Mirage

Mirage
Gawat!


__ADS_3

Lingga terkejut mendengar perkataan Mira. Dia tak menyangka jika kata-katanya tadi membuat wanita itu terluka.


"Mir," panggil Lingga.


Dia berusaha meraih lengan wanitanya. Namun, Mira mundur dan berbalik hendak pergi menuju ke kamarnya.


Lingga cepat-cepat menyusulnya, dan sebelum Mira sampai di tangga, pria itu telah lebih dulu memeluk pinggangnya dari belakang.


"Maafkan aku, Mir. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku … aku cuma …," ucap Lingga.


"Aku tau ini berat, Kak. Makanya kalau kamu nggak sanggup, mending kamu lepasin aku aja …," Mira.


"Nggak! Aku nggak mau. Sampai kapan pun aku nggak akan lepasin kalian berdua," ucap Lingga yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Kak …,"


Lingga seketika membalik tubuh Mira, dan membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya, sebeluk si ratu es kembali mengatakan hal yang menyakitkan lagi.


"Eeehhhhhmmmm …," ciuman itu semakin lama semakin dalam dan membuat keduanya larut dalam perasaan yang tak menentu.


Tak ada h*srat di sana. Lingga dan Mira hanya saling meluapkan perasaan yang mendalam di antara mereka satu sama lain.


Lingga pun melepas pagutannya, dan menempelkan keningnya di kening Mira. Ia mengusap bekas basah di sudut bibir wanitanya dengan lembut.


"Jangan suruh aku lepasin kamu lagi yah. Maaf kalau aku udah buat kamu tersinggung tadi," ucap Lingga tepat di depan wajah Mira.


"Ehm … aku haya tidak ingin kamu kesulitan karena aku, Kak," sahut Mira.


Lingga seketika memeluk tubuh wanitanya, dan mendekap erat si ratu es yang sedang rapuh saat ini.


Tak sampai tiga puluh menit, waktu yang diberikan Lingga untuk menunggu Tania datang, ladies itu sudah lebih dulu hadir di sana.


"Heh, kamu … besok lagi jangan kesiangan datangnya. Ini sudah jam berapa? Saya harus berangkat ke kantor tapi tidak bisa gara-gara kamu belum datang," gerutu Lingga kepada Tania.


"Hei, Tuan. Dalam kerja sama kita, tidak ada aturannya saya datang jam berapa setiap harinya. Jadi, apa salahnya kalau saya ke sini siang hari. Lagi pula, pekerjaan saya sebagai ladies kan memang baru selesai saat fajar. Ini juga saya belum tidur sama sekali," balas Tania tak kalah sengit.


Mira yang melihat perdebatan keduanya pun hanya tertawa cekikikan.


"Eh, Semok. Diem lu! Nggak usah seneng kek gitu lihat gue di marahin sama cowo lu," seru Tania.


"Eh … kenapa malah marahin Mira. Di sini dia nyonya rumahnya. Jadi, kamu harus sopan sama dia," tukas Lingga.


Ish … rese banget. Kalo nggak gara-gara bayarannya yang lumayan, ogah deh gue nurutin maunya dua orang ini. Dasar si Mira rese. Malah seneng banget dia lihatin gue susah, batin Tania menggerutu.


"Kamu tetap di sini, jangan biarkan Mira sendirian. Nanti akan ada tukang ledeng yang datang, suruh masuk saja langsung agar airnya cepat bisa mengalir lagi." Lingga pun berjalan ke arah Mira, dan meraih tas kerjanya yang ada di depan si ratu es.


"Aku berangakt yah. Kamu baik-baik di rumah," ucap Lingga sambil mengusap lembut puncak kepala Mira, dan tak lupa sebuah kecupan singkat di kening wanita itu.


"Ehm … kamu juga hati-hati ya, Kak," sahut Mira.


Lingga tersenyum dan berbalik pergi.


Saat melihat tuan rumah sudah menghilang di balik pintu, Tania pun berjalan menghampiri Mira yang duduk dengan santai sambil mengemil buah-buahan.


