Mirage

Mirage
Waktunya mengungkap


__ADS_3

Dua hari berlalu sejak pertemuan rahasia antara Mira dan juga Steve. Kini, pria itu nampak tengah berdiri di depan gedung Shine group, di mana Lingga sedang berada di kantornya.


"Permisi, saya Steve Lee. Saya ada keperluan dengan Tuan Lingga," ucap Steve kepada resepsionis di lantai bawah.


"Baik. Silakan tunggu sebentar," sahut si resepsionis.


Steve mengangguk, dan dia pun menunggu di depan meja resepsionis tersebut. Tampak petugas tadi sedang menelpon seseorang, dan menanyakan perihal kesediaan atasannya untuk bertemu dengan tamu tak di undang itu.


Tak berselang lama, sang petugas resepsionis kembali berbicara kepada Steve dan menyampaikan pesan dari sang atasan.


"Maaf, Tuan Lee. Tapi, Tuan Lingga sekarang sedang sangat sibuk. Mohon datang lagi lain kali, dan buat janji terlebih dahulu," ucapnya.


"Oke. Baiklah. Ini memang salahku yang tiba-tiba saja datang. Terimaksih ya," sahut Steve yang kemudian berjalan menuju kursi tungu yang ada di area lobi.


Dia nampak mengeluarkan ponselnya dari dalam tas tangan yang ia bawa.


[ Aku beri kau satu kesempatan lagi. Temui aku di restoran yang ada di seberang kantormu, sekaligus bawa kontrak kerja sama kita. Jika kau menyia-nyiakan kesempatan ini, maka aku akan benar-benar meminta Mira darimu,] pesan Steve yang ia kirimkan ke nomor Nicholas.


[ Tolong sampaikan pesan tadi kepada bosmu, Tuan Nciholas,] lanjutnya memberi arahan kepada si empunya nomor.


Steve tak memiliki nomor Lingga sebelumnya. Satu-satunya orang yang biasa ia hubungin selama mengikuti sayembara adalah sang asisten, Nicholas.


Tak berselang lama, ponselnya berdering. Steve melihat siapa yang melakukan panggilan ke nomornya.


"Nicholas?" gumamnya.


Dia pun kemudian mengangkat panggilan tersebut.


"Hal …,"


"Apa maksud pesanmu tadi, hah?" bentak suara di seberang yang terdengar begitu marah.


Lingga? batin Steve yang merasa mengenal suara tersebut.


"Oh … rupanya Tuan Lingga sendiri yang bicara. Suatu kehormatan untuk saya, yang hendak menemui Anda," sahut Steve dengan santainya.


Rupanya, setelah Nicholas menyampaikan pesan dari Steve, Lingga memintanya untuk segera melakukan panggilan kepada pria itu.


"Apa maksud pesanmu tadi, Br*ngsek?" tanya Lingga yang masih emosi atas permintaan Steve tempo hari.


"Yah … seperti yang ku tulis di sana, aku telah mengganti syaratnya dari makan malam menjadi makan sjang, dan bukan dengan Mira melainkan dengan mu, Tuan Lingga," papar Steve.


"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran? Apa rencanamu sebenarnya?" tanya Lingga yang tak mau percaya begitu saja kepada rival cintanya itu.


"Yah … anggap saja ini hadiah selamat datang untuk keponakanku," sahut Steve dengan senyum getirnya.


"Apa maksudmu? Jangan membuat alasan yag aneh," seru Lingga yang masih tak mau percaya akan perubahan sikap Steve kepadanya.


"Yah, terserah kau saja. Intinya, aku sudah berbaik hati. Jika kau lewatkan kesempatan ini, maka selanjutnya aku akan benar-benar meminta Mira sebagai syartanya. Aku tunggu di restoran depan, setengah jam dari sekarang. Lewat dari itu, tawaran ku tadi tak berlaku lagi," ucap Steve yang kemudian memutus sambungan telepon.

__ADS_1


Pria bermarga Lee itu pun kemudian berjalan keluar menuju ke restoran, yang ada di seberang gedung Shine Group.


Ia memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela, agar saat Lingga datang dia bisa menyiapkan dirinya.


Sejujurnya, berat bagi Steve untuk mengalah pada Lingga. Namun, semua yang diucapkan Mira tempo hari, tak ubahnya sebuah deklarasi bahwa dirinya hanyalah milik Lingga seorang.


Meski pria itu tak mau menerimanya kelak, maka tak akan ada pria lain di hidupnya.


Steve pun dengan berat hati merelakannya, dan hanya bisa mendoakan agar wanita yang sudah mencuri hatinya sejak pertemuan pertama itu, bisa bahagia bersama pria yang dicintainya.


Hampir setengah jam sudah, Steve menunggu. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan jika waktu yang diberikannya kepada Lingga tinggal lima menit lagi.


