Mirage

Mirage
Sihir


__ADS_3

Mira mencoba mengatur nafasnya, dan menormalkan debaran di dadanya akibat ulah Lingga, yang benar-benar sudah membuatnya lepas kendali.


"Gila! Gimana dia bisa lakuin ini? God, bagaimama ini? Apa Dia tahu kelemahan gue," Mira duduk sembari mengusap wajahnya yang masih memerah.


Ia menyadari jika saat ini, tubuhnya sudah setengah telan*jang, dengan bagian atas yang robek dan merosot ke bawah, dan bagian bawah yang terbuka lebar. Hanya perutnya saja yang masih tertutup sisa bajunya.


"Breng*sek! Apa ini?" Mira memekik kaget, ketika melihat kedua buah dadanya berubah warna menjadi totol-totol merah, akibat ulah Lingga yang telah meninggalkan banyak bekas kecupan di sana.


"Sial! Kenapa gue sampe nggak nyadar? Ini kan lama hilangnya! Aaarrgghhhh …," keluh Mira.


Untuk seorang wanita malam, kiss*mark adalah hal terlarang yang tidak boleh ada di atas kulit mereka. Tanda merah itu seperti sebuah stempel, atau tanda kepemilikan. Sedangkan wanita malam adalah wanita yang bebas dinikmati oleh siapa saja. Tidak ada yang bisa memiliki mereka sepenuhnya.


Bahkan, jika mereka sampai lupa diri dan membiarkan tamu mereka memberikan tanda itu, maka selama tanda itu belum hilang, maka mereka tak bisa melayani siapa pun. Karena apa? Itu menandakan jika mereka adalah sebuah barang bekas, walau pun sudah barang tentu jika wanita malam adalah sisa orang. Namun dengan adanya tanda merah di kulit mereka, sangat memperjelas status mereka, dan sebagian pria merasa jijik akan hal itu.


Mira bangkit berdiri dan berjalan ke arah sofa, dan mengambil beberapa lembar tisu yang terdapat di atas meja.


Wanita itu lalu membersihkan miliknya yang sangat basah, akibat ulah Lingga barusan.


"Gue yakin, di dalam dia pasti sedang main solo. Heh … dasar sok keren!" gerutu Mira yang menerka tentang apa yang tengah dilakukan Lingga di dalam sana.


Setelah selesai mengelap miliknya, Mira membuka kotak yang tadi ditunjuk oleh Lingga, yang berada di atas meja.


"Baju model apa ini?" Mira mengangkat baju yang sudah disiapkan oleh Lingga.


Tampak sebuah setelan piyama tidur, dengan motif karakter kuda poni berbahan katun. Baju dan celana semuanya panjang, dan longgar jika dipakai oleh Mira.


"Apa dia serius minta gue pake pakaian ini di waktu kencan?" tanya Mira yang berdialog seorang diri.


Sempat berpikir agak lama, akhirnya Mira pun mulai melepaskan pakaiannya yang sudah sobek, dan menggantinya dengan piyama lucu itu.


"Dari pada pake baju robek kaya orang gila, mending pake ini aja deh," gumam Mira sembari mengenakan piyama pemberian Lingga.


Wanita itu lalu mengambil sebugkus ro*kok beserta pemantik dari dalam tasnya yang tergeletak tak jauh dari posisinya saat itu. Dia mengambil sebatang dan mengapitnya dengan jari tengah dan telunjut, lalu kemudian menyulutnya.


Bibir seksinya mulai menyesap bahan beracun itu dengan nikmat dan menghembuskan asapnya yang mengepul di dalam kamar hotel itu.

__ADS_1


Kakinya ia angkat dan diletakkan lurus di atas meja, dengan tangan kirinya yang berada di depan dada untuk menyangga lengan kanan yang tengah mengapit sebatang ro*kok.


Setelah cukup lama, dan ro*kok Mira hampir habis, Lingga keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bath robe saja.


Mira tersenyum Miring saat melihat pria itu berjalan ke luar.


"Heh … bener kan dia habis solo. Sok-sokan sih!" batin Mira yang menertawakan Lingga.


Lingga berjalan menuju sofa, di mana Mira tengah duduk bersandar, dengan kaki yang masih berada di atas meja.


