
Lingga kalang kabut saat mengetahui Mira hilang. Dia baru saja mendapat kabar dari salah satu penjaga yang sempat pingsan, namun kemudian sadar dan memeriksa kondisi di dalam ruang rawat itu.
Dia sangat terkejut saat mendapati Tania yang telah tergeletak tak sadarkan diri di lantai, dengan Mira yang sudah tak ada lagi di dalam sana.
Dia pun membantu wanita malang itu untuk berbaring kembali ke tempat tidur, dan memanggilkan seorang petugas medis asli untuk memeriksa kondisi Tania.
Setelah itu, dia menyampaikan situasi tersebut kepada Nicholas.
"Cepat cari tau di mana mereka membawa Mira pergi! SEKARANG!" pekik Lingga kepada sang asisten.
"Baik, Tuan," sahut Nicholas.
Lingga menyesali keputusannya yang lebih mementingkan pertemuannya dengan sang investor, yang ternyata malah meng-cancel meeting tersebut, sehingga membuat Mira lepas dari pengawasannya dan sampai diculik seperti ini.
Setelah sang asisten pergi, dia pun bergegas menuju ke rumah sakit untuk mencari informasi mengenai kejadian ini lewat Tania yang dikabarkan mulai sadar.
Sesampainya di sana, dia melihat jika Tania saat itu duduk bersandar di atas tempat tidurnya.
"Kenapa Mira sampai hilang? Ke mana kamu tadi hah?" bentak Lingga setibanya di ruang tawat itu.
"Maaf, Tuan. Sepertinya, orang yang Anda tangkap waktu itu, bukanlah orang yang bernama Erik," tutur Tania.
"Apa maksudmu?" tanya Lingga yang nampak kebingungan.
"Orang yang membawa Mira pergi, adalah Erik. Dialah orang yang waktu itu mencari orang bernama Mari, dan menyamar sebagai tukang ledeng palsu," ungkap Tania.
"Apa?!" pekik Lingga.
Bagaimana bisa? batin Lingga.
Dia berjalan mendekat ke arah Tania, dan mencengkeram kerah baju pasien yang dikenakan oleh wanita itu.
"Kamu jangan bicara yang tidak masuk akal begitu. Jelas-jelas, Mira mengatakan kalau itu adalah Erik, kakak tirinya," elak Lingga.
"Bukan, Tuan. Dia orang yang berbeda. Aku yang waktu itu setengah sadar karena kepala yang terbentur, ditambah Mira yang panik, membuat kami tak bisa mengenali orang itu dengan baik," jawab Tania.
Lingga pun terkejut. Dia merasa sangat b*doh karena tak tahu sama sekali wajah asli dari orang yang bernama Erik itu.
Dia melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Tania perlahan, sambil mundur beberapa langkah dengan gontai.
Kenapa? Kenapa aku bisa seb*doh ini? Melindungi satu orang yang berharga saja tidak becus, batin Lingga.
Lingga mulai mencoba tetap berpikir jernih, namun rasa khawatirnya membuat pria itu tak mampu berbuat apapun kecuali diam.
Sebuah panggilan masuk dari Nicholas.
"Halo, Nick. Apa sudah ada kabar?" tanya Lingga.
__ADS_1
"Mereka menuju ke arah pelabuhan, Tuan. Sekarang, Kami sedang mencoba mencari keberadaan mereka," tutur Nicholas.
"Pelabuhan? Baiklah, aku akan segera menyusul ke sana," ucap Lingga.
Pria itu terlihat berlari keluar meninggalkanTania yang masih terdia di atas ranjangnya.
Puk, semoga elu baek-baek aja ya, batin Tania yang bedoa untuk rekannya itu.
...💋💋💋💋💋...
Di perjalanan, Lingga teringat akan alat penyadap yang terpasang di hampir seluurh ruangan di apartemennya.
Kenapa dia harus menaruh penyadap di apartemen? Apa yang mau dia tau dari kami? batin Lingga.
Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga membuat klaksonnya tak berhenti berbunyi untuk membuat pengemudi lain menyingkir dari jalurnya.
Namun, tiba-tiba, dia menginjam pedal rem mendadak dan hampir membuat kecelakanaan beruntun, jika saja kendaraan dibelakangnya tak segera menghindari.
"Heh bangs*t! Kalo nyetir ati-ati dong! Emang ni jalam punya nenek moyang lu!" maki pengemudi yang hampir menabrak mobil pria itu dari belakang.
Sumpah serapah ditujukan kepada Lingga yang masih berada di dalam mobilnya.
Tunggu dulu. Dia memasang penyadap, dan pergi begitu saja harinitu. Tapi, tiba-tiba dia datang dan menyerang Mira dan Tania, batin Lingga mecoba menyusun keoingan puzzle masalah ini.
