Mirage

Mirage
Mari kecil


__ADS_3

Perjalanan yang ditempuh selama tujuh jam dari bandara internasioan kota S di negara K, menuju Ibukota Jakarta-Indonesia, cukup membuat Mira kelelahan.


Setiba di bandara soe-tta, Mira meminta untuk diantarkan langsung menuju apartemen miliknya.


Sepanjang perjalanan, Mira selalu diam dan memandang ke arah luar. Sedangkan Thom, selalu menjadikan momen itu sebagai saat yang berharga.


"Aku tau, pertemuanmu dengan Nona Cheria, kembali membuka kenangan lamamu yang ingin kau lupakan, Mir." gumam Thom dalam hati.


Thom sangat mengenal baik wanita cantik dan seksi itu, karena dia lah orang yang telah mengganti namanya menjadi Mira.


Sejak saat pertemuan pertama mereka, Mira tak pernah menyebutkan siapa nama aslinya, sampai Thom mencari taunya sendiri lewat bantuan Mommy Winda, muci*kari tempat Mira bekerja.


"Aku tau, kamu sangat ingin mengubur dalam-dalam nama itu di jurang hati mu. Membuang semua kenangan mu bersama nama yang begitu cantik itu. Tapi di dunia ini, ada hal yang memang harus kamu hadapi, cepat atau lambat. Dan ini salah satunya, bertemu dengan orang dari masa lalumu," Thom kembali berdialog dalam hatinya sendiri


"Aku mau langsung istirahat, Thom. Apa kau mau menginap? Tapi ingat, hanya tidur, tidak ada kegiatan lainnya." Mira tiba-tiba menoleh dan berbicata pada Thom, yang sedari tadi memandangi dirinya.


"Ehm … yah, boleh juga. Kebetulan, aku juga sangat lelah. Bukankah lebih cepat jika aku ke apartemen mu saja malam ini," sahutnya dengan nada bicara yang terdengar senormal mungkin, menutupi kegugupannya karena tertangkap basah telah memandangi wajah wanita itu.


"Oke. Terserah kau saja. Yang jelas, hanya tidur, tidak ada hal lain." Mira kembali menegaskan.


"Ya … ya … baiklah, dasar cerewet! Hahaha …," gerutu Thom yang di akhiri dengan tawa lepasnya.


Mira hanya mengedikkan bahunya, dan kembali menghadapkan wajahnya ke arah jendela mobil, lalu memandang ke arah luar, menikmati pemandangan kota metropolitan itu.


Empat puluh lima menit sudah mereka tempuh dari bandara, kini sampailah mereka di pelataran apartemen Mira, The Royal Blossom.


Sebuah komplek hunian kelas atas, yang terdiri dari empat tower apartemen mewah, dan deretan perumahan elit serta ruko, dengan segudang fasilitas publik yang berkelas.


Tepat di tengah area itu, terdapat sebuah central park yang berisikan berbagai macam bunga-bunga yang dirawat dengan baik oleh para florist terbaik di ibukota, menambah kesan indah dan asri pada area hunian itu, dari warna warni bunga yang bermekaran di berbgai musim.


Mobil yang mereka berdua tumpangi, kini telah berhenti tepat di depan pintu masuk lobi.


Sang supir keluar dan berjalan ke belakang, lalu membukakan pintu untuk Thom.


"Ayo!" Thom mengulurkan tangannya, dan segera disambut oleh Mira yang ikut turun bersamanya.


Mereka lekas menuju ke atas dengan menggunakan lift, dan sejenak kemudian, mereka telah tiba di unit milik Mira.


Wanita cantik itu langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, sesampainya ia di apartemen miliknya.


Selang tiga puluh menit kemudian, ia keluar dengan mengenakan handuk kimononya, dan berjalan menuju walk in closet, untuk berganti pakaian.


"Kamu nggak mandi, Thom?" Tanya Mira yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Ehm ... sebentar lagi. Aku masih ada pekerjaan sedikit," sahutnya sambil terus sibuk dengan macbooknya.


