
Saat mereka berdua saling tatap, Lingga seketika berjalan menghampiri Mira yang masih dalam keterkejutannya atas kehadiran Lingga di bandara.
Pria itu menarik tangan wanita itu begitu saja, dan membawanya menjauh dari keramaian.
Tania yang melihat dua orang itu pun, melangkah hendak menyusul mereka, akan tetapi dihalangi oleh Nicholas.
“Biarkan saja mereka selesaikan urusan berdua. Kita tidak usah ikut campur,” seru Nicholas kepada wanita yang ada di sampingnya.
“Tapi, bagaimana kalau bos mu itu berbuat kasar sama teman ku?” sanggah Tania.
Nicholas berbalik dan menghadap ke arah ladies Mom Winda itu.
“Tuan Lingga sangat mencintai Nona Mira. Dia tak akan pernah menyakiti temanmu itu. Percayalah,” ucap Nicholas meyakinkan.
Tiba-tiba, serombongan yang terdiri dari tiga orang datang dan menegur Nicholas, serta mengejutkan Tania.
“Nick, di mana Kak Arya?” tanya wanita yang nampak seumuran dengan Mira dan juga Tania.
Nicholas membungkuk memberi hormat kepada nona muda itu, dan juga kedua orang tua yang berjalan di belakangnya.
“Nona Muda, Tuan Wijaya dan Nyonya,” sapa Nicholas dengan sopan.
Tania pun menoleh ke arah pria di sampingnya itu dengan terheran-heran.
Siapa ketiga orang asing ini? Kenapa Nick begitu hormat pada mereka? Batin Tania.
“Di mana anak nakal itu, Nick? Kenapa dia meminta kami semua untuk datang ke bandara secepatnya? Menjengkelkan sekali,” keluh Aletta.
“Tuan Lingga sedang berbicara dengan Nona Mira di sebelah sana. Tadi, beliau sempat panik karena Nona Mira akan pergi ke luar negeri diam-diam. Tuan Lingga punya suatu rencana sehingga beliau meminta saya menghubungi anda bertiga kemari,” ungkap Nicholas.
Ketiga orang itu pun menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Nicholas. Aletta terlebih dulu melangkah ke sana, dan diikuti oleh suami dan anak perempuannya.
“Katanya jangan diganggu? Kenapa malah biarin mereka ke sana?” keluh Tania pada pria di sampingnya, yang dinilai tidak konsisten itu.
“Mereka adalah keluarga Tuan Lingga. Yang muda itu adalah adik perempuannya dan dua yang lainnya adalah ayah dan ibunya. Jadi, mana mungkin aku berani melarang mereka,” tutur Nicholas.
Tania melongo mendengar penuturan dari Nicholas tadi.
“Jadi tadi ibunya Tuan sombong itu? Wah ... Nggak kelihatan tua sama sekali. dimana ya kira-kira dia melakukan perawatan kulitnya selama ini?” puji Tania akan penampilan Aletta yang seakan tak pernah termakan usia.
__ADS_1
Nicholas hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan wanita disampingnya itu. Dia kemudian berjalan menyusul ketiga orang yang telah lebih dulu pergi, meninggalkan Tania yang masih berdecak kagum akan sosok awet muda Aletta.
“Hei, Nick! Tunggu aku dong! Nick!” panggil Tania sembari berlari menyusul pria jangkung itu.
...💋💋💋💋💋...
Di tempat lain, masih di area bandara internasional ibu kota, terlihat Lingga dan Mira saling berhadapan, dengan Mira yang terus memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan tajam dari Lingga.
“Katakan, kemana kamu akan pergi kali ini?” tanya Lingga.
“Bukan urusanmu!” sahut Mira datar.
“Katakan, siapa yang mengijinkanmu pergi?” tanya Lingga lagi.
“Terserah aku,” sahut Mira.
Lingga mendekat dan meraih pundak Mira. Dia mengguncangkan bahu wanita itu, namun hal itu tak membuat Mira menoleh dan melihat ke arah Lingga.
“Apa karena sikapku beberapa hari ini?” tanya Lingga.
