Mirage

Mirage
Menjauhi mu


__ADS_3

Di dalam sebuah taksi, Mira tengah duduk memandang ke arah luar. Tangannya sibuk menyeka air mata yang terus saja terjun bebas di pipinya, meski ia dengan sekuat tenaga menahannya.


"Breng*sek! Kenapa nggak mau berenti sih!" gerutunya di tengah tangisnya.


Meski air mata meleleh di pipi, dan hidung yang sudah sangat memerah, namun Mira sama sekali tak mau mengeluarkan suara tangisnya. Wanita keras kepala itu sangat menjaga harga dirinya, agar tak pernah jatuh di depan orang lain, terutama lawan-lawannya.


Meski tubuhnya tak bisa bohong, namun bibirnya terus saja merutuki dirinya yang terlihat bodoh, karena menangisi pria asing yang baru beberapa hari lalu bertemu dengannya.


Dengan mata yang sembab, hidung yang memerah dan berlendir, serta pundak yang terlihat berguncang, namun bibi Mira selalu saja mengumpat dengan tangannya yang terus menyeka lelehan bening di pipinya.


"Air mata si*alan. Kenapa nggak mau berenti juga sih!" rutuknya dengan suara yang mulai terdengar serak.


Saat dilanda kegalauan yang amat membingungkannya, Mira teringat akan Thom, pria yang beberapa hari ini seakan menghilang.


Pria paruh baya itu tak lagi menghubunginya, bahkan hanya untuk menanyakan kabar pun tidak, apalagi menemuinya.


Mira pun mengambil ponsel dari dalam tasnya, dan mencari nomor kontak Thom di sana.


Ia segera menekan tombol hijau, dan menunggu sambungan terhubung.


Panggilan pertama tersambung, namun tidak ditanggapi oleh Thom. Mira pun melakukan panggilan lagi. Namun, panggilan kedua, nomor Thom justru mendadak tidak aktif.


"Aneh! Tadi aktif," gumam Mira sambil menyeka ingus yang keluar dari hidung mancungnya.


Wanita itu pun mencoba kembali menghubungi teman prianya, yang telah menemani dan mendukung kehidupannya selama empat tahun belakangan, semenjak ia terjun ke dunia sesat penuh dosa ini.


Namun, sama saja. Nomor ponsel Thom masih tidak aktif. Akhirnya, Mira pun mengirimkan pesan chat kepada Thom.


Aku butuh uang satu miliyar. Apa kau bisa mentransfernya besok?


Mira pun segera menekan tombol send.


Ia lalu menyimpan ponselnya ke dalam tas, dan kembali memandang ke luar jendela. Pikirannya teringat akan Lingga yang terus saja menggangunya, seolah sengaja ingin mendekati dirinya.


"Nggak! Nggak akan semudah itu. Kalian yang telah membuat ku begini. kalian yang telah menanamkam kebencian dihatiku. Sekarang, kamu mau aku menerima kehadiran mu begitu saja?" batin Mira.


💋💋💋💋💋


Di sebuah gedung tinggi dengan jumlah lantai mencapai enam puluh sembilan, seorang pria paruh baya nampak tengah berdiri menghadap ke arah luar, dari dalam kantornya.


Ia memandang ke seberang dinding kaca yang menyekat ruang kantor dan udara di luar sana.


Tangannya mengengam erat ponsel pintarnya yang telah ia matikan sesaat sebelumnya. Gurat wajahnya mengisyaratkan sebuah kerinduan dan kekhawatiran akan sesuatu.


Hari telah gelap dan waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun pria itu masih betah berlama-lama di dalam kantornya.

__ADS_1


"Tuan Thom, apa ada yang anda perlukan lagi?" tanya seorang pria yang tak lain adalah sekretaris pribadinya.


Pria yang ternyata adalah Thomas itu pun berbalik, dan melihat sang sekretaris yang berdiri di ambang pintu.


"Tidak ada. Kau boleh pulang sekarang!" serunya.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi," ucap sang sekretaris.


Setelah kepergian sekretarisnya itu, Ia pun berjalan menuju meja kerjanya dan hendak mengambil jas yang tersampir di belakang kursi. Ia berencana akan pergi dari tempat itu dan beristirahat.


Namun, ketika ia sampai di meja kerjanya, terdengat dering dari telpon yang ada di dalam saku celananya.


Ini adalah ponsel lain, selain yang sedari tadi ia pegang dan pandangi.


Ia segera menggeser tombol hijau ke kanan, dan menerima panggilan itu.


"Halo, Tuan. Ada masalah apa malam-malam begini menelpon? Apa ini tentang wanita es itu?" tanya Thom langsung.


"Apa dia menghubungi mu?" tanya orang di seberang.


"Ya, baru saja. Tapi segera ku non-aktifkan telponnya setelah panggilannya berhenti. Apa ada masalah di kencan pertama kalian, Tuan Lingga?" tanya Thom kepada lawan bicaranya, yang ternyata adalah Lingga.