Dengan gerakan tiba-tiba, Lingga memajukan wajahnya hingga tepat berada di samping telinga Mira, dengan tangannya yang sudah melingkar di belakang sandaran sofa wanita itu.


"Apa hukuman yang tadi belum cukup, Hah?" ucap Lingga yang sontak membuat mata Mira membulat.


Wanita itu pun menoleh, dan pandangan mereka bertemu. Mira membeku, kala nafas segar yang keluar dari mulut Lingga menerpa kulit wajahnya.


Sedangkan Lingga, menirukan gaya Mira saat menyesap ro*kok dan meniupkan nafasnya ke wajah Mira.


Entah sihir apa yang dilakukan Lingga, hingga Mira yang seorang pembangkang, tiba-tiba saja langsung berdiri dan menoleh ke kanan dan kirinya, sambil mencari sesuatu.


"Itu dia," batin Mira saat melihat sebuah asbak yang terdapat di meja depan TV.


Bahkan, tanpa Lingga perintah pun, kini Mira sangat cepat paham dengan apa yang diperintahkan. Lingga pun tersenyum tipis melihat tingkah Mira yang mendadak jadi penurut.


"Kena kau sekarang. Aku tau kelemahan mu, Mari," batin Lingga yang tersenyum ke arah wanita cantik itu.


Setelah mematikan rokonya, Mira berjalan ke arah jendela kamar, dan membukanya lebar-lebar.


"Apa kau mau nyamuk-nyamuk masuk ke dalam sini, Nona?" tanya Lingga sambil berjalan menuju ke arah Mira.


"Biarkan sebentar, agar asapnya keluar semua, Tuan," jawab Mira.


Kini, Lingga sudah berada di samping Mira, dan kembali dengan tiba-tiba, dia menoleh lalu membungkukkan badannya agar sejajar dengan wanita itu, hingga wajah mereka kembali sangat dekat dan hampir tak berjarak.


Mira yang kaget pun sontak memundurkan wajahnya, hingga dia hampir terjungkal ke belakang.

__ADS_1


"Ah …," pekik Mira saat hendak terjatuh.


Beruntung, Lingga dengan sigap meraih pinggang ramping wanita cantik itu, dan menariknya kedepan hingga tubuh mereka kini tak berjarak lagi.


Mira memegangi lengan Lingga yang masih melingkar di pingganya, seraya hendak melepaskan diri. Namun, Lingga kembali memajukan wajahnya dan membuat Mira melengos, memalingkan wajah.


"Panggil aku dengan yang tadi," ucap Lingga datar.


"Panggil apa?" tanya Mira yang berusaha menutupi kegugupannya.


"Apa kau lupa? Haruskah ku ingatkan?" tanya Lingga yang membuat Mira kembali menoleh.


Pandangan mereka bertemu, dan lagi-lagi Mira bagai tersihir oleh pesona Lingga. Wanita itu membeku, dengan perasaan berdebar kala merasakan nafas berbau mint yang keluar dari mulut Lingga, kembali menerpa kulit wajahnya.


Lingga pun dengan perlahan mendekatkan wajahnya ke samping, mengarah ke telinga Mira dan membisikkan sesuatu.


"Aaaaaahhhhhh … Kak … Aaaaahhhh …," ucap Lingga, tepat di depan lubang telinga Mira, yang sukses membuat mata wanita itu membola.


Rona merah pun seketika muncul di pipi Mira akibat perkataan Lingga, yang mengingatkannya akan hal memalukan yang haru saja terjadi.


Mira menggigit bibir bawahnya, seraya memejamkan mata, dan berusaha menahan rasa malu yang menyerangnya.


Lingga tersenyum tipis, saat melihat tinggkah Mira, dan melepaskan lengannya dari pinggul wanita itu.


Bertepatan dengan saat itu, pintu kamar diketuk, dan Lingga pun berjalan menuju ke depan, sambil mengulum senyumnya.


"Kau lucu sekali, Mari. Aku sangat gemas melihatnya," batin Lingga.


.


.


.


.

__ADS_1


Dukungan di event mager up masih berlangsung ya guys😅(nama event nya bukan itu sih, cuma othor aja yang bolang kek gitu🤭)


Oke deh, next ep besok lagi yah😊janga lupa like dan komennya🙏


__ADS_2