Mirage

Mirage
Penyesalan Lingga


__ADS_3

"Menurut hasil fisum, tidak ditemukan cairan sp*rma, bahkan sobekan atau luka di sekitar **** ***** korban pun tidak ada. Pakaian dalamnya pun masih melekat di tubuh wanita ini. Hal ini menandakan jika Anda datang di waktu yang sangat tepat. Dengan kata lain, korban tidak sempat mendapatkan pemerkosaan itu," jelas sang dokter.


Mendengar pernyataan dari dokter itu, Steve terdengar menghela nafas lega, bersamaan dengan itu, Lingga mengecup punggjng tangan Mira dalam-dalam.


"Namun, ada bekas merah di beberapa bagian tubuhnya, terlebih kondisi pasien yang terlalu banyak terpapar obat perangsang dengan dosis yang cukup besar, yang mungkin akan mengakibatkan rasa pusing yang kuat saat bangun nanti," lanjut sang dokter.


"Tapi dia akan baik-baik saja kan, Dok?" tanya Lingga.


"Asalkan dia dirawat intensif di sini selama beberapa hari, pasien akan bisa segera pulih," ucap sang dokter.


"Terimaksih informasinya, Dok," seru Lingga.


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu," sahut dokter itu sambil meletakkan berkas di atas nakas.


Seperginya dokter, Lingga kembali menatap lekat wanitanya, sambil terus menggenggam erat tangan Mira.


"Kau sudah dengan penjelasan dari dokter, kan? Sekarang kau bisa pergi," ucap Lingga datar kepada pria yang telah bersama-sama dengannya menolong Mira.


"Hem ... baiklah. Aku pergi. Besok, aku akan datang lagi untuk menjenguknya," sahut Steve.


"Tidak perlu. Ini juga bukan urusanmu," sanggah Lingga datar.


"Terserah. Mira wanita bebas. Dia tak dimiliki siapapun. Jadi, aku berhak untuk menemuinya," ucap Steve yang kemudian pergi dari ruang rawat mewah itu.


"Hah ...." Lingga menghembuskan nafasnya yang terdengar begitu berat, setelah Steve keluar dan menutup pintunya.


Dia mengulurkan sebelah tangannya ke wajah wanita yang masih terpejam itu, dengan perasaan yang kacau.


Ia mengusap lembut kening Mira, dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.


Sebelah tangan yang lain, masih setia menggenggam erat jemari Mira, sambil sesekali menciumi buku-buku jari wanita itu.


"Maaf. Kalau saja aku datang lebih cepat, pasti mereka tak akan sempat menyentuhmu. Maaf," ucapnya dengan tatapan sendu.


Rasanya sangat sakit ketika melihatmu dilecehkan seperti ini. Aku tak bisa bayangkan kehidupanmu yang dulu, terlebih saat kau harus kehilangan mahkotamu, dan bertahan di tempat pel*curan itu selama bertahun-tahun, batin Lingga.


Entah kenapa, hatinya terasa kebali sakit. Terlebih saat dia mengingat cerita thomas, yang dengan jujur mengatakan jika dialah yang mengambil per*wan Mira dalam keadaan tak sadar.


Dia tak bisa bayangkan, bagaimana hancurnya Mira saat itu. Ia semakin merasa bersalah karena sudah meninggalkannya sendiri.


Harusnya, aku tak melepasmu lagi lima tahun lalu. Harusnya saat itu, aku turut membawamu ke negeri panda, agar kau tak mengalami semua hal mengerikan itu. Kenapa aku begitu bodoh, batin Lingga.


Tak terasa, lelehan bening mengalir di sudut mata pria itu. Sesak di dadanya membuat air mata tak bisa terbendung lagi. Penyesalannya kian dalam, saat dengan kedua matanya, dia menyaksikan setiap kejadian buruk yang seperti sengaja diarahkan kepada wanitanya.


Ia pun merebahkan kepalanya di samping perut Mira, dan terisak dalam diam, menyesali semua kebodohannya di masa lalu.


...💋💋💋💋💋...


Kesesokan paginya,

__ADS_1


Lingga terbangun dengan posisi yang sama. Tidurnya terganggu karena sinar mentari yang begitu terang masuk kamar Mira, dan mengusiknya.


"Ehm ... sudah pagi," gumamnya sambil menegakkan duduknya dan meregangkan otot-otot yang kaku.


Dia menatap Mira yang masih lelap terpejam, dengan nafas yang terlihat begitu teratur.


Lingga mengusap lembut kening Mira, dan mengecup singkat wanita itu.


"Ehm ...." Mira melenguh lirih.


