
"Ehm … Mir. Jaga sopan santunmu!" Tegur Mom Winda, yang masih berdiri melihat kelakuan Mira, namun tersenyum canggung ke arah ketiga pria di dalam sana.
"Bukankah tadi, Tuan ini mencari wanita berbaju merah? Aku juga berbaju merah kan, Mom?" ucap Mira sambil menuangkan minuman ke dalam gelas kosong, tanpa manatap Mom Winda.
Dia kemudian menoleh ke arah pria tadi, yang terpana melihat kehadiran wanita yang ia cari.
"Bukan begitu, Tuan?" ujar Mira dengan senyum sejuta pesonanya, sembari menyerahkan gelas berisi minuman kepada pria tadi.
Pria itu begitu tersihir dengan pesona Mira, hingga pandangannya seakan tak bisa lepas dari wanita cantik itu.
Melihat hal tersebut, Mom Winda pun tak lagi menghiraukan apa yang tengah dilakukan oleh Mira, meski dalam hati dia mengumpat kesal kepada ladies-nya yang satu itu.
"Dasar rubah licik. Rupanya dia sudah menargetkan mangsanya," batin Mom Winda dengan menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.
"Baiklah kalau begitu. Kalian, layani tamu-tamu kita dengan baik. Saya permisi, Tuan-tuan," ucap Mom Winda yang kemudian keluar dan menutup pintu bilik itu.
Setelah kepergian Mom Winda, Mira segera memalingkan wajahnya dari pria itu. Dia melihat, kedua temannya telah mulai bercumbu mesra dengan para tamu yang mereka layani. Salah satunya tengah berciu*man, dengan posisi si wanita yang duduk mengangkangi pria itu, dan dengan bebas tangan tamunya meremas bo*kong padatnya.
Sedangakn satunya, berciuman sambil tangan tamunya meremas gundukan sintal di dadanya, hingga suara-suara aneh mulai terdengar di dalam bilik itu.
Mira tetap tenang melihat semua hal yang sudah biasa baginya itu, dan menuangkan kembali minuman untuk dirinya sendiri.
Dia kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, dan melipat sebelah tangannya untuk menyangga siku satunya yang memegangi gelas.
Perlahan, ia menyesap minumannya. Saat itu, ia merasakan sebuah tangan tengah mengusap-usap pelan paha mulusnya yang terekspos.
Dia tetap diam bergeming, hingga bibir pria di sampingnya, mulai mengulum dan menarik ujung telinganya. Pria itu lalu menyapu leher jenjangnya, dan menghirup aroma wangi tubuh Mira.
Mira menutup matanya, untuk menahan geleyar yang ia rasakan saat itu. Tangannya berusaha tetap memegang erat gelas agar tidak terjatuh.
Pria itu semakin turun hingga ke ceruk leher Mira, dengan tangan yang mulai masuk ke dalam baju bagian bawahnya.
Mira merasakan jemari pria itu menyapu lembahnya, dari luar g-str*ing yang ia pakai. Ia menggigit bibir bawahnya, dan berusaha untuk tetap tak terpancing.
Sebelah tangan pria itu, mulai menurunkan tali bahu Mira, sehingga dengan mudah ia bisa mengeluarkan bulatan padat dengan ujung merah muda dari tempatnya.
Dire*mas*nya gundukan sintal itu, dengan bibir yang telah saling terpaut. Mira mulai menikmati permainan pria itu.
Mira meletakkan gelas yang sejak tadi berada ditangannya, perlahan ke samping. Ia mulai merangkul leher pria itu, dan mengikuti permainannya.
Tak terasa, bilik itu kini telah sepi dan hanya tertinggal mereka berdua di dalam sana.
__ADS_1
Permainan si pria yang awalnya begitu nikmat dan memabukkan, kini berubah semakin kasar. Awalnya, dia seakan ingin memberikan sentuhan-sentuhan mautnya kepada Mira, namun ketika hasratnya telah di puncak, ia pun dengan segera merebahkan wanita itu di sofa, lalu menindihnya begitu saja.
Mira mulai tersadar dari buaian pria itu, dan wajahnya kembali berubah dingin. Bahkan, ketika teripang darat milik si pria mulai masuk dan melesak sepenuhnya ke dalam miliknya, Mira sama sekali tak mengeluarkan *******.
Dia hanya mengerang kecil, seolah tengah menahan sakit yang diakibatkan gerakan pria itu.
Si pria sudah tak peduli dengan Mira, yang ada di otaknya hanya sesegera mungkin menuntaskan hasratnya.
Tak perlu waktu lama, hingga tercapailah pelepasannya, dan pria itu duduk bersandar dengan celana yang turun hingga lututnya.
