
Di sebuah hotel berbintang lima, sebuah kamar president suit, di tempati oleh dua orang wanita beda usia.
Salah satunya tengah duduk sambil membaca majalah, sedangkan satunya lagi sedang sibuk dengan gawainya.
Tak berselang lama, terdengar bunyi ketukan di pintu.
“Coba lihat, Ri. Siapa tau itu kakak mu,” seru Aletta, wanita yang sedari tadi membolak-balikkan majalah.
Cheria bangun dan berjalan menuju ke arah pintu masuk. Dibukanya pintu itu dan ternyata benar, sang kaka tengah berdiri di depan sana.
“Kak, udah ditunggu Mami tuh,” ucap Cheria.
Lingga masuk dan berjalan menuju ke rungan, di mana terdapat empat buah kursi dengan sebuah meja bundar di tengahnya.
“Pagi, bu,” sapa Lingga.
Aletta nampak menutup majalahnya, dan meletakkannya di atas meja dengan sedikit melempar.
“Sekarang, jelaskan semuanya sama ibu mu ini, Ar. Siapa wanita itu? Apa hubungannya kamu dengan dia? Dan semua premanisme yang terjadi kemarin, jelaskan tanpa tertinggal sedikitpun,” cecar Aletta.
Lingga duduk sambil bersandar di sofa. Cheria pun ikut duduk dan penasaran dengan cerita yang akan di perdengarkan oleh kakanya kepada mereka.
“Dia Mira, seorang wanita penghibur di sebuah tempat hiburan malam, paradise fall. Tapi, identitas dia yang sebenarnya adalah, Mari. Gadis kecil yang sudah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan aku beberapa tahun silam,” ungkap Lingga.
Aletta begitu terkejut. Dia sampai menegakkan duduknya dan mencondongkan badannya ke depan.
“Ma... Mari? Dia mari? Anak kecil itu? Ja... Jadi, kamu sudah menemukannya? Kenapa kamu tidak mengatakannya pada ku?” tanya Aletta yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Lingga pun menceritakan semua yang dia tahu tentang Mira kepada sang bunda. Mulai dari pertemuannya dengan wanita itu lima tahun lalu yang kemudian kehilangan jejaknya lagi.
Setelah akhirnya, takdir mempertemukan keduanya kembali saat dinegara K, ketika Mira sudah menjadi wanita malam, dan sedang menemani Thomas.
Bermula dari permintaan mendiang Thomas untuk melindungi Mira dari bahaya, hingga keterlibatannya dengan orang yang sudah membuat hancur hidup wanita malang itu. Dan yang terakhir penculikan Mira yang dilakukan Soraya dan kakak tirinya, Erik, yang berujung pada meninggalnya anak yang sedang dikandung Mira.
“Ya Tuhan. Berat sekali hidup gadis malang itu. Ri, kenapa kamu nggak bilang ke Mami kalau dia itu Mari?” tanya Aletta yang geram dengan putrimya.
“I.. Itu...,” sahut Cheria gugup.
__ADS_1
“Aku yang memintanya, Bu. Aku dan Riri sampai sekarang belum tau alasan kenapa Ayah dan Ibu membawa kami pergi dari negara ini, dan memutus semua akses kami tentang Mari. Kami berpikir, jika Ayah dan ibu akan melarang kami untuk kembali berhubungan dengannya, karena alasan tadi."
"Maka dari itu, aku meminta Riri untuk menyembunyikannya selama ini,” ungkap Lingga.
“Anak b*doh. Mana mungkin aku akan melarangmu untuk dekat dengan dia,” ucap Aletta, sambil menyadarkan punggungnya kembali ke belakang.
Wanita itu nampak menerawang jauh ke depan, mengingat kembali masa-masa ketika bisnis keluarganya sedang menanjak naik.
Flash back on,
Banyak sekali pesaing yang melakukan kecurangan, baik dari manipulasi data bisnis, hingga mengancam dengan tindakan kriminal.
Saat Lingga hampir diculik, beruntung pengawalnya sigap dan bisa menggagalkan semuanya. Namun, hampir saja Lingga terluka, dan sebuah kejadian tak terduga terjadi. Seorang gadis kecil melompat dan menghalangi penculik melukai Lingga, dan membiarkan tubuhnya menjadi tameng sang putra.
