
Malam hari, Mira sengaja memasak makan malam untuk dinikmati bersama dengan Lingga. Dia sudah selesai mengerjakan semua dan menghidangkannya di atas meja makan.
"Tinggal nunggu dia pulang," gumam Mira sambil melihat jam dinding.
Saat itu waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Mira ingat betul jika akhir-akhir ini Lingga akan pulang sedikit larut, jadi dia sengaja memasak sedikit malam.
Kini, dia sedang menonton TV di ruang tengah, sambil tidur menyamping di atas sofa. Tak berselang lama, pintu depan terbuka dan Lingga muncul dari sana.
Mira pun bangun dan menghampiri pria itu.
"Baru pulang, Kak?" tanya Mira sambil meraih tas kerja prianya
"Ehm … kamu belum tidur?" tanya Lingga sambil mengusap surai Mira dan mengecup singkat puncak kepala wanitanya.
"Aku nungguin kakak. Kamu belum makan kan, Kak? Aku udah masakin yang spesial lho. Mandi dulu gih, habis itu kita makan bareng yah," seru Mira yang berjalan di samping Lingga.
Pria itu hanya menimpalinya dengan sebuah senyuman yang sangat terlihat jelas begitu dipaksakan.
Dia naik ke atas hendak membersihkan diri setelah seharian berusaha menyelesaikan permasalahan yang tengah dihadapi perusahaannnya.
Sedangkan Mira, dia meletakkan tas kerja Lingga di atas meja sofa, dan menuju ke dapur untuk menghangatkan lagi makanannya.
Setengah jam kemudian, Lingga turun dan terlihat lebih segar, namun wajahnya masih saja terlihat muram.
Mereka makan malam dalam diam, karena sikap Lingga yang terus saja tenggelam dalam pikirannya, membuat Mira seketika menerka ada sesuatu hal yang serius sedang terjadi antara Lingga dan juga Steve.
Selesai makan, Mira dan Lingga duduk di ruang tengah sambil menonton TV. Mira duduk di samping Lingga dengan menyandar di bahu kekar pria tampan itu.
"Wah … indah banget itu, Kak. Ini tempat bulan madu artis yang kemarin nikah itu ya?" tanya Mira yang nampak antusias dengan tayangan di depannya.
"Wah … sejak kapan kamu ngikutin infotaiment?" tanya Lingga yang terheran dengan pengetahuan baru Mira seputar dunia hiburan tanah air.
"Empat hari di rumah sakit, be te, bosen, gabut cuma bisa nonton TV doang. Scroll hand phone cuma lihat sosmed, males banget. Gimana nggak paham soal begituan coba?" gerutu Mira.
"Oh … pantesan," sahut Lingga.
"Ehm … Oh iya, Kak. Kakak bilang mau nikahin aku. Kapan emangnya?" tanya Mira tiba-tiba.
"Ehm … kenapa emangnya? udah nggak sabar banget nih kayaknya," goda Lingga sambil mencubit ujung hidung Mira.
__ADS_1
"Isshhh … bukan gitu. Cuma nanya aja. Lagian pas banget momennya. Kita lagi lihat pengantin baru bulan madu tuh," kilah Mira.
"Oh … jadi udah pengen banget kayak gitu," goda Lingga lagi.
"Bukah … iiihhhh …," seru Mira kesal sambil memukul kecil dada Lingga.
Pria itu pun terkekeh mendengar wanitanya kesal dan merajuk. Dia kemudian memeluk Mira dengan sedikit erat, sambil matanya tetap menatap ke depan.
"Tunggulah sampai aku bisa mewujudkan impianku?" jawab Lingga.
Terdengar sebuah kekhawatiran dari ucapannya, dan Mira bisa merasakan hal itu.
"Emang apa impian Kakak?" tanya Mira yang terus mencoba mencari informasi mengenai perselisihan antar prianya dengan Steve.
"Ada satu proyek besar yang aku rencanakan untuk Shine group, yang bisa membuatku untuk tetap dapat menetap di sini bersamamu," ucap Lingga sembari menoleh ke bawah menatap Mira.
"Apa itu, Kak?" tanya Mira yang juga mendongak dan menatap wajah prianya.
