
"Eng!"
Sebuah erangan lirih keluar dari bibir seorang gadis yang terbaring lemah di ranjang pasien, dengan selang infus dan transfusi darah yang menancap ke dalam lengannya.
"Mari! Nak, kamu sudah sadar?" seru seorang wanita paruh baya yang nampak khawatir dengan keadaan gadis itu.
Pelan-pelan, Mari mulai mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya terang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Ibu …," ucapnya lirih sambil menoleh ke arah wanita tadi, yang tak lain adalah ibunya.
"Mari, Kamu sudah sadar, Nak!" Wanita itu segera menekan tombol darurat yang ada di sebelah ranjang pasien.
Dengan mata berkaca-kaca, namun tersenyum, ia memandangi wajah sang putri yang telah terbaring tak sadarkan diri selama lebih dari tiga hari di rumah sakit.
Mari mengalami luka yang cukup parah. Sebuah luka tusukan itu sangat dalam, dan mengenai sebagian ginjalnya, sehingga dia pun harus menjalani operasi darurat.
Selama ia tak sadarkan diri, hanya ibunya lah yang selalu berada di sisinya, dengan perasaan cemas jika sang anak tidak akan bangun.
Namun, hari ini dia bisa bernafas lega, karena putri kecilnya telah membuka matanya kembali.
Setelah melakukan berbagai macam pemeriksaan, dokter mengatakan jika Mari bisa pulih dalam waktu satu minggu, dengan syarat, gadis itu jangan banyak bergerak dulu dan tetap di tempat tidur, kecuali jika ada keperluan khusus seperti pergi ke toilet.
"Tapi ada satu hal yang harus saya beritahukan, kepada ibu dan juga adik, bahwa luka yang diderita adik ini cukup dalam dan lebar, sehingga akan meninggalkan bekas luka yang cukup besar. Tapi, hal itu bisa diatasi dengan operasi plastik atau pengangkatan keloid. Jika berkenan, kami bisa agendakan hal tersebut dengan dokternya," kata sang dokter.
"Operasi plastik?" gumam Mari lirih.
"Iya, operasi plastik untuk menghilangkan bekas luka adik nanti," tambah dokter yang mendengar gumaman Mari.
"Be … berapa biayanya?" tanya Mari.
"Untuk hal itu, adik tidak perlu khawatir karena semua sudah …,"
"Cukup!" potong Ibu Mari dengan sedikit membentak, hingga dokter seketika terdiam dan tak meneruskan perkataannya.
"Cukup, Dok! Saya rasa masalah bekas luka tidak terlalu penting. Apa lagi, masih bisa ditutupi dengan pakaiannya. Benarkan, Nak. Hem," ucap Ibunda Mari dua arah, kepada dokter dan juga kepada sang putri.
Dokter menatap tajam bola mata Ibu Mari, dan wanita itu pun membalas tatapan sang dokter sembari menggelengkan kepalanya pelan.
Terdengar hembusan nafas yang terasa cukup berat, dari mulut dokter yang menangani Mari tadi.
__ADS_1
"Baiklah, kalau memang begitu keputusannya. Saya permisi dulu," kata sang dokter yang kemudian berjalan pergi keluar dari ruang rawat Mari.
Setelah dokter pergi, Ibu Mari kembali duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Mari. Wanita itu membelai lembut puncak kepala sang putri, dan Mari pun tersenyum karena merasa nyaman berada di dekat sang ibu.
"Ibu sangat bersyukur kamu sudah bangun, Nak." Ibu Mari tersenyum penuh kelegaan.
Mari pun memejamkan mata sejenak, lalu membukanya, sebagai ganti menganggukkan kepala.
Tiba-tiba, ia teringat akan Arya. Pemuda yang sudah ia lindungi dengan merelakan tubuhnya sebagai tameng.
"Bu, Kak Arya mana? Dia nggak papa kan, Bu? Dia baik-baik aja kan?" tanya Mari beruntun.
Sang Ibu yang sedari tadi tersenyum, tiba-tiba diam. Wajahnya berubah dingin dan datar.
"Mulai sekarang, jangan pernah ungkit-ungkit lagi soal keluarga itu. Anggap saja kamu tidak pernah mengenal mereka, bahkan jangan pernah menganggap mereka ada. Lupakan mereka, Nak!" seru sang ibu, dengan suara yang seolah menahan emosi.
Mari mengerutkan kedua alisnya. Dia tak paham sama sekali dengan maksud perkataan ibunya.
"Kenapa harus dilupakan, Bu? Riri itu temen Mari, dan Kak Arya sangat baik sama Mari, begitu pun kedua orang tua mereka. Jadi, kenapa Mari harus sekejam itu?" cecar Mari yang masih terbaring lemah.
