Mirage

Mirage
Berbalik Mengacuhkan


__ADS_3

Mira menoleh ke kanannya karena silau dengan lampu mobil, dan tiba-tiba sebuah tangan menariknya hingga dia berputar dan terjatuh.


Dia jatuh tepat di atas Lingga yang memeluk tubuh Mira dengan erat.


"Ah …," pekik Lingga saat tubuhnya terbentur lantai trotoar, dengan menahan tubuh Mira agar wanita itu tak terbentur tanah.


Sementara kedua orang itu jatuh, mobil itu terlihat berhenti sejenak dan kemudian kembali melaju dengan kencang meninggalkan keduanya.


Mira yang sempat merasakan terhempas pun sempat kebingungan. Namun saat mendengar suara kesakitan Lingga, dia pun tersadar dan segera mencoba bangun dari atas pria itu.


Setelah Mira telah duduk disampingnya, Lingga pun bangun. Namun dia merakan nyeri dibagian belakangnya, dan Mira melihat jika baju yang dipakainya pun terkoyak.


"Punggungmu …," pekik Mira yang terkejut melihat bagian belakang pria itu berdarah.


Lengan kanannya pun ikut robek dan nampak luka yang cukup besar.


"Ssshhh …," desis Lingga saat melihat sikunya yang berdarah.


Mira mendadak panik melihat Lingga yang terluka seperti itu demi menolongnya dari tertabrak mobil tadi.


"Aku tidak apa-apa," ucap Lingga sambil mencoba berdiri.


"Aw …," pekik pria itu lagi saat merasa kakinya sakit.


"Kenapa?" tanya Mira yang seketika ikut bangun dan menghampiri Lingga, dan memegangi lengannya.


"Aku tidak apa-apa," ucap Lingga datar sambil menyingkirkan tangan Mira dari lengannya pelan.


Mira tertegun melihat pria itu yang tiba-tiba bersikap dingin padanya, padahal beberapa waktu yang lalu, Lingga bersikap begitu lembut pada dirinya.


Wanita itu terus memperhatikan Lingga, yang berjalan terpincang-pincang dengan baju bagian belakangnya yang tekoyak cukup lebar dengan luka yang lumayan banyak.


Mira menitikkan air matanya, namun buru-buru ia menyekanya, dan berjalan menyusul Lingga. Dia memegangi lengan pria itu, dan mencoba membantunya berjalan.


Namun, lagi-lagi Lingga menyingkirkan tangan Mira dari tubuhnya.

__ADS_1


Mira terdiam melihat sikap Lingga yang mendadak mengacuhkannnya. Namun, bukan Mira namanya jika dia langsung berhenti saat mendapatkan sebuah penolakan.


Dia kembali mengikuti Lingga, dan memegangi lengannya dan membantu pria itu berjalan, meski Lingga berkali-kali menyingkirkan tangan Mira.


Lingga berjalan menuju mobilnya, sambil hendak memasukkan kunci ke lubangnya. Namun, Mira segera merebut kunci itu, dan masuk terlebih dulu di kursi kemudi.


"Keluar," perintah Lingga.


Namun, Mira tak peduli. Dia tetap duduk diam di sana.


Melihat itu, akhirnya lingga pun kembali berjalan menuju gedung apartemen yang berjarak tinggal beberapa meter lagi dari tempatnya saat itu.


Mira yang menyadari jika pria itu tak juga masuk pun akhirnya menoleh ke belakang, dan mendapati jika Lingga telah berjalan menjauh dari mobilnya.


Mira pun lalu keluar dari dalam mobil, dan mengejar kembali Lingga dan memegangi lengan pria itu lagi.


Mereka berjalan hingga akhirnya sampai di apartemen.


Tak ada perbincangan di antara keduanya. Hingga mereka tiba di depan pintu apartemen Mira, Lingga menghentikan langkahnya.


"Biar ku bantu mengobati lukamu," ucap Mira yang masih khawatir dengan kondisi Lingga.


"Aku bisa sendiri," sahut Lingga sambil melepaskan tangan Mira dan kembali berjalan menuju apartemennya.


"Biarkan aku membantumu," seru Mira.


Lingga terus berjalan dan membuka pintu apartemennya. Saat pintu baru saja terbuka, Mira buru-buru menerobos masuk mendahului Lingga.


Pria itu hanya menhela nafas panjang melihat kelakuan Mira yang tak pernah mau menurut.


Akhirnya, Lingga pun masuk dan menutup pintunya. Ia berjalan menuju kamarnya, sementara Mira menuju dapur dan memanaskan air.


"Di mana kotak P3K nya?" tanya Mira.


"Di atasmu," sahut Lingga singkat dan berjalan ke atas.

__ADS_1


Mira mendongak dan melihat lemari yang menempel di dinding, dan mengambil kotak P3K dari sana, lalu melihat isi di dalamnya. Dia mencari alkohol untuk mensterilkan luka Lingga dan obat merah untuk mengobati luka-luka di punggung dan siku pria itu.


Dia juga mencari salep untuk meringankan kaki terkilir dan perban serta plester.


Setelah air matang, Mira memasukkannya ke dalam wadah kemudian mencampurnya dengan air dingin agar menjadi hangat. Tak lupa, ia pun mengambil kain bersih yang akan dipakai untuk membersihkan luka.


Mira lalu membawa wadah berisi air serta kotak obat, dan berjalan ke kamar Lingga.


Sesampainya di atas, Mira masuk begitu saja ke dalam kamar tidur, dan mendapati pria itu tengah kesusahan melepas kemejanya yang robek.


Mira buru-buru meletakkan wadah air dan kotak obat di atas nakas, lalu berniat hendak membantu pria itu.


Mira mengulurkan tangannya dan kemudian memegangi baju yang koyak tersebut.


"Jangan sentuh!" hardik Lingga yang membuat Mira seketika menarik kembali tangannya.


.


.


.


.


me : Galak amat bang😏


Lingga : berisik!!!


me : Idih … ku bikin nggak bisa ngehukum mira lagi mau lu bang?


Lingga : ampun nyai


me : 🤣🤣🤣🤣🤣🤣


Dah ah, abaikan candaan garing dibatas.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2