela nafas berat, karena merasa tak direpon sama sekali oleh gadis kecil di hadapannya itu.
Tak berselang lama, penjaga keamanan bernama jordan, datang dengan membawa sebuah tas belanja.
"Sudah dapat?" tanya Mom Winda.
"Sudah bos," jawab jordan, seraya menyerahkan tas itu kepada bosnya.
"Aku akan bawa dia ke ruangan ku. Saat Thomas selesai, bawa juga dia ke atas." Mom Winda lalu bangkit dari duduknya, dan menarik lengan Mari.
Gadis itu hanya bisa menurut dan mengikuti Mom Winda dengan patuh, namun masih diam seribu bahasa. Mereka menuju ke ruang pribadi Mom Winda.
Selang beberapa saat, ketika Mari telah selesai berganti pakaian, Mia datang dan disusul di belakangnya oleh Thomas dan juga Jordan.
"Ada apa, Mom?" tanya Mia yang melihat begitu banyak orang tengah berada di sana.
Pandangannya seketika tertuju pada gadis kecil, yang tengah duduk dengan wajah tertunduk.
Sedangkan Thom, dia memilih untuk duduk di seberang Mari, dan Mom Winda duduk di samping gadis itu.
"Duduklah, Mi. Ada yang ingin ku tanyakan padamu," perintah Mom Winda, dan Mia pun menurut.
"Ada apa, Mom. Apa ada masalah serius, sampe aku dipanggil sepagi ini?" tanya Mia yang semakin penasaran, terlebih ketika melihat ekspresi bosnya yang terasa berbeda saat itu.
"Semalam, aku menyuruhmu untuk masuk ke kamar yang dipesan Thom, bukan?" tanya Mom Winda.
"Iya. Apa kamu ke sana?" tanya Mom Winda.
"Iya, Mom. Aku ke sana, tapi bukan dengan Tuan Thomas, melainkan pria lain," sahut Mia.
Mom Winda mengerutkan kedua alisnya. Sedangkan Thomas, dia hanya diam. Pandangan pria itu fokus ke arah Mari yang terus diam. Bahkan, badannya tak terlihat gemetaran sedikit pun.
"Apa maksudmu?" tanya Mom Winda.
"Saat aku ke sana, ada seorang pria yang sedang menelepon seseorang, tepat di depan kamar seberang …,"
Mia bercerita, jika ada seorang pria yang berdiri di depan kamar, yang berada tepat di seberang kamar yang akan dia masuki, atau kamar yang sudah dipesan oleh Thomas.
Pria itu nampak tengah menerima panggilan telepon, namun karena suara bising, pria itu pun lalu pergi keluar dan melanjutkan pembicaraannya.
"Saat sampai di depan pintu, aku langsung di tarik ke dalam oleh seseorang, dan itu adalah kamar yang telah Mom Winda sebutkan sebelumnya. Tapi maaf, pria itu bukan tuan Thom!" tutur Mia.
"Tapi, itu kamar yang aku sebutkan kan?" tanya Mom Winda memastikan.
"Benar, Mom," jawab Mia.
"Tunggu sebentar," Mom Winda berdiri, dan berjalan menuju meja kerjanya.
Dia melihat laporan bisnisnya semalam, terutama bagian sewa kamar. Mom Winda memijat pangkal hidungnya, dengan sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
"Ada yang sudah berani main-main di tempatku," gumanya.
Dia pun lalu membawa laporan itu, dan berjalan menuju tempat di mana semua orang berada.
"Thom, perlu ku perjelas jika ini bukan salah ku, dan bukan juga salah mu. Seperti yang kau tahu, kalau kamar paling ujung adalah kamar kelas VVIP, dan hanya beberapa orang yang bisa masuk ke sana, tentu dengan tarif yang tinggi,"
"Lihat baik-baik. Menurut laporan, tadi malam, hanya ada tiga orang yang memakai kedua kamar itu, dan yang terkahir adalah kamu."
"Aku memang tak memberitahukan kamar yang mana, karena sesuai kebiasaan di tempat ini, semua kamar dalam keadaan tertutup. Tanda 'jangan diganggu' yang menggantung di handle pintu, adalah pembedanya, antara mana kamar yang kosong dan yang berpenghuni."
"Aku sangat yakin, sebagai langganan di sini, kamu pun tahu benar akan hal itu. Bukan begitu, Thom?"
Thom hanya mengangguk mendengar analisis dari Bos paradise fall.
"Jika gadis ini ada di salah satu kamar tersebut, berarti sudah ada yang memasukkannya secara ilegal ke sana. Bisa jadi, yang semalam bersama Mia adalah orang yang seharusnya bersama dengan dia, dan mungkin si penelepon yang dilihat Mia, hendak memberitahukan jika tempatnya berubah, karena tahu kalau kamar itu telah dipesan orang lain, dari tanda di handle pintunya," ucap Mom Winda.
"Wah … itu sangat mengerikan, Mom!" seru Mia tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Mom Winda.
"Dia seorang maniak, Mom. Sangat kasar dan brutal. Aku yang sudah biasa saja kepayahan dibuatnya, apa lagi gadis kecil ini. Pasti dia akan mengalami trauma berat setelahnya," ungkap Mia.
Mom Winda memandangi gadis, yang sedari tadi nampak diam. Namun kali ini, jemarinya saling bertaut, pertanda jika dirinya mulai merespon perbincangan itu.
Bahunya terlihat bergetar. Sepertinya dia ketakutan mendengar penuturan Mia.
"Hah … Baiklah. Jadi memang ada yang sudah main-main di tempat ku. Thom, kau bisa pergi sekarang. Masalah gadis ini, biar aku yang urus. Karena bagaimana pun, kasus ini ada di tempat ku," ucap Mom Winda.
Sejak kejadian itu, entah kenapa Thom merasa terikat dengan Mira, dan seolah memiliki kewajiban terhadap wanita itu. Hingga ia tak lagi menyentuh wanita lain, selain gadis kecilnya.
.
.
.
.
Nah … kebukakan satu2 asal usul hubungan rumit antar satu tokoh dengan tokoh yang lain😊
oh iya, ini nih yang di maksud Mom Winda dengan tanda jangan di ganggu
Yang masih penasaran, tungguin next eps yah😊
Oh iya, maaf sayang semua, othor nggak bisa janjiin double up apalagi crazy up, karena harus berbagi waktu dengan kesibukan di dunia nyata🙏
Tapi, othor usahain supaya bisa up tiap hari buat kalian semua yang istimewa buat othor😘😘😘😘😘
jempol mana jempol😄kembang ama kopi pun hayuk🤣
__ADS_1