"Ck! Gayanya kaya udah nikah aja kalian berdua," sindir Tania yang mengambil sepitong buah melon dari mangkuk yang ada di pangkuan Mira.


"Emang dia mau nikahin aku kok katanya," sahut Mira cuek.


"Kan baru katanya. Emang orang tuanya mau gitu punya mantu kek elu gini. Bekas banyak orang," cerocos Tania.


"Ya, kita lihat aja ntar. Kalo mereka mau, berarti gue bakal dapetin jackpot. Suami sultan. Hahahaha …," kelakar Mira yang seolah tak terbebani dengan itu semua.


Padahal, beberapa waktu yang lalu, dia sempat galau saat memikirkan hal tersebut.


"Eh, tadi kata cowo lu, mau ada tukang servise dateng?" tanya Tania.


"Iya. Air mati. Untung aja matinya pas kita udah pada mandi," gerutu Mira.

__ADS_1


"Untung ya. Kalo nggak, lengket dah tuh," sahut Tania sambil melirik ke arah sel*ngkangan Mira.


"Hish! Apaan sih lu, Puk. Ngeres aja tuh otak," keluh Mira.


"Udah kebiasaan, Mok. Hahaha …," giliran Tania yang berkelakar.


Menjelang siang hari, tania terlihat telah lelap tertidur di sofa, yang sudah di ubah menjadi tempat tidur oleh Mira.


Tempat yang sering dijadikan arena pertempuran antara Lingga dan dirinya, kini menjadi tempat tidur sementara bagi Tania, yang memang selalu mengantuk saat sepulang dari paradise fall.


Mira saat itu masih asik menonton TV, sambil duduk di samping rekannya yang sudah pulas.


Tiba-tiba, terdengar sebuah ketukan di pintu masuk. Mira yang masih belum berani membuka pintu pun, mau tak mau mengganggu tidur wanita di sampingnya.


"Puk! Bapuk! Eh … puk. Bangun!" panggil Mira sambil menggoyangkan tubuh rekannya itu.


"Ehm … apaan sih, Mok. Ganggui orang tidur aja deh," keluh Tania yang masih enggan membuka matanya.


"Puk, ada yang ketuk pintu tuh. Lihatin gih," seru Mira.


"Hah … intip aja dulu di lobang. Kalo aman, lu buka. Kalo nggak aman, ya jangan buka. Susah amat sih," ujar Tania yang masih terus terpejam sambil meracau.


"Tan. Gue masih nggak berani. Lu aja yang lihatin sana," rengek Mira.


"Ogah! Gue ngantuk," tukas Tania yang lanjut tidur.


"Ya udah. Gue bilangin ke Lingga kalo elu nggak beres kerjanya. Biar nggak dapet duit lagi lu," ancam Mira.


Seketika, Tania pun membuka matanya, dan bangkit dari tidurnya.


"Siap, Nyonya. Laksanakan perintah," ucap Tania yang terpaksa bangun dan terus mengomel sepanjang langkahnya.


Sesampainya di depan pintu, dia pun mengintip dari lubang pintu.


"Tinggal gini aja kok susah amat sih. Heran!" keluh Tania.


Dia melihat seorang pekerja dengan seragam berlogo kepala keran dan air menetes, tengah berdiri di depan pintu. Wajahnya tak terlihat dengan jelas, karena memakai penutup wajah dan topi.


Wanita yang setengah mengantuk itu pun segera membukakan pintu.


"Tukang ledeng yah?" tanya Tania sambil menggaruk kepalanya.


"Benar," sahut orang itu.


"Ya udah. Masuk," seru Tania yang langsung menyingkir dari depan pintu dan membiarkan tukang ledeng itu masuk ke dalam.


Mira yang sedari tadi duduk di ruang tengah, memperhatikan pria yang masuk, dan melempar pandang pada rekannya.


"Tukang ledeng," sahut Tania seolah tahu bahwa Mira menanyakan siapa orang asing yang masuk itu.


"Oh …," gumam Mira.


Tania pun kembali berbaring di dekat Mira, yang masih asik menonton acara TV kesukaannya.


"Maaf, apa di sini ada lem pipa?" tanya tukang ledeng itu.