Apa yang dia dengar sebelum itu? Oh, Jangan-jangan, dia mendengar pembicaraan antara pengacara itu dengan kami. Tapi, apa hubungannya dengan dia. Apa mungkin, ini semua ada kaitannya dengan Thomas? lanjut Lingga dalam hati.
"Halo, Nick!" sapa Lingga.
"Ya, Tuan. Maaf, kami belum menemukan keberadaan Nona Mira," sahut Nick.
"Tetap cari sampai dapat," seru Lingga.
"Baik," sahut Nicholas.
"Ada satu hal lagi yang ingin ku tanyakan padamu. Siapa investor yang tadi meminta bertemu dengan ku tapi tiba-tiba cancel?" tanya Lingga.
"Mereka dari The silk, Tuan," jawab Nicholas.
"The silk? Perusahaan apa itu?" gumam Lingga.
Dia nampak berpikir tentang perusahaan tersebut.
"Ehm … The silk itu bukan perushaan yang mandiri, Tuan. Tapi, itu adalah anak perusahaan dari The fortuna, milik Tuan Thomas yang dikelola oleh istrinya," tutur Nicholas.
Binggo! Ketemu sekarang ujung dari benang kusutnya, batin Lingga.
"Nick, coba cari bangunan atau container milik The fortuna atau The silk yang ada di sekitar atau di dalam area pelabuhan. Kemungkinan besar, Mira ada di tempat itu," seru Lingga.
__ADS_1
"Bagaimama Anda bisa tau?" tanya Nicholas memastikan.
"Cepat cari saja dulu. Nanti ku jelaskan semuanya setelah ini selesai," ucap Lingga.
"Baik, Tuan," sahut Nicholas.
...💋💋💋💋💋...
Sementara itu, di sebuah gudang kosong di daerah pesisir ibu kota. Tempat yang sudah lama tak terpakai dan sangat kotor. Tampak seorang wanita diikat tangannya ke belakang disebuah kursi dalam keadaan duduk dan masih tak sadarkan diri, di tengah sebuah ruangan yang temaram, dengan hanya diterangi oleh sebuah lampu yang tepat berada di atasnya.
Rambut panjangnya yang tergerai acak-acakan menutupi hampir seluruh wajahnya. Beberapa orang pria berpakaian hitam nampak berjaga di setiap sudut ruangan itu.
Seorang pria yang mengenakan jaket berhoodie masuk dan berjalan menuju ke tengah, di mana wanita itu berada. Tangannya terulur, dan mengangkat dagu si wanita dengan jari telunjuknya, lalu menjatuhkannya lagi begitu saja.
"Heh … ajalmu akan segera datang, adikku sayang. Kau akan segera bertemu dengan ibu mu. Wanita murahan yang sudah membuat ibu kandungku pergi meninggalkan aku dan juga ayah ku," maki pria itu yang tak lain adalah Erik.
Dia lalu duduk di sofa usang yang berada di sudut ruangan. Dalam kegelapan, dia terus memperhatikan adik tirinya yang masih belum sadar.
Tak lama kemudian, nampak seorang wanita mengenakan gaun hitam dengan sarung tangan berwarna senada, memasuki ruangan yang hanya di sinari oleh sebuah lampu gantung yang berada tepat di atas Mira yang masih pingsan.
Wanita yang tak lain adalah Soraya, berjalan mendekat ke arah Mira, dengan pandangan yang merendahkan.
"Akhirnya, kali ini aku akan benar-benar melenyapkanmu dengan tanganku sendiri. Aku pastikan kau tak akan kesepian, karena anakmu …," Soraya membelai perut Mira yang terlihat sedikit membuncit.
"… akan ikut menemani mu di neraka! Cepat siram Dia dengan air. Buat dia sadar. Aku ingin lihat bagaimana reaksi dia saat melihatku," seru Soraya kepada salah satu anak buahnya.
Tak perlu menunggu lama, seember air di tumpahkan ke atas Mira langsung, dan membuat wanita itu gelegapan hingga sadar dari pengaruh obat yang disuntikkan oleh Erik kepadanya.
"Hah … hah … hah …." Mira berusaha mengambil nafas yang seolah begitu tipis ditempat itu.
Dia pun mengedarkan pandangangnya, dan mencoba menyadarkan diri sepenuhnya.
Gelap. Di mana aku? Batin Mira.
"Putri Sofia. Akhirnya kita berdua bisa bertemu kembali, setelah lima tahun," ucap Soraya.
.
.
.
.
Mulai ke puncak yah guys. Novel ini akan segera tamat saat Soraya dan Erik sudah bisa disingkirkan🤧
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1