Namun, di saat-saat terakhir, pimpinan Shine Group itu pun muncul dari pintu masuk gedung, dan tengah berjalan menuju ke tempat dirinya berada.


Steve pun mempersiapkan dirinya, untuk kembali menghadapi pria arogan yang pencemburu itu.


...💋💋💋💋💋...


Sementara itu, di apartemen The Royal Blossom, Mira tengah berbincang dengan seseorang di telepon.


"Lu utang penjelasan sama gue, Tan," ucap Mira yang rupanya tengah berbicara dengan teman sekaligus rivalnya di paradise fall.


"Oke. Gue bakal ceritai semuanya sama elu, full version. Mau ketemu di mana?" sahut Tania.


"Lupain dulu urusan itu. Gue kenal banget sama elu, dan gue percaya kalau elu nggak terlibat sama semua ini," tutur Mira.


"Gue tau elu, Tan. Dari dulu lu emang nggak pernah suka sama gue. Tapi, sekalipun nggak pernah elu main kotor kek gini sama gue. Jadi, cukup kan buat gue percaya sama elu," ungkap Mira.


"Ya … ya … analisis lu lumayan juga. Jadi, apa mau lu telepon gue, hah?" tanya Tania.


"Gue butuh bantuan lu," seru Mira.


Dia pun mengatakan rencananya untuk mengungkap siapa orang di balik peristiwa mengerikan yang hampir menimpa dirinya di Grand moon beberapa hari yang lalu.


Mira ingin semua orang tau, siapa yang sudah mencoba bermain kotor dengan dia, dan memberikan efek jera agar orang itu tak lagi melakukan hal sekotor itu, apapun alasannya.


"Paham kan lu?" taya Mira setelah selesai menjelaskan rencananya.


"Iya, gue nggak b*do-b*do amat kok," sahut Tania.


"Oke, gue tunggu aksi lu," seru Mira.


Sambungan pun terputus. Mira kini tengah duduk di balkon apartemn Lingga, dan menatap lurus ke cakrawala luas.


"Kita lihat, wujud apa yang ada di balik topeng polos lu itu," gumam Mira dengan tatapan tajamnya.


Malam ini, Mira bermaksud untuk pergi ke paradise fall. Dia ingin mengungkap kenapa temannya dengan tega menjebak dirinya.


Sore itu, Mira menghubungi Lingga dan meminta ijin untuk pergi ke tempat Mom Winda.

__ADS_1


"Halo, Kak. Sibuk nggak?" tanya Mira seketika saat sambungan terhubung.


"Nggak kok. Cuma lagi siapin proyek yang mau dimulai dalam waktu dekat. Kenapa, Mir?" sahut Lingga.


"Wah … udah dapet arsiteknya, Kak?" tanya Mira yag pura-pura tak tau.


"Nggak kok. Masih arsitek gila itu. Dia tadi siang tiba-tiba dateng dan setuju dengan kerja samanya," jawab Lingga.


"Kok bisa gitu?" tanya Mira lagi.


"Nggak tau. Mungkin kepalanya terbentur," jawab Lingga sekenanya.


"Hahahaha … Kakak, ada-ada aja," sahut Mira.


"Kamu telepon cuma mau tanya itu?" tanya Lingga.


"Oh … nggak kok. Aku mau minta ijin, ntar malem mau ke paradise fall. Boleh yah," rengek Mira seperti biasa.


"Mau apa lagi ke sana? Tebar pesona lagi?" sindri Lingga.


"Ih … nggak lah. Ngapain tebar pesona. Nggak usah ditebar juga udah pada terpesona kali, Kak. hehehe … becanda, Kak. Boleh ya," bujuk Mira.


"Iya mau ngapain dulu ke sana?" tanya Lingga lagi.


"Ya cuma kangen aja sama semuanya. Kan terakhir kali ke sana, belum sempet nyapa udah ditarik pulang duluan sama Kakak. Lupa?" keluh Mira kesal.


"Tapi nggak ada deket-deket sama cowo lagi," perintah Lingga tegas.


"Iya janji. Nggak ada deket-deket cowo, nggak ada mabuk, nggak ada tebar pesona. Udah?" ucap Mira.


"Ya udah. Tapi nanti aku jemput yah," seru Lingga.


"Oke, Tuan Lingga … dasar posesif," gumam Mira di akhir kalimat.


"Aku denger, Mir," ujar Lingga.


"hehehe … iya, Kakak sayang. Udah yah, aku mau siap-siap dulu. Dah, Kakak," kata Mira sambil menutup sambungan teleponnya.


"Saatnya beraksi." Mira menyunggingkan sebelah sudut bibirnya dan berjalan menuju ke dalam kamar mandi.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁

__ADS_1


__ADS_2