Mirage

Mirage
Panik


__ADS_3

Pagi itu, Thom berangkat ke kantor dari paradise fall. Ia pergi pagi-pagi, bahkan sebelum cleaning service mulai datang untuk bekerja.


Saat ini, dia tengah duduk di dalam kantornya, berkutat dengan berbagai dokumen yang ada di atas meja.


Hari itu, jadwal Thomas cukup senggang. Ia masih mengingat pesan Mira yang dikirimkannya kemarin, yang mengatakan akan menjual mobilnya hari ini.


Dia tertawa mengingat akal Mira yang selalu bisa lepas dari masalah.


"Apa aku harus bertindak, agar dia tak jadi menjual mobil itu? Mobil itu kalau pun dijual, harganya pasti masih bisa melebihi jumlah satu miliyar. Hahahaha … Tuan Lingga, apakah Anda yakin untuk meminta saya tetap diam saja?" seru Thom pada dirinya sendiri, kala berada di dalam ruang kerjanya.


Waktu sudah cukup siang. Kala itu jam menunjukkan pukul sepuluh siang. Thom tengah memeriksa laporan-laporan penjualan brand fashion-nya, ketika sebuah panggilan datang.


Pria paruh baya itu pun lalu melihat nama si penelepon di layarnya.


Dahinya berkerut, saat sebuah nomor tak dikenal melakukan panggilan dengannya. Thom pun langsung menggeser tombol hijau ke kanan.


"Halo!" sapa Thom yang menghentikan pekerjaannya, dan mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan orang di seberang.


"Maaf, Bos. Kami ada berita buruk. Seseorang telah melakukan sabotase pada mobil Nona Mira. Kami sedang menunggu kedatangan montir untuk memperbaikinya," ucaonya.


"Sabotase? Cepat perbaiki! Sebentar lagi, Mira pasti akan memakai mobil itu. Jangan sampai dia tau apa yang sedang terjadi," seru Thomas.


"Baik, Bos." Panggilan pun dimatikan.


Thomas memijat pelipisnya, sambil menundukkan kepala.


"Apa lagi ini, Soraya?" gumamnya.

__ADS_1


Saat itu lah, terbersit satu nama di benaknya.


"Lingga. Ya, aku harus minta bantuannya," gumam Thom.


Pria buncit itu pun lalu mencoba menghubungin Lingga, namun dia sangat susah sekali dihubungi. Berkali-kali Thomas mencoba menghubunginya, namun sia-sia. Lingga sama sekali tak menjawab.


Thom pun akhirnya mengirimkan lesan teks yang berisikan informasi jika Mira dalam bahaya, dan memintanya agar mencegah wanita itu mengendarai mobil sport-nya.


Lama menunggu, namun Thomas tak kunjung mendapat jawaban dari Lingga, hingga panggilan dari nomor tak dikenal kembali masuk.


"Bos, Nona Mira kelihatannya akan pergi. Dia terlihat sedang menunggu lift di lantai atas," ucap orang di seberang.


"Tahan dia. Aku akan kesana dan mencegahnya sendiri," jawab Thom yang langsung mematikan teleponnya.


Thomas segera keluar dari kantornya, dan meminta sang supir untuk mengantarkannya ke apartemen The Royal Blossom.


Di The Royal Blossom, Mira yang tengah menunggu lift, tiba-tiba mendapat panggilan dari ponselnya.


Ia pun mengambil hand phone yang berada di dalam tasnya, dan melihat siapa si penelepon itu.


"Thom? Mau apa dia hubungin gue," ucap Mira sambil memandangi ponselnya.


Namun, dia tak peduli dan malah mematikannya. Mira kemudian mengganti setelan ponselnya ke mode senyap, sehingga dering telepon tak lagi mengganggu dirinya.


"Gue mau ngambek. Biarin dia ke sini dan mohon ampun sama gue. Siapa suruh dia nyuekin gue duluan," ucap Mira pada dirinya sendiri.


Saat ia sedang kesal dengan Thomas, seorang wanita tua datang menghampirinya dan ikut menunggu di depan pintu lift. Wanita tua itu nampak sedikit kebingungan, dan membuat Mira bertanya padanya.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Ibu mau ke mana?" tanya Mira mendekati si wanita tua.


"Mau cari alamat ini, Nak," kata wanita itu sambil menunjukkan sebuah alamat pada secarik kertas.


Mira melihatnya dan mencoba berpikir. Dia lalu membuka ponselnya dan mengetikkan alamat yang ada di kertas. Setelah beberapa saat Mira pun memberi tahukannya kepada si wanita tua itu.


"Sepertinya, Ibu salah masuk Tower. Ini Tower Royal Rose, kalau yang Ibu cari Tower Royal Orchid," tutur Mira sambil mengembalikan kertas berisikan alamat itu.


"Oh … salah ya. Pantas saya kebingungan nyarinya. Ehm … bisa tolong sekalian antarkan saya nggak, Nak?" pinta wanita itu.


"Ehm …," Mira nampak berpikir.


Ia lalu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Masih jam segini. Nggak papalah," batinnya.


"Ya udah, Bu. Mari saya antar," ucap Mira.


Mira dan wanita itu pun lalu menuruni lift, menuju ke lobi bawah. Keduanya kemudian menuju ke Tower yang dimaksud dalam alamat yang ditunjukkan oleh si wanita tua tadi.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2