
Beberapa jam yang lalu di apartemen, saat Tania sudah pergi meninggalkan Mira seorang diri, datanglah seorang pengemudi taksi mengetuk pintu apartemen tersebut.
Nampak dari pintu darurat, Tania yang ternyata belum pergi dari sana, mengintip ke arah tempat tinggal temannya itu.
“Dia bener-bener udah rencanain ini semua. Bahkan, sejak tadi dia ternyata lagi nyiapin kopernya buat pergi,” gumam Tania sambil terus mengamati keadaan sekitar apartemen, milik kekasih temannya.
Tak lama kemudian, Mira keluar dengan menggendong tas yang tadi sempat dilihat oleh Tania.
Setelah melihat temannya itu pergi, Tania pun keluar dari tempat persembunyiannya. Dia menatap hampa tempat yang beberapa waktu terakhir ini menjadi rumah keduanya.
“Lu sebenernya mau kemana sih?” tanya Tania pada dirinya sendiri.
Setelah kepergian Mira, Tania pun berjalan ke arah lift, dan hendak turun ke bawah untuk selanjutnya pulang ke kontrakannya.
Saat lift datang, dia pun bergegas masuk ke dalam. Namun, ketika dia sudah masuk dan menunggu pintu tertutup, Tania melihat sekelebat bayangan kedatangan Lingga dan juga Nicholas di depannya.
Ladies itu pun segera menekan tombol buka pada di dinding lift, dan memaksa pintu tersebut untuk terbuka kembali.
Dia kemudian berlari ke arah apartemen yang pintunya kembali tertutup itu. Tania mempercepat langkahnya dan segera menggedor pintu apartemen tersebut.
Tak lama kemudian, Nicholas muncul dari balik pintu, disusul oleh Lingga yang terlihat tergesa-gesa hendak keluar.
Saat melihat keberadaan Tania di sana, lingga seketika meraih kerah jaket ladies itu dan membuat Tania terangkat hingga kakinya menggantung.
Nicholas yang melihatnya pun, segera menolong Tania, agar bisa lepas dari cengkeraman Lingga.
“Tuan. Tolong tenang. Kita bicara baik-baik di dalam,” seru Nicholas yang berusaha melepaskan tangan Lingga dari kerah jaket Tania.
Nicholas merasa kasihan melihat wanita itu seperti tercekik karena perbuatan atasannya.
“Katakan, di mana Mira. Kamu pasti taukan di mana dia?” tanya Lingga.
“Le... Pas...!” ucap Tania terbata.
Nicholas pun akhirnya menarik paksa jaket Tania, hingga terlepas dari tangan Lingga. Pimpinan Shine group itu berbalik hendak menyerang asistennya, yang dinilai telah berlaku kurang ajar.
Namun, sebelum Lingga berhasil melangkahkan kakinya, Tania buru-buru menghalangi pria itu dan merentangkan kedua tangannya di depan Lingga.
“Mira sudah pergi. Dia akan keluar negeri dengan menumpang sebuah pesawat,” ungkap Tania.
Lingga membulatkan matanya, seolah tak percaya akan apa yang dikatakan oleh ladies di depannya.
“Ke ... Keluar negeri?” tanya Lingga tak percaya.
__ADS_1
“Ya, dia pergi. Aku tak tahu apa alasannya kenapa dia sampai melarikan diri seperti ini. Tapi sepertinya, Anda sudah berbuat salah padanya,” terka Tania.
Lingga diam. Dia seketika teringat kembali akan kecurigaannya, dan sikapnya yang dingin pada Mira belakangan ini.
Pria itu pun berjalan gontai masuk ke dalam apartemen, dan duduk di sofa sambil mengusap kasar wajah tampannya.
“Aku salah, Nick. Aku terlambat. Dia sudah pergi. Aku tidak punya kesempatan untuk meminta maaf kepadanya,” ucap Lingga lirih.
Nicholas dan Tania yang berada di ambang pintu, kemudian menyusul Lingga masuk ke dalam.
Seribu tanya muncul di benak Tania, ingin rasanya dia ungkapkan pada pria yang tengah tertunduk itu.
“Aku menyesal karena telah mencurigainya. Aku salah. Aku salah,” ucap Lingga lirih.
“Apa yang sebenarnya sudah Anda perbuat pada Mira, Tuan?” tanya Tania yang tak bisa menahan lagi rasa penasarannya.
Lingga menoleh ke arah Tania, dan menatapnya dengan genangan yang sudah begitu menumpuk di pelupuk matanya.