"Karena mereka membiarkan kamu kritis di tengah jalan sendirian, tanpa peduli kamu akan mati atau tidak di sana," tutur sang ibu geram.
"Bu!" panggil Mari lirih.
"Nak, tolong kamu dengarkan Ibu. Jangan pernah lagi kamu dekat dengan orang-orang dari kelas atas. Kita ini nggak selevel dengan mereka. Sekeras apa pun kita menyesuaikan diri, pada akhirnya tetap kembali ke asal, dan hanya tersisa luka dan penghinaan saja." Ibu Mari mulai meledakkan emosinya, karena ingin agar Mari menuruti kata-katanya.
Mari hanya terdiam, memandang sang ibu dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa ibu sangat marah? Memangnya apa yang sudah terjadi? Bahkan, saat aku melakukan kesalahan pun, Ibu tak pernah semarah ini. Apa benar mereka meningalkan aku sendirian di tempat itu, dalam kondisi kritis?" tanyanya dalam hati.
Tangan tua nan kasar itu terulur dan menyentuh pipi sang putri kecil.
"Nak, lupakan mereka. Ibu mohon. Buka lagi lembaran hidup baru kamu tanpa mereka. Anggap semua itu tak pernah terjadi. Anggaplah, bekas luka yang tertinggal di punggungmu itu, sebagai penanda luka yang telah mereka tinggalkan padamu, hem." Ibu Mari berbicara dengan nada melembut, dan tatapan yang meredup.
Mari masih tak paham. Namun, dia terpaksa mengangguk dan mengulas senyum ke arah sang Ibu, setidaknya agar beliau merasa tenang.
Seminggu berlalu, dan kondisi mari pun semakin membaik. Luka di punggungnya hampir sembuh sepenuhnya, dan dokter sudah memperbolehkan gadis itu untuk pulang, dan melakukan cek up tiga hari berikutnya.
Selama masa penyembuhannya, Mari diliputi banyak pertanyaan.
__ADS_1
"Kenapa aku bisa di operasi? Apa mungkin Ibuku berhutang? ya, itu bisa saja. Tapi kenapa aku harus tinggal di ruang rawat kelas 1, dengan semua fasilitas yang serba mewah? Kalau pun berhutang, Ibu berhutang sebanyak apa? Dan lagi kenapa tak ada satupun keluarga Riri yang datang menjengukku, atau hanya sekedar menanyakan kabarku? Apa benar kalau mereka tak pernah peduli padaku?" batin Mari penuh sesak dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan itu.
Hari di mana dia keluar dari rumah sakit pun tiba, dan Sang ibu segera membawanya pulang dengan menggunakan angkot.
Wajah Mari masih terlihat sedikit pucat, namun dia bersikeras untuk tetap pulang hari itu juga.
Sesampainya di rumah, Ibu meminta Mari untuk beristirahat di dalam kamarnya, sedangkan beliau harus menyelesaikan pekerjaan yang sudah lama ditinggalkan.
"Ibu kebelakang yah. Kamu istirahat saja di sini. Kalau butuh sesuatu, kamu tinggal panggil ibu saja, hem." pesan sang ibu.
Mari hanya mengangguk mengiyakan perkataan ibunya.
Hari berikutnya, Mari melihat sang ibu sedang mengemas pakaian-pakaian bersih ke dalam plastik, dan akan mengantarkannya kepada pelanggannya sendiri.
Mari lalu menghampiri sang ibu, dan duduk di hadapannya.
"Bu, biar Mari saja yang antar yah," ucap Mari.
Wanita itu seketika menghentikan gerakannya, dan menatap lekat wajah sang putri.
"Kalau kamu ke sana, ibu yakin pasti kamu akan ke rumah itu lagi. Iya kan?" terka sang ibu.
"Nggak kok, Bu, Mari cuma mau bantu Ibu aja. Biar Mari yang antar yah," ucap gadis itu lagi.
Terdengar helaan nafas kasar dari mulut sang ibu, kemudian membuang pandangannya dari sang anak.
Sepersekian detik kemudian, dia kembali menatap Mari, dan menyelesaikan apa yang tengah ia kerjakan.
"Ya sudah. Tapi janji jangan ke sana. Ibu nggak mau kamu terluka lagi. Ngerti!" perintah sang ibu.
"Ehm …." Mari ngangguk sambil tersenyum.
"Maaf bu, aku harus melanggar janjiku. Aku harus tau apa yang sebenarnya terjdi," batin Mari.
.
.
.
__ADS_1
.
Janga lupa like dan komen ya😊🙏