
Samuel dan Mom Winda yang melihat aksi Lingga pun mengikuti mereka, dan menunggu di balik pintu.
"Mereka kenapa, Mom?" tanya Samuel yang sangat penasaran dengan perubahan sikap Mira yang biasanya selalu tenang, kini seperti air di telaga yang terusik dan menimbulkan riak.
Namun, Mom Winda hanya diam, sambil bersandar di dinding di samping pintu yang tak terkunci, bahkan tidak sepenuhnya tertutup itu. Bisa saja mereka ikut masuk, namun tak etis jika mengganggu privasi Lingga, yang notabennya adalah tamu mereka.
Sementara Samuel dan Mom Winda menunggu di luar, Mira terus menyerang Lingga, hingga akhirnya pria itu menurunkan tubuhnya di atas tempat tidur, namun tidak sekasar sebelumnya ketika memberi Mira hukuman.
Wanita mabuk itu nampak bernafas dengan terengah-engah, akibat terus meronta di balik punggung Lingga.
"Hei! Lu siapa … be ra ni bawa gue ma suk ke sini, hah! Emangnya, lu punya duit berapa?" racau Mira yang mencoba bangkit, dan duduk bersila di atas kasur.
Lingga mendekat dan duduk di bibir ranjang, tepat di samping Mira.
Wanita itu menunduk, dengan suara cegukan yang masih sering terdengar dari mulutnya. Saat ia merasakan kehadiran seseorang di sampingnya, ia pun lalu mengangkat wajahnya dan menoleh ke samping, menatap lekat wajah Lingga.
Mira memicingkan kedua netranya, dan berusaha melihat dengan jelas siapa yang ada di sana.
"Lu kenapa mirip sama si breng*sek itu?" tanya Mira yang kemudian mencondongkan wajahnya, dan melihat lebih dekat pria di hadapannya.
"Elu beneran mirip banget ma dia? Lu kembar ya? Hak hak hak ... satu aja bikin gedeg, apa lagi dua." Mira tergelak dan terus berbicara tak jelas.
__ADS_1
Lingga hanya diam, ketika pipinya ditepuk-tepuk oleh Mira, dan hanya melihat wanita itu dengan tatapan sendu. Dia seakan tahu, seberapa sakit hati wanita di hadapannya itu, saat dulu dia dan keluarganya dengan tega meninggalkan dirinya yang dalam keadaan sekarat.
"Eh … lu tau nggak, gue benci banget lihat muka kek elu! Muka lu tuh cuma ngingetin gue sama masa lalu gue yang beraaaaaat banget, hek," Mira kembali cegukan di sela-sela racaunya.
"Kembaran lu itu, udah ninggalin gue gitu aja pas gue lagi sekarat. Padahal, gue udah suka rela ditusuk pisau, cuma buat nolong dia tau nggak lu hah? Jahat banget kan dia,"
"Gue nih gue … gue jadi pelacur juga gara-gara dia!" pekik Mira di ujung kalimatnya.
Lingga semakin memandang getir ke arah Mira. Lingkar matanya mulai memerah, seiring dengan genangan yang mulai timbul di pelupuk netranya.
Tangannya terangkat, dan terulur menangkup telinga Mira, dengan ibu jari yang mengusap lembut pelipis wanita itu.
Mira mendadak seperti tersadar dari mabuknya, kala mendengar nama lamanya disebut. Dia menatap tajam ke arah Lingga, yang telah berkaca-kaca menatapnya.
"Kenapa lu di sini, hah! Pergi! Pergi lu breng*sek! Lu udah jahat sama gue! Lu jahat!" teriak Mira yang mencoba menghindar dari Lingga.
Dia mendadak histeris, namun masih dipengaruhi oleh alko*hol yang ia minum sebelumnya.
Lingga meraih tubuh Mira yang mencoba menghindarinya, dan mendekapnya erat dalam pelukannya.
"Pergi lu, breng*sek! Lu jahat! Jahat!" teriak Mira yang semakin kencang, namun Lingga tak kalah erat mendekap wanita itu.
__ADS_1
Mira terus memukul punggung Lingga, namun tak sedikit pun pria itu melonggarkan pelukannya.
"Maaf! Maaf! Maaf!" Lingga terus merapal kata maaf sembari menerima setiap pukulan dan makian dari Mira.
Air mata lolos dan luruh ke pipi pria itu.
sebuah adegan yang sangat memilukan itu pun disaksikan oleh Mom Winda dan juga Samuel, yang masih setia berdiri di depan pintu kamar, yang menjadi saksi luapan emosi seorang Mira.
Samuel memegangi keningnya, seraya berkacak pinggang, sambil berjalan mondar mandir tak jelas di sana. Pria itu terlihat begitu terkejut kala melihat betapa histerisnya Mira saat itu. Ia seakan tau, bagaimana beratnya hidup yang sudah dijalani wanita yang selalu tampil dingin dan datar itu.
"Jadi dia orangnya, Thom? Kenapa kamu tega membuka luka lama Mira yang sudah susah payah dibalutnya rapat-rapat?" batin Mom Winda.
.
.
.
.
Like dan komen di bawah ya guys😊
__ADS_1