Sepertinya, wanita cantik ini juga merasa terusik dengan kecupan selamat pagi dari Lingga.


Perlahan, bulu matanya yang lentik bergerak-gerak dan mulai mengerjap.


Lingga yang melihatnya pun, seketika memanggil nama wanitanya.


"Mari," panggil Lingga.


"Ehm ...." Mira merasa silau dan kembali menutup matanya.


Perlahan, dia membuka kembali matanya, dan menyesuaikan pupil hitamnya dengan cahaya mentari yang begitu terang menerangi ruangan itu.


"Ehm ... Kakak. Aku di mana?" tanya Mira lirih, sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.


"Kamu sedang di rumah sakit, Mir," jawab Lingga tersenyum begitu hangat.


"Kenapa aku ... Aaaahhhh ...," keluh Mira sambil memegangi kepalanya.


"Kenapa, Mir? Pusing banget?" tanya Lingga yang nampak begitu khawatir.


"Ehm ... iya, Kak. Kepalaku pusing banget." Mira terus memegangi pelipisnya karena rasa nyeri yang teramat.


"Kamu mending tiduran dulu deh. Jangan paksain kalau belum kuat bangun," tutur Lingga yang kembali menuntun Mira agar berbaring.


"Ehm ... kenapa aku di sini, Kak?" tanya Mira yang masih memegangi kepalanya yang pening.


Lingga diam. Dia tak tau harus berkata apa kepada wanita ini.


Tak mendengar jawaban Lingga, Mira pun mencoba membuka matanya dan menatap pria yang ada di sampingnya.


"Kak, apa yang terjadi sama ku?" tanya Mira yang mulai bingung.


"Ehm … tidak apa-apa. Tidak ada yang terjdi. Semua baik-baik saja. Lebih baik, kau istirahat agar cepat pulih, hem," seru Lingga kepada wanitanya itu.


"Ehm … tapi, Kak …," Mira


"Sssttt … sudah ya. Istirahat aja. Aku akan panggilkan dokter sebentar. Kau diam saja, oke," tutur Lingga.


Mira hanya tersenyum menimpali seruan pria itu. Sedangkan Lingga, dia berjalan ke luar dan meninggalkan wanitanya seorang diri.

__ADS_1


Wanita itu memejamkan matanya kembali, berusaha mengurangi rasa pusingnya.


"Ssshhh … pening banget pala gue. Semalem gue kenapa ya?" gumam Mira sambil memijit-mijit pangkal hidungnya.


Dia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi semalam.


"Kalo nggak salah, semalem gue pergi ke …," gumam Mira terhenti.


Dia mulai mengingat kejadian demi kejadian yang menimpanya. Matanya membola, saat kepingan memorinya muncul.


Nggak! Nggak mungkin! Nggak mungkin kalo gue udah …, batinnya.


Mira mulai bereaksi. Dia pun bangun, meski kepalanya masin terasa sakit. Dia mencoba berdiri dan berjalan ke arah wastafle, di mana ada cermin di sana.


Dengan susah payah, Ia berpegangan pada setiap benda yang bisa ia jadikan pegangan.


Sesampainya di depan cermin, Mira mengangkat tangannya dan mencoba memegang kerah baju yang ia kenakan.


Tangannya terlibat begitu gemetar, seakan takut apa yang ia duga ternyata benar. Perlahan, dia meraih kerahnya, dan segera menutup mata, saat baju yang ia pakai ditarik hingga dadanya terbuka.


Mira belum berani melihat dirinya di cermin. Namun, rasa penasarannya melebihi rasa takutnya. Dia pun perlahan membuka matanya, dan memberanikan diri melihat pantulannya di cermin.


"Hah ...." Mira seketika itu membekap erat mulutnya, dan menahan suara jeritnya.


Matanya membulat saat melihat tanda merah yang tertinggal di beberapa bagian tubunya. Mira menggeleng cepat, seolah menyangkal semua yang ia Lihat


Nggak! Nggak mungkin! batin Mira merintih tak percaya itu.


Seketika itu juga, kakinya lemas, dan tubuhnya merosot jatuh bersimpuh di lantai. Ia lalu meraih kembali kerahnya, dan merem*s erat bagian yang terbuka.


Pandangannya kosong.


.


.


.


.


Kalo kosong, diisi dong nyai.


Mira : tega lu, thor ama gue


Maaf, beberapa hari ini othor lg oleng Mir. Soalnya novel ke riga riis hari ini eps 1-3😅novel lomba BERBAGI CINTA judulnya TERNYATA AKU SEORANG PELAKOR


Reader, bisa favoritkan dulu, biar bisa masuk rak buku dan baca kapan aja😊


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁

__ADS_1


__ADS_2