Mirage

Mirage
Kabar dari Tania


__ADS_3

Di ruang rawat VIP, Mira tak sengaja terbangun dan mendengar pembicaraan prianya dengan seseorang di telepon. Hal itu membuatnya penasaran, dan saat Lingga pergi keluar, wanita itu pun bangun dan hendak menyusul prianya.


Namun, saat sampai di depan pintu, dia mendengar pembicaraan antara Lingga dan Aletta. Mira masih sangat mengingat siapa wanita yang tengah berbicara dengan lingga itu, karena tak sedikitpun memorinya tentang kejadian masa lalu, yang dia lupakan begitu saja.


Dia sadar jika keberadaannya tidak mungkin bisa selamanya bersama pria kaya itu. Mira sekuat hati menghalau bening yang telah mengumpul di ujung matanya, dan membekap mulutnya rapat agar tak terdengar isakan.


Kenapa aku jadi cengeng begini sih? Bukannya dari dulu hatiku udah beku? Kenapa sekarang sering sekali menangis? batin Mira.


Saat melihat Lingga yang hendak kembali berjalan ke arah kamarnya, Mira pun segera menuju ke ranjangnya dan naik ke atas.


Dia berbaring dan menyelimuti tubuhnya, kemudian berpura-pura tidur, agar Lingga tak tau jika Mira telah mendengar semua pembicaraan pria itu dengannya sang bunda.


Saat Lingga meraih tangannya, sesak di dada Mira kembali datang, dan membuat wanita itu sulit untuk bernafas.


Terlebih saat Lingga berjanji akan memperjuangkan hubungannya, serta tetap memilih dirinya yang tak berharga, dan membuang semua milik pria itu hanya untuk tetap bersama dengannya.


Meski terpejam, namun Mira tak bisa membendung air matanya, yang mengalir dari sudut matanya.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa? Batin Mira galau.


Di satu sisi, dia menginginkan hidup bahagia dengan pria yang kini sudah bertahta di hatinya. Namun di sisi lain, dia tak ingin masa depan pria itu harus hancur karena dirinya yang bahkan sudah sangat tak layak untuk diperjuangkan.


...💋💋💋💋💋...


Keesokan harinya, Mira melihat Lingga yang nampak tengah bersiap hendak pergi keluar. Dia tau, jika prianya itu akan menemui ibu dan juga sahabat kecilnya dulu.


Namun, Mira bersikap seolah dia tak tahu dan justru bertanya kepada prianya.


“Kamu mau kemana, Kak?” tanya Mira pagi itu.


“Aku ada urusan sebentar. Kamu di sini sendirian nggak papa kan? Atau, nanti aku minta Nick suruh Tania datang ke mari,” jawab Lingga.


“Penting banget yah?” tanya Mira.


Lingga mendekat dan menghsap lembut surai hitam Mira.

__ADS_1


“Sangat penting, Sayang ... Ini tentang masa depan kita ..., “ Sahut Lingga yang dilanjutkan dalam hati.


“Ya udah. Kamu hati-hati ya. Semoga berhasil,” ucap Mira tersenyum.


Lingga pun tersenyum tipis melihat wanitanya yang selalu berusaha tersenyum di depannya, meski pun dia sangat tahu betul, bagaimana hatinya saat ini.


“Aku tinggal dulu ya,” pamit Lingga.


Mira hanya mengangguk.


Saat Lingga keluar, dia melihat Nicholas dan beberapa anak buahnya berjaga di luar kamar rawatnya. Dia pun kembali bersandar di head board dan diam termenung. Senyumnya yang tadi mengembang, seketika hilang, bersama menghilangnya Lingga dari balik pintu.


Sekitar satu jam kemudian, Tania datang. Dia diminta oleh Nicholas untuk pergi ke rumah sakit dan menemani Mira.


“Hai, puk. Apa kabar lu,” sapa Tania saat dirinya datang.


Mira yang sedari tadi melamun pun, menoleh ke arah datangnya rival, yang sekarang telah menjadi sahabat baiknya.