"Aku melakukan kesalahan dengan mengungkit masa lalunya, dan dia marah. Dia mengatakan jika akan membayar denda satu miliyar, dan aku yakin dia akan memintanya darimu, Tuan Thom," tutur Lingga.


"Hah … bukankah sudah pernah ku katakan, dia sangat membenci masa lalunya. Lalu, apa yang harus ku lakukan sekarang, Tuan" tanya Thom.


"Baiklah. Aku titipkan Mira padamu. Mungkin, aku sudah tak bisa lagi berada dekat dengannya, dan aku yakin dia akan merasa sangat kesepian. Jadi ku mohon, tetaplah di sisinya, Tuan," pinta Thom.


"Tenang saja, Tuan Thom. Aku akan selalu menjaganya, apapun yang terjadi." Lingga kemudian mengakhiri panggilannya.


sementara itu, Thom yang tadinya hendak pergi, kini kembali duduk di kursi kerjanya, dan menyandarkan punggungnya sambil memijat pangkal hidungnya.


"Hah … semua ini gara-gara ulah soraya. Aku terpaksa harus menjauhimu demi keselamatmu, Mir. Maafkan aku," gumam Thom, yang tak terasa menitikkan air dari sudut matanya.


💋💋💋💋💋


Seorang wanita yang tengah memakai setelan piyama bermotif my little pony, terlihat turun dari sebuah taksi online.


Ia berjalan memasuki tempat hiburan malam, dengan nama paradise fall yang sangat besar tertulis di papan nama bagian depannya.


Ia bejalan masuk, dan tak mempedulikan pandangan aneh yang dilemparkan orang-orang di sana kepadanya.


Ia pun menuju ke depan bar, yang biasa menjadi tempat transitnya sebelum menjalankan pekerjaannya.


"Hah … kasih gue sebotol wishkey dan es," pinta Wanita yang tak lain adalah Mira.

__ADS_1


"Ppppfffttt! Mir … lu kenapa berubah wujud kek anak mamah gini?" tanya samuel yang menyadari kehadiran Mira, dengan pakaian yang dirasanya lucu itu.


"Diem lu, Sam. Ambilin aja yang gue minta," gerutu Mira.


Samuel pun tak berani betanya lagi, karena melihat gelagat Mira yang seperti tengah emosi. Wanita yang selalu memesan minuman dengan kadar alkohol sangat ringan, kali ini justru meminta yang sangat tinggi.


Sebotol wishkey dengan gelas lengkap beserta ea batu di dalamnya, di sajikan di atas meja bar, tepat di depan Mira.


Samuel bermaksud membukakan tutup botolnya, namun wanita itu segera meraih botol yang tengah dipegang olehnya, sesaat setelah tutup berhasil dibuka.


Dia langsung menuangkannya ke dalam gelas, dan meneguk habis minuman keras itu dengan sekali teguk.


"Ah …." Mira meletakkan gelas ke atas meja dengan kasar, dan kembali meraih botol wishkey-nya.


Merasa tak puas, ia menenggaknya langsung dari mulut botol.


Samuel yang melihat hal itu, begitu keheranan. Pasalnya, Mira yang selama ini ia kenal adalah wanita yang begitu dingin dan datar. Dia sangat jarang sekali, bahkan mungkin tidak pernah menunjukkan ekpresinya yang sesungguhnya. Entah ia sedang marah, senang, kesal, sedih, atau apapun, tak pernah ia perlihatkan sekalipun dihadapan orang lain.


"Aneh sekali dia. Baru kali ini dia terlihat sekacau ini. Apa ini karena tamu VVIP-nya yang baru itu?" batin Samuel bertanya.


Mira terus meneguk minumannya, yang seketika membuat wajahnya memerah. Reaksi alkohol yang mengalir di dalam darahnya, membuat tubuhnya seketika memanas, dan mengganggu kerja otak serta sarafnya.


Setelah puas minum hingga mabuk, Mira lalu turun dari kursinya dengan gentayangan, seakan kakinya tak berpijak dengan benar di atas tanah.


Mira kesulitan untuk berjalan, bahkan berdiri pun ia berkali-kali hampir terjatuh, hingga sebuah tangan kekar menangkap tubuhnya yang berjalan sempoyongan dan mengangkatnya.


.


.


.


.


Mabok lagi....ah! Mabok lagi ....😅othor lagi gaje, sorry✌


Mira : thor, kok gue di angkatin terus dari kemaren kek karung beras?😒


othor : meneketehe🤨


Mita : kan elu othornya😒


othor : kan yang ngangkat elu 😏, si anu


Mira : pan elu yang nulis, dasar sableng🙄

__ADS_1


ah udah ah, yuk like dan komen di bawah😊jangan lupa dukunh aku di event mager up ya😆


__ADS_2