Mira mendengarnya, namun wanita itu tak berani mendekati pria asing tersebut. Dia memilih untuk mengganggu kembali tidur Tania.


"Tan, coba kamu lihat dia ngomong apa," seru Mira.


"Apaan lagi sih, Mok. Ganggu aja deh," keluh Tania.


"Itu tukang ledengnya bilang apaan," ucap Mira.


"Ya tinggal tanya aja. Apa susahnya sih," keluh Tania.


"Hih … mau aku aduin ke Lingga, hah?" ancam Mira.

__ADS_1


"Hah … dasar tukang ngadu!" gerutu Tania.


Mau tak mau, dia pun bangun dan dengan malas menghampiri si tukang ledeng.


"Kenapa, Bang?" tanya Tania malas.


"Ada lem pipa nggak? Saya lupa bawa," ucap si tukang ledeng yang sedang berada di area dapur.


"Mok, lu punya lem pipa kagak?" teriak Tania ke arah Mira.


"Lem pipa? Ya kagak lah. Ngaco aja," sahut Mira dari ruang tengah.


"Nggak ada, Bang," ucap Tania kepada tukang ledeng itu.


"Bisa beliin di swalayan depan nggak?" pinta si tukang ledeng tadi.


"Hah … nambahin kerjaan aja. Emang abangnya nggak bisa beli sendiri?" rutuk tania.


"Enang nya bisa pegangin ini nggak?" ucap si tukang ledeng sambil menunjuk ke arah pipa yang terlihat kotor dan berlumut.


Tania bergidik jijik melihatnya.


"Dilepas aja sih, Bang," ujar Tania.


"Kalau dilepas, sisa air yang di lekukan ini bisa tumpah kemana-mana," jawab si tukang ledeng.


"Hah … ya udah. Cuma lem pipa doang kan?" tanya Tania yang terpaksa melakukan permintaan si tukang ledeng tadi.


"Iya, Neng," sahut si tukang ledeng.


Tania pun berbalik dan berjalan sambil menjejakkan kakinya kesal ke arah Mira.


"Nggak profesional banget sih! Harusnya dicek dulu alat-alatnya. Lengkap apa nggak. Jangan malah dibuka dulu kaya gitu. Kan yang repot gue juga," gerutu Tania.


"Kenapa sih?" tanya Mira.


"Gue keluar bentar. Lu diem di dalem aje ye," seru Tania.


Wanita itu pun kemudian keluar meninggalkan Mira berdua dengan si tukang ledeng. Si ratu es pun tak terlalu mempedulikan keberadaan si tukang ledeng, selama itu bukan Erik.


Di depan lift, Tania terus saja ngedumel karena kedua orang itu mengganggu waktu istirahatnya yang berharga.


"Hah … nasib gini amat. Mau tidur aja nggak bisa," gerutu Tania.


Pintu lift terbuka, dan dia pun masuk ke dalam. Wanita itu nampak menyandarkan punggungnya di dinding lift.


"Tapi, aku kayaknya nggak asing deh sama tukang ledeng itu. Tapi siapa yah?" gumam Tania mencoba mengingat-ingat.


Angka di atas pintu lift sudah menunjukkan angka satu, pertanda jika dia sudah sampai di lobi Royal Rose Tower. Tania pun keluar dari lift dan berjalan menuju ke arah luar.


Saat dia melewati meja resepsionis, dia sayup mendengarkan pembicaraan seseorang yang tengah bertanya pada petugas di sana.


"Apa di sini ada penghuni yang bernama Feronika Wang?" tanya seseorang.


"Tunggu sebentar, saya akan coba lihat di daftar penghuni apartemen," sahut petugas tersebut.


Seketika itu, Tania menghentikan langkahnya. Ingatannya kembali saat dirinya membukakan pintu untuk pria yang menanyakan Mari tempo hari, yang membuat si ratu es mendapatkan serangan panik.


Dia pun segera berbalik dan berlari menuju lift, namun sayang, semuanya tertutup. Tania panik, dan memilih untuk naik menggunakan tangga darurat.


"Dia orang yang waktu itu. Gawat! Si semok dalam bahaya,"


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2