“Aku meragukan cintanya. Aku mencurigainya. Aku bersalah. Tapi, aku sudah tau kebenarannya dan ingin meminta maaf serta melamarnya di depan orang tuaku. Namun semuanya percuma. Dia sudah pergi. Dan semua salahku,” ungkap Lingga.
Pria itu pun tak kuasa menahan tangisnya.
Tania tak tega melihat pria di depannya itu bersedih, meski dia merasa jika kesalahan Lingga sulit untuk dimaafkan. Namun, dia pun tak bisa memungkiri jika Mira sangat bahagia saat bersama pria itu.
“Aku mengambil darinya sebelum pergi tadi. Mungkin saat ini, dia sedang kebingungan karena mencari benda itu. Kalau tebakan ku benar, saat ini dia masih di jalan menuju ke bandara. Susul lah dia, dan minta maaflah kepadanya atas semua kesalahan yang telah Anda perbuat,” ucap Tania.
Lingga menatap nanar tiket dan passpor yang tergeletak di atas meja. Sedangkan Nicholas menoleh ke arah Tania dengan perasaan bingung.
“Bagaimana dia bisa mendapatkan semua ini?” tanya Nicholas.
“Dia mendapatkannya dari seseorang bernama Moris. Aku tidak sengaja membaca pesan chat mereka dan mengetahui hal ini,” jawab Tania.
“Kenapa kamu nggak laporin ke saya?” tanya Nicholas geram.
“Aku nggak bisa asal kasih info gitu aja. Aku juga harus memastikan apakah benar atau tidak membiarkan dia pergi. Dan ternyata benarkan, kalau bos mu memang punya salah sama Mira,” sanggah Tania.
“Tapi kan kamu bisa...,” sahut Nicholas.
“Kita pergi menyusulnya sekarang!” sela Lingga yang membuat Nicholas menghentikan ucapannya.
“Aku ikut!” seru Tania.
“Baiklah, ayo!” ajak Lingga.
__ADS_1
Pria itu berjalan di depan, disusul oleh Nicholas dan Tania di belakangnya.
“Nick, hubungi ibuku untuk ke bandara sekarang. Ajak juga ayah dan adikku untuk ke sana,” seru Lingga.
“Baik tuan,” sahut Nicholas.
Sang asisten itu pun kemudian menghubungi nyonya besarnya dan menyampaikan hal tersebut kepada Aletta.
Sesampainya di tempat parkir, Lingga meminta Tania dan Nicholas untuk duduk di depan, sedangkan dirinya memilih duduk di kursi belakang.
Perasaannya saat ini begitu kacau dan rasanya tak mungkin bisa mengemudi dengan tenang.
Sesampainya di bandara, mereka bertiga berpencar untuk mencari keberadaan Mira. Tania yang tidak tau kemana tujuan Mira sebenarnya pun, tak banyak membantu Lingga dan Nicholas untuk menentukan tempat pencarian wanita es itu.
Saat Lingga sudah lelah berlari, dan Nicholas dan Tania saling bertukar pesan bahwa mereka tak berhasil menemukan Mira, Lingga semakin dibuat frustasi.
“Di mana kamu, Mir. Aku yakin kamu masih di negara ini sekarang. Kamu nggak mungkin ke mana-mana tanpa tiket dan passpor. Tapi dimana kamu sekarang? Dimana, Sayang?” gumam Lingga.
Dia mengacak rambutnya yang selalu terlihat rapi. Lingga begitu kalut dan takut akan kehilangan wanita yang selama bertahun-tahun ini dia cari.
Kalau kali ini kamu benar-benar pergi, kemana lagi aku harus mencarimu, Mari? Jangan pergi. Aku mohon, beri aku satu kesempatan lagi, batin Lingga.
Disaat ketakutannya memuncak, netranya menangkap sosok tinggi semampai dengan blezzer coklat terang, yang mencolok di tengah kerumunan orang-orang yang tengah menunggu di bandara.
Dia pun segera melebarkan kakinya melangkah menghampiri pujaan hatinya itu. Saat sudah berada di dekatnya, Lingga mencoba mengatur nafasnya dan debaran jantung yang begitu tak karuan.
Telihat wanita itu tengah kebingungan mencari sesuatu di dalam tasnya.
Lingga kemudian mengacungkan buku passpor dan berteriak ke arah Mira.
“Apa kamu mencari ini?” pekik Lingga.
Mira pun seketika menoleh ke belakang, ke arah di mana suara itu berasal. Dia terkejut dengan keberadaan Lingga di sana.
Dia mematung dan tatapan mata kedua orang itu terkunci. Waktu seolah terhenti di sekitar keduanya, dan membuat mereka terdiam di tempat dengan tatapan yang tak bisa diungkapkan.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