Mirage

Mirage
Sebuah jebakan


__ADS_3

"Aku tau, selama ini aku tak pernah memperjelas hubungan kita. Namun, tunggulah sebentar lagi, hingga aku bisa mewujudkan mimpiku, dan kita bisa bersama selamanya. Aku akan menjadikanmu istriku," ucap Lingga.


Mira terbelalak. Dia tak percaya jika Lingga baru saja mengatakan hal semanis itu. Namun, entah kenapa dia justru semakin sedih. Air mata kembali luruh di pipinya.


Lingga yang melihat hal itu pun, membawa Mira masuk ke dalam pelukannya. Dia mengira jika wanita itu terharu dengan kata-katanya barusan.


Mira terus diam, namun air mata tak bisa lagi ia bendung.


Si*l! Kenapa gue mendadak jadi cengeng gini sih? batin Mira.


Wanita itu seakan kehilangan kebekuan hatinya, dan menjadi semakin sensitif dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya dan Lingga.


Dia pun tak mengerti, dan seakan tak mengenal dirinya sendiri.


Lingga mengusap lembut surai hitam Mira yang bergelombang, dan sesekali mengecup kening Mira. Sedangkan wanita itu, tak membalas pelukan Lingga sama sekali. Dia hanya merem*s ujung jas yang sedang di pakai Lingga, sambil menahan isaknya.


"Kau adalah masa depanku, Mir. Jadi, jangan pernah sekalipun kamu memanggap rendah dirimu sendiri," ucap Lingga.


Pria itu mengurai pelukannya dan kembali memandang wajah cantik yang selalu berhasil menggodanya. Ia pun kembali menyeka buliran bening yang menetes di wajah cantik itu.


"Jangan nangis lagi yah," lanjutnya.


Mira pun mengulas senyum tipis ke arah Lingga.


Pria itu pun kembali mendaratkan ci*man mesra di bibir Mira. Kali ini, wanita itu membalasnya, dan mengalungkan kedua lengan di leher pria itu.


Mira terdorong ke belakang hingga membentur dinding. Lingga menghimpit tubuh Mira di antara tembok dan dirinya.


"Eeehhhmmmm …,"


Ci*man mereka semakin dalam dan liar. Tangan Lingga semakin liar menelusup masuk ke dalam kemeja Mira, yang ditariknya hingga ujungnya keluar dari rok.


Ia meraba perut wanita itu, dan naik hingga mencapai pucak ranum milik Mira yang begitu menggoda.


"Eeehhhhmmmm …,"


Suara leng*han yang begitu indah di telinga Lingga, membuat hasr*tnya semakin terbakar.


Namun, Mira segera tersadar dan menghalangi tangan pria itu agar tak menjelajah semakin jauh. Ia pun mendorong tubuh Lingga, dan mencoba melepas pagutannya.


"Ehm … kenapa, Sayang?" ucap Lingga dengan mata yang telah berkabut.


"Jangan di sini, Kak. Ini masih di restoran. Kalau ada yang masuk bagaimana?" ujar Mira.


Lingga tersenyum, dan membelai wajah canti si ratu esnya.


"Maaf yah. Aku terlalu bersemangat," sahut Lingga yang mencoba menahan gairahnya yang sudah naik.


Mira pun hanya membalasnya dengan senyuman tipis.

__ADS_1


"Kita ke kantorku yah. Aku ingin kamu lihat bagaimana aku bekerja," ucap Lingga.


"Ehm … lain kali aja ya, Kak. Hari ini aku mau istirahat di rumah aja. Nggak papa kan?" tolak Mira.


Lingga terdiam. Raut wajahnya jelas terlihat muram.


Mira yang mengerti pun, mencoba membujuknya. Dia kembali melingkarkan lengannya di leher pria itu, dan bergelayut manja di sana, dengan kepala yang menempel di dada Lingga.


"Lain kali. Aku janji lain kali akan ikut Kakak ke sana, hem," ucap Mira.


Lingga pun membalas perlakuan Mira dengan melingkarkan lengannya di pingganga wanita itu.