Mira hanya mengedikkan kedua bahunya, mendengar jawaban dari pria paruh baya itu. Dia pun kembali berjalan menuju walk in closet dan mengambil baju tidurnya.


Semua koleksi baju tidurnya berbahan satin, sehingga membuat lekuk tubuhnya terlihat begitu menonjol dengan indah. Kali ini, dia mengambil yang berbentuk dress pendek selutut berwarna soft gold, dengan tali bahu tipis.


Kaki jenjang nan mulusnya, terekspose dan menggiurkan siapa saja yang melihatnya.

__ADS_1


Selesai berganti baju, dia pun keluar dari ruangan itu, dan berjalan menuju tempat tidur. Ia sudah tak menemukan keberadaa Thom yang tadi duduk di atas sofa.


Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, yang menandakan ada seseorang di dalam sana.


"Mungkin dia sedang mandi," gumamnya sambil berjalan lurus menuju ranjang, dan naik di atasnya.


Ia kemudian membenahi posisi bantalnya, dan merebahkan diri di sana. Tak lupa ia juga menarik selimut untuk melindungi tubuhnya yang hanya dibalut pakaian tipis dari hawa dingin AC di dalam ruangan itu.


Rasa lelah benar-benar menguasainya. Ia pun perlahan memejamkan matanya, dan tak lagi mempedulikan Thom yang belum keluar dari kamar mandi.


selang beberapa saat, Thom telah selesai membersihkan dirinya, dan berjalan menuju walk in closet. Ia memang menaruh beberapa pakaiannya di sana, termasuk celana boxer kegemarannya, yang selalu ia pakai ketika tidur.


Pria paruh baya itu pun lalu berjalan ke arah ranjang dan bergabung bersama Mira. Namun, belum juga ia berbaring, ia mendengar wanita cantik itu menggumamkan sesuatu.


Ia pun perlahan mendekatkan telinganya ke wajah Mira, dan mencoba mendengarkan apa yang tengah ia gumamkan.


"Tidak! Jangan! Kembalikan! Kembalikan!" gumamnya meracau di dalam tidurnya.


...πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹...


"*Hei dasar ana pela*cur! Jangan dekat-dekat anak saya ya!" kata salah seorang wanita kepada seorang gadis kecil, yang berusia sekitar sepuluh tahun*.


Sang gadis kecil hanya menatap wanita itu, sambil mengulurkan tangannya yang memegangi sebuah bola kasti.


PLAK!


Wanita itu menepis tangan gadis kecil itu, hingga bola yang ia pegang jatuh dan terpental entah kemana.


"Ibu, bolaku," rengek seorang anak yang tengah berdiri di belakang wanita itu.


Wanita itu dan anaknya pun pergi meninggalkan si gadis kecil, yang memandangi kepergian mereka dengan perasaan tak mengerti.


"Kenapa semua orang membenciku?" gamam si gadis kecil dalam hati.


Dia pun lalu berbalik dan berjalan pulang.


Saat di tengah jalan, ia melihat sekumpulan anak-anak seusianya tengah bermain di sebuah tanah lapang, atau lebih tepatnya lahan kosong yang berada di kampung itu.


"*Heh, Mari! Sana pergi! Jangan deket-deket kita, dasar anak pela*cur!" kata salah seorang anak*.


"*Iya, ih! Sana pergi, dasar anak pela*cur!" sahut salah seorang anak yang lain*.


"Mari anak pela*cur! Mari anak pela*cur!"


Anak-anak itu terus menyoraki Mari dengan sebutan hina itu, dengan diiringi tepukan tangan.


Mari hanya diam.Dia sama sekali tak paham maksud dari ucapan anak itu. Yang dia tau hanya, kehadirannya tak diinginkan di tempat itu.


