Mirage

Mirage
Teror


__ADS_3

Mira menunggu di dalam ruang kerja Lingga, dan dia pun mulai merasa bosan. Wanita itu memilih untuk berjalan berkeliling di sekitar, sambil melihat-lihat sebesar apa perusahaan calon suaminya itu.


"Wah … dia benar-benar sultan. Aku beneran dapet jackpot dong yah. Hehehe …," ujarnya yang terkekeh.


Mira menuju ke ujung lorong di mana terdapat sebuah taman rooftop, tempat dulu Lingga melarikan diri saat mengetahui bahwa Steve adalah arsitek yang akan menangani proyek eropanya.


"Hem … indah banget di sini." Mira melangkah semakin ke tengah taman, dan berjalan menuju ke sebuah kursi taman yang ada di bagian tengahnya.


Mira menatap ke sekeliling. Namun, pandangan matanya terkunci melihat sesosok pria yang berdiri di ambang pintu keluar yang menuju ke arah taman rooftop tersbut.


"Siapa?" gumam Mira sambil memicingkan matanya.


Sosok itu nampak membuka tudung kepala yang sedari tadi menghalangi pandangan Mira untuk melihat lebih jelas wajah pria tersebut.


Saat pria itu telah membuka Hoodie-nya, dia pun nampak menyeringai ke arah wanita.


"Tidak!" pekik Mira tertahan saat melihat siapa orang itu sebenarnya.


Matanya membulat seketika, dan ia pun segera bangkit berdiri. Mira melihat pria itu mulai melangkah ke dalam area taman, dan semakin mendekatinya.


Wanita itu perlahan mundur, dengan tatapan yang terkunci pada pria yang terus menyeringai itu, dan membuat Mira merasa ketakutan.


Si pria misterius terus saja mendekat ke arah Mira dan betapa senangnya ia melihat wanita itu gemetar hanya dengan melihat keberadaannya di tempat tersebut.


Mira mundur, hingga dirinya tak sadar jika dia sudah sampai di pinggir pagar pembatas taman itu. Mira menoleh ke belakang, dan melihat kalau dia sedang berada di ketinggian. Wanita itu sudah tak bisa lari lagi dan terpaksa harus mengahadapi pria misterius tersebut.


"Nggak! Nggak mungkin!" gumam Mira seraya menggelengkan kepalanya.


"Heh … lama nggak ketemu ya, adik kecilku," sapa pria yang tak lain adalah Erik, kakak tiri Mari.


"E … elu … mau apa lu ke sini hah?" tanya Mira yang berusaha menutupi kepanikannya.


Satu-satunya orang yang bisa membuat Mira ketakutan setengah mati, adalah sang kakak yang sudah tega menjualnya lima tahun silam demi membayar hutang judinya.


Padahal, saat itu harusnya menjadi saat terakhir Mira bertemu dengan sang ibu. Namun, Erik dengan tega justru membuat wanita itu tak memiliki kesempatan terakhirnya dengan ibunya.


"Gue? ya gue ke sini cuma mau nengokin elu," jawab Erik yang terus menatap tajam ke arah Mira, seolah tengah mengulitinya.

__ADS_1


Tangan Erik terulur, dan hendak menyentuh wajah Mira. Namun, wanita itu segera menepisnya dengan kasar.


"Wow … wow … galak sekarang lu ya, Mari. Atau gue mesti panggil lu Mira? Seorang pelacur yang terkenal," sindir Erik dengan kata yang begitu menusuk.


"Mau lu apa sih, Kak. Kenapa lu muncul lagi di depan gue? Lu sendiri yang bilang supaya gue jangan ganggu lu lagi. Kenapa sekarang, lu malah yang nyamperin gue sampai sini?" cecar Mira yang semakin gemetar, karena Erik terus melangkah lebih dekat ke arahnya.


"Gue lihat, kalau hidup lu sekarang mewah banget, Mari. Nggak salah dong, kalau gue minta jatah sedikit dari elu, hah," jawab Erik terang-terangan.


"Gila! Lu gila, Kak. Lu nggak ada hak buat ngatur hidup gue lagi ya!" pekik Mira.