"Ehm … tapi janji jangan mengatakan hal seperti tadi lagi yah. Aku janji secepatnya akan melamarmu, dan kita akan segera menikah." Lingga memeluk erat wanitanya itu, seakan tak ingin melepaskannya barang sekejap saja.


Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang sulit padaku, Kak. Karena aku tak akan mau menunggu hal yang tak pasti, batin Mira.


...💋💋💋💋💋...


Setelah acara makan siang itu, Lingga mengantar Mira kembali ke apartemen, sedangkan dia pergi lagi untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Mira terus memikirkan perkataan Lingga, meski dirinya menolak untuk percaya semua ucapan manis pria itu.


Dia terus melamun di balkon apartemennya hingga menjelang petang.


Udara mulai terasa dingin, dan Mira pun masuk ke dalam. Ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tiba-tiba, suara dering ponselnya terdengar, menandakan sebuah panggilan masuk.


Mira pun beranjak dari dalam bath tube, dan membilas tubuhnya di bawah guyuran shower. Setelah selesai, ia ke luar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya, untuk mengambil ponsel miliknya yang sejak siang tadi berada di dalam tas.


Telepon sempat berhenti, tetapi kembali berdering. Dia melihat sekilas nama di layar itu, dan segera menggeser tombol berwarna hijau ke kanan.


"Halo," sapanya.


Mira nampak tengah mendengarkan perkataan orang di seberang telepon.


"Bantuan apa?" tanya Mira.


Kembali dia mendengarkan jawaban dari seberang.


"Oke, lu tenang? Sekarang lu di mana?" tanya Mira yang terlihat panik.


Dia terus mendengarkan semuanya dengan seksama, sambil sesekali manggut-manggut.


"Serius lu di tempat begituan? Lu udah masuk kamar belum? Kenapa nggak bilang gue kalau lu butuh duit sih? Kan gue bisa kasih pinjem lu," tanya Mira yang mulai panik.


Mira terlihat berjalan mondar mandir tak tenang.


"Ya udah. Mending sekarang lu keluar deh," ucap Mira.

__ADS_1


Dia nampak memegangi keningnya, dan mencoba berpikir sesuatu.


"Oke, gue ke sana sekarang. Lu tunggu gue. Chat gue nomer kamar lu," seru Mira.


Kemudian, dia pun menutup panggilannya.


"Duh, baterai ku low lagi. Kalau ku tinggal, gimana nanti pas Kak Arya nyariin? Ah udah lah, ku bawa aja. Semoga nggak keburu mati," gumamnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Mira segera memakai pakaian serba panjang, untuk melindungi dirinya dari angin malam yang cukup dingin, terlebih tempat yang aka dia datangi cukup berbahaya jika berpakaian seperti biasanya.


Dia bergegas pergi menemui temannya. Dia bahkan tak sempat mengeringkan rambutnya yang masih basah, sangkin terburu-burunya.


...💋💋💋💋💋...


Paradise fall,


Tampak seorang wanita telah selesai melakukan panggilan. Dia kemudian nampak melakukan panggilan lain dari ponselnya.


"Dia sekarang sedang menuju ke sana. Jadi, sesuai janji mu, operasi ibuku malam ini juga," ucapnya.


Dia pun langsung mengakhiri panggilan itu. Wanita itu terlihat tersenyum licik, sambil mengetuk-ngetukkan ponsel di dagunya.


"Sorry, Mir. Malam ini lu bakal selesai," ucapnya.


Dia tak menyadari, jika ada sepasang mata yang terus memperhatikannya sedari tadi, dan mendengar jelas semua yang telah dia ucapkan di telepon.


.


.


.


.


Nah lho...siapa nih yang nakal🤔ada yg nebak siapa gitu nggak???


Mira : gue mau diapain thor?


Tunggu besok😎


Lingga : cewe gue mau di apain woi


Iisshhh ... Tunggu besok🤦‍♀️


Reader : mira mau diapain thor?


Tunggu besok ya readerku sayang😘


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁

__ADS_1


__ADS_2