Mari kecil pun berjalan menjauh dari kerumunan anak-anak seusianya, yang tengah bermain bersama di lapangan kecil dekat tempat tinggalnya.


Dia memilih untuk duduk berjongkok, sambil menyaksikan dari kejauhan, keseruan teman-temannya bermain sebuah permainan tradisional, di mana mereka menyusun pecahan genteng, dan melemparnya dengan bola.

__ADS_1


Mereka dibagi memjadi dua tim, tim jaga dan tim penyusun. Saat tumpukan genting itu tertabrak oleh bola dan terpencar, tim jaga mengejar semua anggota tim lawan, sedangkan tim lawan, dalam pelariannya mencuri sempat, untuk menyusun kembali tumpukan genting yang telah berserakan itu.


Permainan itu sungguh menegangkan, apa lagi Mari yang menyaksikannya dengan sangat antusias. Dia ingin sekali bisa merasakan permainan seru itu. Namun, penolakan akan dirinya selalu membuat dia urung untuk membaur.


Dia hanya duduk berjongkok, dengan tangannya yang memainkan batang kayu lapuk, sambil menatap ke arah anak-anak itu dengan mata berbinar.


"Mari! Mari! Kamu di mana, Nak?" panggil seorang wanita.


Mari segera menoleh, dan seketika itu juga dia bangkit dan berlari menghampiri wanita itu.


"Iya, Bu."


Mira kecil berlarian menghampiri wanita yang tak lain adalah sang Ibu.


"Bantuin Ibu nganter cucian bersih ke komplek sebelah yah," pinta sang Ibu.


Mari kecil pun mengangguk dengan cepat, dan terlihat begitu antusias.


Dia segera meraih setumpuk baju yang telah bersih dan sudah dikemas dalam kantong-kantong plastik.


"Mari pamit dulu, Bu." Mari kecil pun mencium punggung tangan sang ibu, dan berjalan dengan riang menyusuri jalanan setapak yang menghubungkan langsung antara kampungnya dengan komplek perumahan elit yang berada tepat di sampingnya.


Jika dilihat, itu bukanlah sebuah jalan resmi, namun hanya sebuah celah di anatar dinding pembatas, yang dimanfaatkan sebagian warga kampung pulang pergi ke komplek itu untuk bekerja. Termasuk ibu Mari yang adalah seorang buruh cuci yang biasa mengambil pakaian kotor dari rumah-rumah yang ada di komplek itu.


Kini, mari telah sampai di rumah tujuannya.


Tok! Tok! Tok!


Mari kecil mengetuk pintu samping rumah besar itu, karena dia selalu diperingatkan oleh sang ibu, agar selalu lewat pintu samping, setiap kali ia mengantar dan mengambil pakaian.


"Eh, Mari. Cuciannya udah selesai yah?" kata seorang asisten rumah tangga di rumah itu, yang bertubuh agak gempal.


"Iya, Bi Sumi. Ini baju-bajunya." Mari kecil menyerahkan setumpuk pakaian kering itu kepada Bi Sumi.


"Sebentar yah," ucap Bi Sumi sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Mari kecil menunggu di luar. Dia duduk seorang diri di kursi yang ada di dekat pintu belakang.


"Mari, ini upah buat hari ini." Bi sumi kembali ke luar dan memberikan upah dari cucian yang telah diantarkan Mari.


"Dan ini, cucian kotornya kamu bawa sekalian ya, seperti biasa." Lanjutnya sambil menyerahkan sekantung besar baju-baju kotor sang majikan.


"Terimakasih, Bi sumi." Mari pun meninggalkan rumah besar itu, dan berjalan kembali melewati jalan yang sama.


Saat ditengah jalan, seseorang menarik kerahnya dari belakang. Mari pun terjungkal kebelakang, dan barang bawaannya terjatuh dengan beberapa baju yang terburai.


.


.


.

__ADS_1


.


Jika kamu suka dengan cerita ini, silakan tinggalkan like dan komen di bawah ya😊


__ADS_2