
Tok! Tok! Tok!
Sebuah suara ketukan terdengar dari balik pintu. Tampak seorang bodyguard bertubuh besar masuk dan melapor kepada bosnya.
"Bos, ada Tuam Thomas mencari Anda," seru bodyguard yang bernama Jordan itu.
"Suruh dia masuk," sahut wanita tua menor, yang tak lain adalah Mom Winda.
Mom Winda pun lalu mematikan rokoknya, dan meletakkan puntung sisa di dalam asbak yang berada di atas meja kerjanya.
Thom pun masuk, dan berjalan menuju sofa yang ada di ruangan itu. Mom Winda beranjak dari kursi kebesarannya, dan mengambil sebotol red wine yang ada di lemarinya, lalu bergabung bersama dengan Thom di sofa single yang berada di seberang pria tua itu.
"Kenapa baru datang sekarang, Thom?" tanya Mom Winda.
Ia meletakkan botol anggur beserta gelas ke atas meja, lalu menyandarkan punggungnya, dan melipat kedua lengan di depan dada, serta sebelah kakinya yang terlipat ke atas.
"Maaf, Win. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini," jawab Thomas, sambil membuka penutup botol, dan menuangkan minuman itu ke dalam masing-masing gelas kosong.
Ia lalu menyesap miliknya, dan kembali meletakkan gelas di atas meja.
"Apa yang ingin kau tanyakan soal Mira dan Lingga?" tanya Thom.
"Semuanya!" seru Mom Winda.
"Hah … Win, aku pun tak tau banyak. Aku hanya tau jika mereka adalah orang yang pernah saling mengenal," tutur Thomas.
"Apa kau tau, kalau Lingga adalah orang yang telah membuat luka di belakang punggung Mira?" tanya Mom Winda.
__ADS_1
"Yah, aku sudah tau itu," jawab Thom.
"Kalau kau tau, kenapa kau tega membuat Mira kembali mengingat masa lalunya yang pahit itu, Thom?" tanya Mom Winda sambil menyesap red wine-nya.
"Yah ... Aku memang keterlaluan. Tapi, aku merasa tidak salah menitipkan Mira padanya, Win." Thom kembali menyesap wine-nya.
Ia teringat akan kejadian beberapa waktu lalu, tepatnya saat acara pesta pembukaan cabang baru Shine dept. store di kota S negara K.
Setelah Mira pamit kembali ke hotel untuk beristirahat, akibat kesal dengan tingkah Lingga, Thom yang merasa penasaran dengan interaksi antara Mira dan Cheria pun, mengajak Lingga untuk berbincang.
"Tuan Lingga, bisakah kita membicarakan sesuatu di luar bisnis?" tanya Thom.
"Ehm … tentu. Mari ikut saya." Lingga mengajak Thom ke sebuah balkon yang berada jauh dari keramaian para tamu pesta.
Thomas dan Lingga adalah rekan bisnis yang bisa dibilang cukup dekat, meski usia mereka terpaut sangat jauh. Jiwa muda Thom, membuatnya bisa membaur dengan orang yang berusia lebih muda darinya, bahkan untuk berbicara mengenai wanita, bukan hal tabu lagi untuk Thom dan juga Lingga.
Mereka kini tengah berdiri di salah satu sisi gedung, sambil bersandar pada pagar pembatas. Udara malam begitu terasa dingin, meskipun ini masih musim panas.
"Tuan, saya minta maaf jika saya lancang bertanya sesuatu mengenai adik Anda." Thom mulai membuka suara.
"Adikku? Ada apa dengan Cheria?" tanya Lingga yang mengerutkan keningnya.
"Bukankah tadi, Nona Cheria memanggil partner saya Mira, dengan nama Mari? Apa mereka pernah saling kenal?" tanya Thomas yang begitu ingin menemukan masa lalu Mira.
"Ehm … sepertinya, adik saya hanya salah mengenali orang. Dia dulu memang pernah memiliki teman dengan nama Mari, sebelum kami pindah ke negeri panda," jawab Lingga.
"Maaf, Tuan. Tapi saya rasa, adik Anda tidak salah mengenali orang. Dia memang bernama Mari, sebelum ku ubah namanya menjadi Mira." Thom memberitahukan kenyataan itu kepada Lingga.
__ADS_1
Lingga seketika menatap tajam ke arah Thom.
"Ma … Mari? Dia benar-benar Mari? Tapi, kenapa aku tak lihat apa-apa di balik punggungnya?" tanya Lingga semakin penasaran.
"Anda tau hal itu rupanya. Jadi benar, Kalian memang pernah mengenal di masa lalu?" tanya Thom.
Lingga lalu membuang pandangannya ke arah jauh, dan kembali berpegangan di pagar pembatas. Sedangkan Thom, dia terus menatap Lingga dengan tatapan menyelidik.
"Akulah yang menyebabkan luka itu, Tuan Thom." Lingga menyesap sampanye-nya dan lalu menghela nafas berat.
"Apa maksud Anda?" tanya Thom menyelidik.
"Dia pernah menolongku dulu, saat aku hampir saja di culik oleh rival bisnis ayahku. Saat itu, dia mengorbankan dirinya untuk menjadi tameng, agar aku tidak terkena tusukan si penculik. Namun, justru dia yang kemudian tertusuk, dan lukanya cukup parah." Lingga seakan kembali ke masa itu, di mana Mari kecil tergeletak tepat di hadapannya.
"Hah … jadi begitu rupanya," sahut Thom, menghela nafas.
.
.
.
.
Othor mau minta maaf kalau episode kemarin nggak nyambung atau terkesan di skip, emang ku skip karena enam kali ku ajukan tapi ditolak mulu😭 dikarenakan isinya yg lumayan panas, jadi susah lolos reviewnya😔🙏 mohon maklum ya guys. Harusnya empat bab, tapi yang diterima cuma 2 bab saja😭😭😭😭😭
Jangan kapok like dan komen di bawah ya😔
__ADS_1