Mirage

Mirage
Tamu tak diundang


__ADS_3

Sore hari, Mira tengah bersiap-siap untuk bekerja. Dia baru saja selesai mandi, ketika pintu apartemennya diketuk dengan keras oleh seseorang.


Mira yang saat itu masih mengenakan handuk kimononya, berjalan ke arah pintu karena merasa terganggu dengan ulang seseorang.


"Sebentar!" teriaknya dari dalam.


Ia pun lalu segera membukakan pintu, tanpa mengintip terlebih dulu dari lubang pintu.


"Ya, ada apa?" tanyanya sembari membuka pintu apartemennya.


Mira terkejut, dan hampir terlonjak sangkin kagetnya.


"Sedang apa Anda di depan apartemen saya?" tanya Mira kepada orang yang bediri di hadapannya, yang tak lain adalah sang tetangga baru, Tuan Lingga.


"Air di tempatku nggak mau keluar. Aku mau numpakg mandi di sini," Ucapnya sambil mencoba masuk ke dalam.


Namun, Mira segera menyempitkan bukaan pintu, agar pria itu tak bisa masuk dengan mudah.


"Kenapa harus ke tempat saya? Kan bisa ke tepat yang lain. Banyak penghuni di lantai ini!" tolak Mira keras.


"Oh ayolah. Di sini aku hanya mengenalmu, Nona Mira. Akan sangat aneh kalau aku tiba-tiba mengetuk pintu mereka, dan bilang mau numpang mandi. Bukankah, lebih baik aku ke sini saja, karena setidaknya kita sudah saling kenal," kilah Lingga.


"Tapi saya keberatan. Kenapa Anda tak mencoba hubungi pihak pengelola saja, dan minta mereka untuk mengalirkan air ke tempat Anda, Tuan?" ujar Mira yang kesal dengan ulah tetangga barunya itu.


"Sudah. Tapi kata mereka, semua pekerja sudah pergi, dan masalah ini akan diurus besok pagi. Aku tidak biasa jika tidur dalam keadaan tubuh lengket seperti ini," keluhnya.


"Tapi …," ucap Mira.


Belum selesai ia berkata-kata, Lingga justru menerobos masuk begitu saja, dan membuat wanita itu terdorong hingga membentur tembok.


"Kau kelamaan. Aku juga butuh buang air kecil. Apa kau mau aku pipis di depan pintumu, hah!" keluh Lingga sambil berjalan masuk ke dalam.


"Hei! Jangan sembarang masuk ke rumah orang!" pekik Mira yang mengikuti pria itu.


Lingga tak peduli dengan Mira yang kesal dengan ulahnya. Dia justru asik melihat ke kanan dan ke kiri, seolah tengah mencari sesuatu.


"Di mana kamar mandinya?" tanyanya yang terus berjalan masuk semakin dalam, diikuti oleh Mira yang berusaha menyamakan langkah kakinya.


Mira hendak menunjukkan kamar mandi yang ada di dekat dapur, namun Lingga tiba-tiba berbalik, dan hampir menabraknya.


"Apa di sana?" pria itu menunjuk ke lantai atas, tepatnya kamar Mira yang pintunya masih terbuka.


"Bu … kan …,"


Belum sempat Mira menjawab, lagi-lagi Lingga dengan seenaknya berjalan cepat menaiki anak tangga, dan menuju kamar yang berada di lantai dua itu.

__ADS_1


Mira memutar bola matanya jengah, melihat kelakuan pria yang sangat menyebalkan untuknya.


Dia hanya bisa mengikuti Lingga ke atas, dan berharap jika pria itu tak membuat kekacauan lebih lagi.


Sesampainya di kamar, Mira tak menemukan keberadaan Lingga. Dia melihat jika pintu kamar mandi tertutup, dan terdengar bunyi kloset yang sedang menyiramkan air.


"Hah … dia sudah di dalam rupanya," gumam Mira.


Mira menghela nafas berat, dengan bahu yang turun begitu saja. Sejurus kemudian, dia mendengar suara kemericik air yang berasal dari shower, pertanda jika tamu tak diundangnya itu tengah mandi.


Mira pun lalu mengabaikannya, dan berbalik menuju walk in closet.


Ia memilih baju yang akan dikenakan utuk pergi bekerja ke paradise fall malam ini, dan pilihannya jatuh pada dress ketat berwarna jingga, dengan motif floral.


Gaun dari bahan satin itu, hanya sepanjang paha, dan memiliki tali bahu yang kecil. Bagian dada dan punggungnya tak terlalu terbuka, namun terdapat belahan di sisi kiri dan kanan bawahnya, yang membuat penampilannya terlihat sangat menggoda iman para pria.


Setelah berganti pakaian, Ia keluar dari walk in closet dan berjalan menuju meja riasnya.


Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka, dan Lingga menyembulkan kepalanya ke luar, dengan tubuhnya yang masih tersembunyi di balik pintu.


"Sssstttt! Sssttt!" Pria itu berusaha memanggil Mira, namun Mira acuh, dan pura-pura tidak mendengarnya.


"Ssssttt! Sssttt! Mir, Mira!" panggilnya kemudian.


"Ada ap … hei, sedang apa Anda? Kenapa Anda bersembunyi seperti itu?" tanya Mira yang heran dengan kelakuan aneh tetangga barunya.


Wanita itu memutar bola matanya, dan berbalik menuju ke arah lemari. Ia mengambil asal sebuah handuk kering dari dalam sana, yang ia tak tau ukurannya.


Mira kemudian berjalan menuju kamar mandi, tempat Ligga masih berdiri mengintip dari balik pintu.


"Cepatlah. Aku sudah sangat kedinginan dan hampir membeku di sini," ucap Lingga.


"Suruh siap Anda masuk begitu saja tanpa permisi!" gerutu Mira sambil mengulurkan handuk itu, yang kemudian diraih cepat oleh Lingga.


"Thanks!" ucap Pria itu yang kemudian langsung masuk ke dalam.


Baru beberapa langkah, Lingga kembali memanggil Mira dari dalam kamar mandi yang tertutup.


"Hei! Apa kau serius memberiku ini?" tanya Lingga, yang membuat Mira sontak menoleh.


"Seriuslah! Memang apa yang salah dengan itu?" tanya Mira sambil melihat ke arah kamar mandi, yang sudah kembali tertutup.


"Oke, tunggu sebentar!" Lingga kemudian memakai handuk yang tadi diberikan oleh Mira, dan mengikat kecil ujungnya.


Pintu lalu terbuka, dengan Mira yang masih melipat kedua lengannya di depan dada, sambil melihat ke arah kamar mandi itu.

__ADS_1


Lingga keluar dengan handuk yang sangat kecil, yang biasa dipakai untuk mengeringkan rambut yang basah, dan terlilit hanya menutupi pusakanya saja, bahkan ujungnya hampir terlihat.


Sebelah kakinya pun tidak bisa tertutup karena sangkin kecilnya handuk itu. Sedangkan ujung bagian atasnya ia ikat sangat kecil pada pinggangnya, agar tidak terlepas.


"Hei!" pekik Mira yang sempat membulatkan matanya, namun buru-buru ia berbalik, dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Apa yang sedang Anda lakukan? Bisa-bisanya mesum di tempat orang seperti ini!" ucap Mira geram dengan kelakuan tamu tak diundangnya itu.


"Salah siapa memberiku handuk yang sangat mini ini? Aku kan tadi bilang, apa kamu nggak salah kasih aku benda ini, hah!" sahut Lingga sengit dengan berkacak pinggang, seolah tak merasa malu sedikit pun dengan kondisinya yang hampir telanjang bulat itu.


Sedangkan Mira, wanita yang terbiasa dengan para pria itu, justru merasa sangat malu melihat hal konyol yang dilakukan oleh Lingga.


"Baiklah, saya minta maaf. Tapi, bisakah Anda kembali ke dalam? Akan saya ambilkan yang lebih besar lagi," ucap Mira sambil sedikit menoleh, dengan tangan yang masih menutupi matanya.


"Baiklah. Tapi cepat! Aku sudah kedinginan," keluh Lingga yang kemudian kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Mira segera menuju lemari dan mengambil sebuah handuk. Namun kali ini, ia membukanya terlebih dahulu dan membentangkannya lebar-lebar, sehingga ia tahu betul ukurannya.


Wanita itu buru-buru berjalan ke kamar mandi dan mengetuk pintunya.


Tok! Tok! Tok!


"Ini handuknya," seru Mira dari luar.


Pintu terbuka dan Mira segera menutup matanya dengan sebelah tangan.


Lingga yang melihat itu pun tersenyum tipis, dan segera menyambar handuk yang dipegang wanita itu.


"Kau ini aneh sekali, Nona … Bukankah hal semacam ini sering kau lihat. Kenapa malah malu saat melihat punyaku?" gumam Lingga, yang ia lanjutkan dalam hati, lalu kemudian kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Mira yang mendengar itu, sontak membuka tangan yang menutupi wajahnya, dan memukul udara yang ada di depan pintu kamar mandi.


"Dasar breng*sek!" ucapnya geram.


.


.


.


.


Masih jaim-jaiman dulu sambil nunggu tamu VVIP dateng😁


Eh, tau nggak cover ku diganti sama admin lho😄jangan pada heran ya nanti pas lihatnya, soalnya othor sendiri terkejut dengan cover barunya😅

__ADS_1


oke lah, event masih berlanjut ya😊ini hari ke dua berrti. Jangan lupa kasih dukungan buat karya receh ini ya guys😘


__ADS_2