"Melebarkan sayap Shine department store ke benua eropa, dan rencana itu akan dimulai di Paris-Perancis," ungkap Lingga.
"Wah … jadi, calon suami ku bakal tambah sultan lagi dong yah. Terus udah sampai mana progress-nya, Kak?" tanya Mira.
Pria itu tak tau jika Mira sudah mengetahui persoalannya dengan Steve mengenai kerja sama mereka. Namun, yang wanita itu belum tau adalah, masalah apa yang mendasari hal tersebut terjadi.
"Memang kendalanya apa, Kak?" tanya Mira.
"Ehm … arsiteknya sedikit gila. Masa dia memintaku untuk mengatur makan malamnya dengan seorang wanita. Apa dia pikir aku ini germ*. Yang benar saja," tutur Lingga yang terlihat sangat kesal.
Apa wanita yang diminta Steve itu gue? Kalau bukan gue, nggak mungkin Kak Arya sampai mau pusing-pusing cari alternatif lain, batin Mira.
"Jadi, Kakak cari gantinya dong? Udah dapet belum?" tanya Mira yang terus mengorek informasi.
Lingga menggeleng pelan, dan nampak jelas wajahnya menunjukkan ekspresi lelah.
"Tak semudah itu. Terlebih lagi, yang sangat tau tentang letak, topograpi, kontur tanah, bahkan kondisi sekitar adalah si arsitek gila ini," ungkap Lingga.
"Ehm … jadi begitu. Oh iya, Kak. Steve juga seorang arsitek lho. Mau aku bilangin ke dia nggak? siapa tau dia … Aaahhh …," Mira tiba-tiba mengaduh.
Lingga mendorongnya kuat dan mencengkeram kedua pundak wanita itu hingga membuat Mira kesakitan.
__ADS_1
"Jangan sebut-sebut dia lagi. Aku bisa cari orang lain sendiri, Mir. Jangan pernah berpikir untuk meminta bantuannya," ucap Lingga yang terdengar begitu emosi.
Benar. Sepertinya Steve minta gue sebagai syarat kerja sama ini, batin Mira menerka.
"Oke … oke," ucap Mira sambil melingkarkan kedua lengannya di lehar Lingga.
Pria itu pun mengendurkan cengkeramannya di pundak Mira, dan menyisakan bekas merah akibat kekuatan tangannya yang besar.
"Ehm … Kak. Tapi, kalau semisal si arsitek ini tiba-tiba dengan sendirinya menyetujui kerja sama denga Kakak, apa kamu masih mau menerimanya?" tanya Mira.
"Asalkan dia mencabut permintaan gilanya itu," ucap Lingga dengan tegas.
Mira tersenyum, dan menarik tengkuk Lingga hingga mendekat ke arahnya. Ia menyambar bibir pira itu dan menciumnya dengan lembut.
Lingga pun membalas perlakuan Mira, dan membalas ciuaman itu. Mira menjulurkan lidahnya hingga masuk ke dalam rongga mulut pria itu, dan membelit lidah lawannya.
Baiklah. sepertinya gue memang harus bertindak. Maaf, Kak. Tapi gue cuma ingin kasih kamu sedikti bantuan buat masalah kecilmu itu, batin Mira di tengah ciumannya dengan Lingga yang semakin dalam dan panas.
Lingga semakin menindih tubuh Mira hingga wanita itu terkungkung olehnya. Dia pun menarik tuas di belakang kursi yang bisa digapai tangannya, dan membuat sandaran sofa turun. Seketika benda itu berubah menjadi sebuah tempat tidur berukuran sedang.
Bibir mereka saling memagut, menyesap dan gigitan kecil menambah panasnya malam itu.
Tangan Lingga tak bisa diam. Dia sudah masuk menelusup hingga berhasil membuka pengait br* Mira, dan membuat dua gunungnya terbebas dari belenggu yang mengekangnya.
"Eehhhmmm …," lenguhan terdengar dari bibir Mira yang masih terbungkam oleh ciuman panas yang semakin liar dari Lingga, saat tangan pria itu merem*s salah satu gundukan sintal miliknya.
Lingga melepas pagutannya, dan mulai menyusuri leher jenjang Mira, sambil sesekali menyesap di beberapa bagian.
.
.
.
.
Tahan dulu, lanjut nanti lagi🤭
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1