“Hai, Mok. Dateng juga lu. Dipanggil ama ayang beb elu ya,” ledek Mira.


“Elu yang terlalu agresif kali. Jadi dianya malah takut ama elu. Hahaha,” kelakar Mira.


“Sialan lu!” Sahut Tania.


Salah satu ladies Mom Winda itu memandangi Mira dengan seksama.


“Mir, Sisi keluar dari tepat Mom Winda,” tutur Tania.


Mira terkejut. Dia pun menegakkan duduknya dan mendekat ke arah Tania berada.


“Lu serius? Tapi kenapa?” tanya Mira penasaran.


“Nyokapnya meninggal beberapa hari yang lalu,” jawab Tania.


“Kenapa? Bukannya udah di operasi waktu itu?” tanya Mira lagi.

__ADS_1


Dia masih tak percaya jika hal itu menimpa teman, yang sudah menghianatinya demi sang ibu.


“Dia di tipu, sama orang yang udah nyuruh buat nyelakain elu, Mir. Dokter yang ditunjuk juga ternyata dokter palsu. Setelah dikonfirmasi, hari saat elu di jebak di grand moon, di rumah sakit itu nggak ada operasi kanker paru-paru seperti yang dijanjikan."


"Semua laporannya pun palsu. Kata Mom Winda, Tuan Lingga bantu nanyain ke orang jahat itu, dan katanya, itu hukuman buat Sisi karena misinya udah gagal. Sisi terpukul banget. Dia nyesel karena udah tega sama elu, Puk,” jelas Tania panjang lebar.


Mira diam. Dia tak menyangka jika nasib Sisi akan seperti itu. Awalnya dia mengira semua sudah usai. Dia hanya cukup merelakan temannya itu lepas dari hukuman, dan membiarkannya tetap bersama ibunya. Tapi, semua ini benar-benar di luar prediksinya.


Wanita itu benar-benar kejam. Dia sama sekali nggak punya hati. Dia udah tega bunuh ayah gue, Thomas, anak gue, dan sekarang nyokapnya Sisi juga. Semoga, selamanya dia nggak akan bisa lihat dunia luar lagi, batin Mira.


Tania melihat rekannya itu diam. Dia kemudian meraih tangan Mira dan menggenggamnya.


"Puk, gue tahu elu pasti marah banget sama tuh orang. Gue juga enek banget pas tau kalau dia udah tega jebak elu. Tapi, seperti yang gue pernah bilang kalau elu itu terlalu baik. Sekarang aja, saat dia lagi terpuruk, elu masih aja mikirin dia kan,” ucap Tania.


Mira menoleh dan menatap temannya itu datar. Dia bingung harus seperti bersikap seperti apa.


“Lu tenang aja. Sisi sekarang udah dapet kerjaan yang bener kok. Dia kerja di tempat temannya Mom Winda, yang kebetulan punya usaha cathering. dia kerja jadi helper di sana. Memang berat, tapi gue rasa Sisi pasti bisa ngejalaninya,” ungkap Tania.


“Gue tahu gimana perjuangan dia selama ini buat biayain nyokapnya. Dia sampe rela masuk ke dunia malam demi bisa dapetin uang banyak dalam waktu yang singkat. Mungkin kedengaran jahat, tapi gue rasa sekarang dia bisa sedikit lebih tenang, karena nggak harus berlomba dengan waktu lagi demi mengumpulkan uang. Mungkin, ini jalan terbaik buat hidup Sisi,” ucap Mira.


Tania hanya mengangguk. Dia menepuk-nepuk punggung tangan temannya itu, dan tersenyum tipis ke arah si primadona paradise fall.


Sisi sudah bisa bebas dan hidup tenang. Lalu gue, apa gue juga bisa seperti itu? Batin Mira.


Dia kembali memikirkan perbincangan singkat antara Lingga dan juga Aletta di telepon dan di juga di lorong rumah sakit.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen yah😊

__ADS_1


__ADS_2