Setelah kejadian itu, suaminya, Tuan Wijaya, berbicara kepada Sofia, ibu Mari, agar melupakan masalah ini.
“Semua ini demi kebaikan putri Anda, Nyinya. Buat dia melupakan semua tentang kami, dan jangan pernah mengatakan jika kalian ada kaitannya dengam keluarga kami. Percayalah, ini semua bukan karena kami tidak bisa berterimakasih, justru ini cara kami berterimakasih agar kalian selamat."
"Buatlah anakmu membenci kami semua, agar dia bisa melupakan kami dengan mudah. Kemudian, untuk semua biaya pengobatannya, akan kami tanggung sepenuhnya. Anda jangan khawatir,” ucap Tuan Wijaya kepada Sofia, ibu Mari.
Flash back off.
“Aku merasa menyesal karena tidak memilih solusi kedua,” ucap Aletta.
“Solusi kedua? Apa maksudnya, Bu?” tanya Lingga.
“Yah, waktu itu, kami memikirkan tentang nasib dari gadis kecil itu. Ayahmu memberikan dua solusi, yang pertamanya adalah yang sudah terjadi, dan yang kedua adalah membawa anak itu beserta ibunya pergi bersama kita ke negeri pandai."
"Tapi, setelah kami pikirkan, sepertinya membiarkan mereka tinggal di sini dengan menghapus semua kenangan tentang keluarga kita, itu lebih baik. Mengingat kaitan mereka dengan kita tidak terlalu dalam. Hanya sebatas kenal saja."
"Namun sepertinya, keputusan kami salah. Meskipun kemalangannya bukan karena keluarga kita, akak tetapi, jika saja kita memberinya perlindungan, hidupnya tak akan hancur seperti ini,” ucap Aletta.
Lingga dan Cheria begitu terkejut dengan semua yang diungkapkan oleh Sang bunda.
“Ja... Jadi, ibu bolehin aku buat sama dia? Ibu nggak akan melarangnyakan?” tanya Lingga memastikan.
“Tentu saja tidak. Tapi, ada satu hal yang aku ingin tanyakan padamu,” ucap Aletta.
__ADS_1
“Apa itu, Bu?” tanya Lingga penasaran.
Aletta berdiri dan berjalan menuju tempat tidurnya. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan membawanya kembali ke hadapan kedua anak itu.
“Lihatlah ini,” seru Aletta sambil meletakkan selembar foto di atas meja.
Dia duduk dan melipat kedua lengannya di depan dada.
Lingga membulatkan matanya, dan segera meraih benda tersebut sebelum sang adik bisa melihatnya.
“Ini kan ... Dari mana Ibu mendapatkan ini?” tanya Lingga.
Terlihat sebuah foto yang menunjukkan kedekatan antara wanita yang diduga Mira, dengan seorang pria yang mirip Steve Lee.
Foto itu tak lain adalah saat Mira menemui Steve, untuk membujuknya agar mau menangani proyek Eropa Lingga, yang harus tertunda karena syarat aneh yang diajukan oleh sang arsitek.
“Itu datang ke rumah beberapa bulan yang lalu. Aku bingung kenapa ada orang yang mengirim foto kedua orang itu ke rumah kita. Ku kira itu adalah surat salah alamat, tapi setelah ku dapat info dari mata-mataku, aku pun kembali mencari foto ini. Untung saja belum sempat ku buang."
"Dan sekarang aku tau, mungkin ini dikirim oleh orang yang tidak suka dengan kedekatan kalian berdua. Tapi, aku hanya ingin kamu memastikan, apakah wanita itu benar-benar hanya mencintaimu? Apa anak yang sempat dikandungnya adalah anakmu? Bukankah dia seorang wanita malam?” pungkas Aletta.
Lingga pun kini dirundung kebingungan. Dia kembali bimbang dengan kesetiaan seorang Mira yag adalah kupu-kupu malam.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen yah😊
Sambil nunggu next eps up, bisa yuk intip novel temen ku. ceritanya seru lho😁
Jangan lupa favoritkan ya😁🙏
__ADS_1