Mira diam. Dia tak ingin menjawab lagi pertanyaan yang kelaur dari mulut pria itu. Dia mencoba mengeraskan hatinya agar bisa bersikap tenang dan segera pergi meninggalkan Lingga
“Maaf, karena aku sempat meragukan kesetiaanmu, Mir.” Lingga mengambil sebuah foto dari saku celananya.
Betapa terkejutnya wanita itu melihat benda tersebut.
“Ba ... Bagaimana ... Ini ...?” tanya Mira terbata.
Akhirnya, mata bening itu menatap lurus ke arah Lingga.
Pria itu meraih tangan Mira yang nampak bergetar sambil memegangi selembar foto yang tadi diperlihatkan oleh Lingga.
“Ini datang ke rumah kami beberapa bulan yang lalu. Ibuku yang menunjukkannya kemarin,” ucap Lingga.
“Jadi... Jadi Mami... Apa ini yang membuatmu dingin beberapa hari ini, Kak?” tanya Mira.
“Maafkan aku, Mir. Aku sempat goyah. Dua hari yang lalu, aku menemui pria itu di Paris, dan dia sudah mengatakan semuanya padaku. Aku minta maaf, karena sudah semudah itu meragukanmu. Maafkan aku, Sayang,” jelas Lingga.
Namun, Mira segera mengusap air matanya. Dia menyerahkan kembali foto tersebut kepada Lingga.
__ADS_1
“Aku paham apa yang dipikirkan Mami. Keluarga terhormat seperti kalian, pasti tidak akan bisa menerima ku kan,” terka Mira.
Lingga menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Nggak. Nggak gitu, Mir,” sanggah Lingga.
“Kak, aku sadar diri kok. Ku tau kamu pasti dilema karena status aku yang cuma seorang PSK. Nggak ada satupun di diri aku yang bisa dibanggain. Aku nggak pantes bersanding di samping kamu. Aku paham itu, Kak,” ucap Mira dengan air mata yang terus menerobos barisan bulu mata lentiknya.
Lingga kembali meraih tangan Mira, namun segera ditepis oleh wanita itu. Mira pun melangkah mundur untuk menghindari kontak dengan Lingga.
“Jangan seperti ini, Mir. Aku mohon, percaya sama aku. Kita bisa lalui ini bersama,” pinta Lingga.
“Biarkan aku pergi, Kak. Setidaknya, kamu tidak akan kesulitan menentukan pilihan, antara aku dan juga keluargamu,” Sahut Mira.
Lingga tak percaya jika Mira akan tetap memaksa pergi. Namun tiba-tiba, dari arah depannya, muncul tiga orang yang ditunggu-tunggu.
“Nggak. Aku nggak akan ijinin kamu buat pergi kemana pun. Kamu harus selalu ada di sampingmu. Atau, harus kedua orang tuaku yang langsung memintanya?” tanya Li gga yang membuat Mira bingung.
Pria itu menunjuk ke arah belakannya dengan menggunakan tatapan mata.
Mira pun seketika menoleh dengan ragu, dan betapa terkejutnya ia melihat keluarga yang dulu pernah menyinari hari-hari kelam di masa kecilnya.
“Mami, Papi, Riri?” gumam Mira.
Dia melihat Aletta yang berjalan di depan dengan pandangan lurus ke arahnya. Wajahnya dingin dan sulit ditebak apa yang akan di lakukan wanita paruh baya, yang seakan tak termakan usia itu.
Namun, Saat Aletta sudah semakin mendekat, Mira seketika menunduk, dan menunggu apa yang akan dilakukannya.
Pasti dia bakalan nampar gue, karena udah godain anaknya, batin Mira sambil memejamkan matanya, bersiap untuk menerima sebuah pukulan.
Akan tetapi, bukan pukulan yang diberikan oleh Aletta, melainkan sebuah pelukan hangat yang membuat Mira terbelalak tak percaya.
“Mari kecil. Kamu sudah tumbuh menjadi wanita dewasa, Nak,” ucap Aletta lirih.
“Ma... Mami?” Panggil Mira gamang.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