Mira pun bangkit dari posisinya, dan segera membenahi pakainanya. Dengan wajah datar, ia lalu mengambil kembali gelas yang diletakkan tadi, dan menuangkan minuman untuk dirinya sendiri.
Wanita itu meminum habis isi gelasnya dalam sekali teguk, lalu meletakkan kembali gelas itu di atas meja.
"Semoga Anda puas dengan pelayanannya, dan jangan lupa bayar di kasir, Tuan." Mira mengulas senyum yang sangat jelas terlihat dibuat-buat ke arah pria, yang tengah duduk terkulai lemas, dan nafas yang masih terengah-engah.
"Mau ke mana?" pria itu menahan kepergian Mira, dengan menarik tangan wanita itu.
"Tentu saja menemui tamu yang lain. Tugas saya di sini sudah selesai, setelah Anda mengalami pelepasan tadi," jawab Mira dingin.
Wanita itu pun lalu menarik pelan tangannya, dan berjalan ke luar bilik itu, meninggalkan si pria yang masih dalam kondisi berantakan.
Julukan pe*la*cur yang tidak bisa men*de*sah di atas ranjang, sebenarnya tak sepenuhnya benar. Mira adalah wanita dewasa normal, di mana hasratnya sama dengan wanita yang lain.
Buktinya, dia sempat terlena dengan sentuhan-sentuhan yang diberikan pria tadi, namun pada akhirnya, dia kembali kepada dirinya yang semula, datar dan dingin.
Meskipun dia menjual tubuhnya, namun Mira tak mau dengan mudahnya jatuh, apalagi berpura-pura menikmati segala macam penyiksaan yang dilakukan para pria hidung belang itu kepadanya.
Menurut Mira, mereka hanya mementingkan diri sendiri, egois. Pria-pria itu tak mau memikirkan kepuasaan si wanita yang bercinta dengan mereka. Meski dia tahu, jika dirinya memang dibayar untuk hal itu, namun Mira tak mau kalah dari laki-laki yang menurutnya bajingan.
Setelah melakukan tugas pertamanya malam ini, Mira berjalan menuju base camp, untuk membersihkan dan merapikan dirinya, yang sedikit berantakan akibat ulah tamunya tadi.
Malam masih panjang, dan tidak menutup kemungkinan dia akan melayani lebih dari satu pria dalam semalam, jika memang banyak tamu yang ingin menggunakan jasanya.
Dia naik ke lantai dua, dan segera menuju ruang make up. Di dalam sana, terdapat toilet khusus para ladies, dan Mira pun masuk ke dalamnya.
Wanita itu menuju bilik paling ujung, dan mulai membuang air kecil, dan membersihkan miliknya yang sudah berlendir.
Setelah selesai, dia lalu keluar, dan membasuh wajahnya dengan air di washtafle.
Saat itu, seorang ladies lain keluar dari bilik toilet, dengan memegangi perut dan pinggangnya. Dia meringis seperti menahan sakit.
__ADS_1
Mira melihat temannya itu lewat pantulan di cermin.
"Kamu kenapa, Sha?" tanya Mira kepada wanita bernama Marsha itu.
"Uh … sembelit nih. Nggak enak banget rasanya," keluh Marsha, yang berjalan mendekati washtafle tempat Mira berada.
"Kok bisa? Habis makan apa lu?" tanya Mira yang membalikan badannya menghadap Marsha.
"Nggak ada kok. Gue nggak makan yang aneh-aneh. Malah, aku selalu makan sayur biar BAB ku lancar," jawab Marsha yang masih meringis kesakitan.
"Nggak enak banget yah?" tanya Mira mengernyitkan kedua alisnya.
Marsha mengangguk pelan dengan wajah memelas, dan peluh yang telah membasahi pelipisnya.
"Sejak kapan emang?" tanya Mira lagi.
"Tadi pagi," jawab Marsha.
"Ehm …," Mira nampak berpikir sambil, memperlihatkan ekspresi temannya yang sedang dalam kondisi tak baik.
"Kemarin lu kerja kan? Berala orang semalam?" tanya Mira langsung.
"Kenapa emang?" tanya Marsha bingung.
"Jawab aja sih," ucap Mira.
"Ehm … lima kalo nggak salah hitung," jawabnya sambil mencoba mengingat-ingat.
"Lima dalam semalam?" seru Mira terkejut.
Marsha hanya mengangguk.
.
.
.
.
Nah lho...jan traveling ya kalian🤭✌
__ADS_1
Kalau mau tau kek apa itu teripang, googling aja ye guys😁
Mari ngopi...eh, udah pada tau cara kasih kopi ke karya othor kan?