Mirage

Mirage
Tersadar dari lamunan


__ADS_3

Mari berangkat menuju komplek itu, dan segera menyerahkan apa yang dibawanya kepada sang pemilik.


Setelah itu, seprti biasa, ia akan pulang dengan membawa kembali cucian kotor, untuk kemudian diberikan kepada sang ibu.


Namun, sebelum ia pulang, Mari berjalan menuju rumah besar itu berada, tepat di ujung jalan komplek yang sepi.


Ia kini telah sampai di depan gerbang besar, yang terbuat dari perpaduan besi dan kayu itu. Namun dari tempatnya berdiri, dia bisa merasakan jika rumah itu sangat sepi.


Bahkan, ia tak lagi melihat sekuriti yang selalu mencegatnya masuk. Taman bunga yang kemarin masih terlihat segar dan indah, kini nampak ada beberapa bunga yang mulai layu.


Halaman pun terlihat kotor, dan kolam ikan yang biasanya selalu penuh, kini sangat jelas terlihat telah kering.


Rumah itu nampak seperti telah ditinggalkan oleh pemiliknya.


"Cari siapa?"


Terdengar sebuah suara dari arah belakang. Mari menoleh dan melihat jika ada seorang pria tua, yang mengenakan kupluk hitam dengan celana bahan selutut dan kaos oblong putih, berjalan menghampirinya.


Mari diam, tak merespon. Dia sama sekali tak mengenal orang itu, bahkan melihatnya pun tak pernah.


"Kamu cari siapa di tempat ini?" tanya pria tua itu lagi.


"Sa … saya cari penghuni rumah ini, Kek!" sahut Mari ragu, sambil terus memperhatikan pria tua itu.


Si kakek justru balik memperhatikan Mari, yang menurutnya tak mungkin mengenal para penghuni rumah besar itu. Dilihat dari penampilannya, Mari lebih murip seperti dirinya, seseorang dari kalangan bawah.


"Apa kamu yakin nggak salah rumah?" tanya pria tua itu.


"Nggak kok, Kek. Aku emang lagi nyari penghuni rumah ini. Tapi kok sepi yah. Biasanya kan ada satpam dan tukang kebun. Tapi, ini kok nggak ada siapa-siapa?" tanya Mari panjang lebar.


"Rumah ini sudah kosong sejak seminggu yang lalu. Katanya, mereka semua pindah ke luar negeri, dan akan segera menjual rumah ini," tutur sang kakek.


Mari begitu terkejut mendengar penuturan pria tua yang berdiri di hadapannya itu.


"Pergi? Seminggu yang lalu? Itu kan, saat aku tertusuk," batin Mari mulai menyusun keping demi keping kemungkinan yang terjadi.


"Sebaiknya kamu pergi saja dari sini, karena ini kawasan pribadi. Kamu bisa kena masalah kalau ketahuan mondar mandir di sini tanpa ijin. Kalau punya nomor teleponnya, mending ditelepon saja, barang kali ada hal yang penting," ucap si pria tua itu.


"Iya, Kek. Terimakasih," sahut Mari lirih.


Gadis itu berjalan dengan langkah gontai, dengan kepala yang dipenuhi berbagai macam pikiran, tentang semua kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Alasan kenapa sang ibu memintanya untuk melupakan keluarga Riri, dan kenapa keluarga itu pindah saat dirinya justru telah menyelamatkan putra mereka, mulai tersusun di benaknya.


"Apa karena mereka pergi dan tak bertanggung jawab, jadi Ibu marah dan memintaku melupakan mereka?" terka Mari kemudian.


Tanpa sadar, air mata kembali lolos dari netra beingnya. Dia menyeka lelehan bening itu dengan punggung tangannya, lalu kemudian menghirup nafas dalam-dalam, dan mencoba mengurai sesak di dadanya.


Ia kembali berjalan pulang, dengan setumpuk pertanyaan dan juga dugaan-dugaan tetang Keluarga Riri.


Sesampainya di rumah, dia menemukan jika ayahnya tengah berada di sana. Pria itu nampak sedang mencecar sang istri dengan berbagai macam pertanyaan.


"Uang dari mana kamu bisa opersai anak haram itu, hah?" Tanyanya.


"Mas, jaga bicara mu. Kalau Mari dengar gimana?" seru Ibu Mari.


"Ah, persetan. Lagi pula, cepat atau lambat, dia bakalan tau siapa dirinya yang sebenarnya kan. Jadi, cepat katakan, dari mana kamu dapat uang sebanyak itu buat operasi dia?" bentak sang ayah.