"Oh … jadi, lu lebih sayang harta lu? Kalau gitu, gue bakal ambil anak yang ada di perut lu itu. Hehehehe …," ucap Erik menyeringai.


Mira menatap ngeri ke arah sang kakak yang hanya berjarak kurang dari sejengkal. Matanya membulat sempurna, saat Erik mengeluarkan sebuah benda dari balik jaketnya.


"Kak! Lu mau ngapain sama benda itu? Lu jangan macem-macem, Kak!" teriak Mira yang ketakutan saat Erik membolak-balikkan pisau yang ia pegang.


Mira semakin mundur. Namun, dia semakin menempel pada pagar dan tidak bisa lari ke manapun. Erik nampak mengayunkan pisau ke perut Mira, dan tepat pada saat itu, seperti ada seseorang yang menarik wanita itu.


"Mir! Mira! Bangun, Mir!" panggil Lingga.


"Ehm … tidak … jangan … jangan …," gumam Mira yang tertidur di sofa ruang kerja Lingga.


Namun, saat didekati, nampak jika ia tengah mengigau. Peluh dingin bercucuran dan keningnya berkerut seperti sedang ketakutan.


Lingga pun mencoba membangunkannya.


"Mira! Mir!" panggi Lingga dengan menepuk-nepuk pipi wanita itu.


"Tidak … tidak … TIDAAAAAK!" pekik Mira yang membuatnya seketika membuka matanya.


Mira bangun. Nafasnya terdengar memburu. Degup jantungnya tak beraturan, dan keringatnya mengalir deras dari pelipisnya.


Lingga mengambilkan air minum yang ada di meja kerjanya, dan membawakannya untuk Mira.


"Minum dulu, Mir," seru Lingga yang menyerahkan gelas itu ke tangan Mira.


Wanita itu pun meneguknya hingga tandas. Pandangannya goyang. Wajahnya tampak ketakutan, dan tangannya menggenggam erat gelas yang dipegangnya.

__ADS_1


"Mira, kamu kenapa? Mimpi buruk itu lagi?" tanya Lingga yang memegangi tangan wanitanya.


Mira menggeleng. Dia menolehkan wajahnya dan menatap mata Lingga dengan berkaca-kaca.


"Kak. Aku takut," ucap Mira.


Air matanya lolos begitu saja di pipinya. Lingga pun menariknya masuk ke dalam pelukan, dan menepuk-nepuk punggung wanita itu, sambil sesekali menciumi puncak kepalanya.


"Tenang yah. Udah ada aku. Kamu nggak usah takut lagi," ucap Lingga.


"Dia … dia mau ambil anakku!" ucap Mira dalam pelukannya.


"Tidak ada yang yang akan mengambil anak kita. Kita akan jaga dia sama, hem," sahut Lingga dengan lembutnya.


Melihat kondisi Mira yang seperti ini, Lingga pun memutuskan untuk kembali ke apartemennya, dan meninggalkan sisa pekerjaannya kepada Nicholas.


Pria itu sampai harus meminta jasa driver, karena Mira tak mau melepas pelukannya. Bahkan sepanjang perjalanan dari ruangannya hingga ke lobi kantor, Lingga menggendong wanitanya ala bridal, karena Mira ingin rerus memeluk dirinya.


Sesampainya di apartemen, Lingga kembali menggendong Mira hingga ke unitnya. Dia tak mungkin menolak wanita yang terlihat begitu ketakutan itu.


Setelah masuk ke dalam, Lingga pun membaringkan Mira di atas tempat tidur. Namun, Mira terus memeluk Lingga hingga pria itu pun ikut merebahkan dirinya di samping si ratu es.


Mira masih tampak ketakutan. Dia terus menyembunyikan wajahnya di dalam dada Lingga.


Apa sebenarnya yang dia mimpikan? Kenapa bisa segemetar ini? batin Lingga bertanya-tanya.


Lingga mencoba menuntun wajah Mira agar mau menatapnya. Namun, wanita itu terus bersembunyi dan semakin membenamkan wajahnya dalam-dalam.


.


.


.


.


Tegang? tegang nggak???

__ADS_1


Maaf ya, othor kesiangan lagi😭😭😭😭


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2