
Setelah mencapai pelepasannya, Lingga masih berada di atas tubuh Mira, dengan kepalanya yang berada di pundak wanita itu dan masih mengendus leher jenjang Mira.
Nafas keduanya terengah engah, setelah pertempuran panah yang mereka lakukan tadi.
Mira masih memeluk kepala Lingga dengan erat, sambil sesekali mengusap lembut surai hitamnya.
Dadanya naik turun, seiring helaan nafas yang masih memburu, mencoba untuk kembali normal.
Namun, suasana tenang nan romantis setelah bercinta itu, tiba-tiba berubah gaduh, saat Mira merasakan ada yang aneh di area sensitifnya.
"Minggir. Tarik teripang darat Anda dari saya," seru Mira yang mendorong Lingga, hingga laki-laki itu pun berguling dan membaringkan dirinya di samping wanita itu.
Mira segera bangun, dan duduk di atas sofa yang telah menjadi kasur, sambil bersandar di dinding. Ia menekuk kakiknya ke atas dan membukanya lebar-lebar. Hal itu itu sontak membuat Lingga ikut bangun dan duduk menghadap ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Lingga yang melihat Mira tengah memandangi miliknya sendiri.
Mira menyentuh pinggiran lembahnya, dan mencium lendir yang menempel di tangannya.
"Kenapa ini ada di sini? Anda tak memakai pengaman?" tanya Mira menatap Lingga tajam.
Lingga pun menunduk dan memegangi miliknya. Dia lalu menepuk keningnya sambil nyengir kuda.
"Maaf, aku lupa." Lingga mengumbar senyum kakunya, yang langsung mendapat pukulan dari Mira.
"Dasar breng*sek! Kalau saya hamil bagaimana?" teriak Mira sambil memukuli badan Lingga yang masih telanjang.
__ADS_1
"Ya gampang. Kita tinggal nikah aja," jawab Lingga dengan entengnya, sambil kedua lengannya menjadi tameng dari amukan si ratu es.
"Enak aja. Memangnya bisa segampang itu, maen nikah-nikah aja. Ogah!" seru Mira yang masih kesal dan terus memukuli Lingga.
Namun, Lingha akhirnya bisa menangkap kedua tangan Mira yang sedari tadi memukulinya, dan kemudian menahannya.
Mira berontak, dan berusaha menarik tanganya dari cengkeraman Lingga, namun Lingga memeganginya dengan sangat kuat.
"Dengarkan aku baik-baik. Kalau kau hamil, aku akan bertanggung jawab penuh atas dirimu dan anak yang kau kandung. Karena itu juga ada dalam perjanjian. Tapi, jika sampai kau hamil dan dengan sengaja kau mengugurkannya, maka aku tak akan segan-segan untuk membuat hidupmu lebih menderita," ucap Lingga dengan tatapan seriusnya.
"Terus, perkara tak pakai pengaman …," tanya Mira.
"Itu juga ada dalam perjanjian. Jika sampai terjadi kontak fisik, pihak kedua boleh memakai jasa pihak pertama tanpa pengaman," potong Lingga.
"Kalau tak percaya, silakan saja kau baca ulang surat perjanjian kita, Nona Mira." Lingga lalu melepaskan tangan Mira, dan kembali berbaring di sampingnya.
Mira tertegun, memikirkan perkataan dari Lingga. Tanpa sengaja, ia mengulurkan tangannya dan mengusap lembut perutnya yang rata.
"Nggak! Ini nggak boleh terjadi!" batin Mira sambil mengeleng-gelengkan kepalanya, dan segera bangkit berdiri.
Lingga yang masih berbaring pun, setengah bangun, dan melihat Mira yang berlari ke arah lantai atas.
"Mau kemana kau?" tanya Lingga.
"Mandi," sahut Mira yang langsung menghilang di balik pintu kamar Lingga.
__ADS_1
Pria itu lalu kembali berbaring, dan meraih ponsel yang ada di saku celenanya. Ia membuka galeri foto, dan melihat potret dari sebuah kalender yang terdapat tanda lingkaran di salah satu tanggalnya.
"Pffffttt! Setakut itu kah kau, Mari. Tenang, aku sudah lihat kalendermu. Sekarang, bukanlah masa suburmu, jadi kau akan baik-baik saja," ucap Lingga sambil menahan tawanya.
Ia kemudian bangkit, dan berjalan menuju kamarnya di lantai atas menyusul Mira, membiarkan semua pakaian mereka tergeletak begitu saja di tempat tadi.
.
.
.
.
Nih, othor mau jelasin dikit soal kontra sepsinya Mira. Pada umumnya, setiap tempat hiburan malam kek gitu, selalu sedia pengaman jenis baloon banyak2, dan para pengunjung pun semuanya sadar akan pentingnya hal itu.
Karena apa? karena mereka secara sadar tau bahwa hubungan itu hanya sesaat dan tak ingin meninggalkan benih mereka di rahim wanita malam.
Begitu pun di paradise fall. Mereka selalu sedia benda kek gitu banyak2. Disetiap bilik dan kamar pun disediain pengaman jenis itu.
Selain itu, para ladies dituntut agar selalu sadar akan pentingnya hal itu bagi kelangsungan karir mereka, terlebih Mira yang memang selalu waspada dengan lawan mainnya, jadi dia akan lebih bisa meminimalisir kesalahan fatal itu. Tentu saja kecuali sama si doi yang selalu bisa bikin dia pasrah.
Wah … othor bikin adegan haredang nyampe 4 bab lho ya😱kebangetan kalo nggak pada kasih kopi seember buat othor. Sepet banget nih mata😏(malak mode on😆)
Like dan komen jangan lupa😊next eps tunggu besok lagi
__ADS_1