"Aku dapat bantuan dinas sosial. Mereka yang sudah mau menanggung biaya rumah sakit Mari. Puas kamu, Mas!" jawab Ibu Mari tak kalah lantang.


"Dinas sosial? Hah! Kamu pikir aku bo*doh. Mana mungkin dinas sosial memberikan fasilitas kelas satu untuk gembel macam kalian. Pikir, Sofia. Pikir!" cecar sang suami.


"Lalu, kamu pikir aku dapat uang dari mana hah?" sahut Ibu Mari dengan lantangnya.


Saat itu lah, Mari masuk dan menginterupsi pertenggkaran itu. Sepertinya, gadis itu sudah bisa menebak dari mana sang ibu mendapatkan biaya pengobatannya.


Namun, belum sempat ia masuk ke kamarnya, sang ayah kembali bersuara.


"Makanya, jadi orang jangan terlalu muluk menghkayal punya kenalan orang kaya. Yang ada, kamu cuma dimaanfaatkan, dan dijadikan tameng untuk melindungi pewaris mereka."


Mendengar penuturan pria itu, Mari menghentikan langkahnya, dan kembali tertegun di depan pintu.


"Hah, kamu itu sama kaya ibu mu. Dirayu dikit aja pake barang-barang murah, langsung bisa luluh sepenuhnya dan menganggap mereka itu dewa. Sekarang lihat, mereka kabur entah ke mana, ninggalin kamu yang sekarat begitu saja di sini. Lihat bo*doh!" bentak sang Ayah yang seketika menggugurkan kembali tetesan bening dari pelupuk matanya.


"Cukup, Mas!" pekik sang ibu menghentikan ocehan sang suami.


Mari segera membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Dia meringkuk di sudut ruangan, dengan kedua kaki tertekuk hingga lutunya menyentuh dada, dan ia peluk sekuatnya.


Sedangkan di luar sana, kedua orang tuanya masih sibuk beradu mulut hingga saling teriak.


Gadis itu terisak dalam diamnya, sambil sesekali memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sesak.


Saat itu, ia merasakan punggungnya kembali nyeri, dan panas.

__ADS_1


...💋💋💋💋💋...


Mira terperanjat, kala sebuah tangan menyentuh punggungnya tiba-tiba dari belakang. Ia seketika menoleh, dan mendapati bahwa Thom telah berdiri di sana.


Terdengar helaan nafas panjang dari bibir wanita cantik itu.


"Kau mengagetkan ku, Thom," serunya.


Thom kemudian memeluk Mira dari belakang, dan mengecup pundak mulusnya yang terekspose dengan indahnya.


"Aku menunggumu dari tadi. Aku takut kamu marah karena kata-kata ku," ucap pria paruh baya itu.


"Aku hanya sedang mengambil air. Kau juga bisa kan nggak ngagetin aku seperti tadi, hah!" ujar Mira kepada pria, yang masih sibuk mencumbui leher dan pundaknya dari belakang itu dengan sedikit kesal.


Thom mengangkat wajahnya yang sedari tadi terbenam di ceruk leher jenjang wanita itu, dan menghentikan aktifitasnya.


"Hei, aku dari tadi memanggil namamu, Mir. Tapi jangankan menoleh, menyahut 'Hem' saja tidak," tutur Thom tak kalah kesal, sembari memandang wajah Mira dari pantulan cermin, yang ada di depannya.


"Hah, baiklah terserah. Aku akan ke kamar dan tidur. Apa kau masih mau di sini?" ujar Mira.


"Kau duluan. Aku akan mengambil air minum terlebih dulu," sahut Thom.


Mari hanya mengedikkan bahunya, dan mengurai pelukan pria itu. Dia lalu berjalan menuju lantai dua, di mana kamarnya berada.


Setelah mengenang masa lalunya, Mira kembali diliputi perasaan pilu, kala mengingat masa itu. Masa yang sudah susah payah ia lupakan, namun kini justru hadir kembali tanpa ia inginkan.


.


.


.


.


Nah, flash backnya end gegara dikagetin Thom😁


Ada yg nggak mudeng dengan eps ini?😅


Jadi ceritanya, di eps 10 kan Mira habis ngimpi dan ribut ama Thom kan? nah dia ke dapur buat minum tapi ngelamun.


Nah ngelamunnya itu panjang banget😅dari eps 11 sampe eps ini. dan tadi selesai ngelamunnya gegara dikagetin ama Thom🤭jadi gtulah intinya😁.

__ADS_1


Nah, yg udah baca, yuk di like dan komen di bawah👇tahu kan caranya nge like dan komen?😁✌


__ADS_2