
Setelah Lingga selesai berganti pakaian, Dia pun mengambil benda lain dari dalam tas belanjaan yang ternyata adalah sebuah sweater rajut dengan kancing depan.
Dia berjalan ke arah Mira, dan memakai kan benda tadi pada wanita itu.
"Niat banget sih," goda Mira yang melihat kesiapan Lingga untuk mengajaknya jalan-jalan keluar.
Lingga hanya tersenyum, dan terus merapikan baju hangat itu di tubuh Mira.
"Tadinya mau ngajakin jalan-jalannya besok. Tapi kayaknya udah ada yang be te banget di dalem," sindir Lingga yang dibalas senyuman oleh Mira.
Dia kemudian berjalan keluar dan tak lama kemudian masuk kembali sambil mendorong sebuah kursi roda.
Lingga mengangkat tubuh Mira dan mendudukkannya di atas kursi roda tersebut. Tak lupa juga ia mengambil sebuah selimut dan menggunakannya untuk menutupi kaki Mira agar tidak kedinginan.
"Sudah siap?" tanya Lingga.
"Ehm … let's go!" seru Mira yang terlihat sangat bersemangat.
Lingga tersenyum melihat tingkah Mira yang kegirangan layaknya anak kecil yang diberi mainan. Dia dengan begitu hati-hati mendorong kursi roda yang sedang diduduki oleh Mira.
Namun, kesenangan Mira terhenti saat tiba di depan kantin rumah sakit.
"Yah … udah tutup, Kak. Tuh dah gelap semua. kita kemaleman deh ke sininya," keluh Mira saat mendapati cafetaria rumah sakit telah tutup.
"Wah iya nih … kayaknya kita kemaleman deh. Gimana dong? Balik ke kamar lagi aja ya? Biar nanti aku minta Nick buat bawain makan dari luar," saran Lingga.
"Yah … masa masuk lagi. Kan be te," rengek Mira.
"Terus ke mana dong? Taman? Di luar dingin banget. Nanti kamu tambah sakit gimana?" bujuk Lingga.
Mira diam. Dia hanya menunjukkan ekspresi kesal di wajahnya.
"Hem … kita ke taman atas deket lift aja yah," bujuk Lingga.
"Okelah. Dari pada nggak sama sekali," sahut Mira tak puas.
Mereka pun kembali menuju ke lantai VVIP, di mana ada sebuah taman kecil yang terletak di antara balkon kamar rawat di lantai tersebut.
Kini, keduanya sudah sampai di sana. Lingga merapikan selimut yang menutupi kaki Mira agar menjaga wanita itu tetap hangat.
"Ehm … akhirnya bisa keluar juga. Pengap banget di dalam terus," ungkap Mira seraya menghirup udara malam.
Ia menoleh, dan melihat Lingga nampak menatap ke depan, tetapi pandangannya terlihat kosong.
Ada apa ya? Oh iya … dia kan pastinya udah baca hasil visumku. Kenapa dia nggak bilang apa-apa yah? Apa jangan-jangan, dia udah tau tapi nggak mau bahas soal itu? batin Mira menerka-nerka.
Nampak jelas raut kecewa di wajah cantik Mira, saat otaknya memikirkan kemungkinan menyakitkan itu.
__ADS_1
Mira tertunduk, dan tanpan ia sadari, tangannya mengusap perut yang tertutupi oleh selimut. Ada rasa sesak di dalam dadanya jika harus memikirkan nasib anak yang kini tengah ia kandung.
"Mir," panggil Lingga yang menyadarkannya dari lamunan.
"Ehm … iya, Kak. Kenapa?" tanya Mira yang terkaget dengan panggilan prianya.
"Kok kenapa? Kamu yang kenapa? Tadi seneng banget bisa keluar, sekarang kok malah nunduk gitu? Bengong pula." Lingga berjalan ke depan Mira, dan berjongkok di hadapan wanita itu.
Dia meraih kedua tangan Mira yang masih berada dia atas perutnya.
"Kamu lagi mikirin apa sih, hem?" tanya Lingga.
"Ehm … Kak, aku lihat hasil visumku tadi siang. Kakak pasti juga udah baca kan?" tanya Mira sedikit ragu.
"Belum. Aku belum sempet baca. Kenapa emang?" tanya Lingga.
"Bohong banget," sahut Mira ketus.
"Seriusan belum baca. Emang ada apa sih? Aku semalem cuma dengerin penjelasan dokter doang. Habis itu aku taro di meja depan sofa. Udah. Emang kenapa sih?" papar Lingga.
"Terus, dokter ada bilang apa aja?" tanya Mira lagi yang masin terdengar ketus.
"Ya, dokter cuma bilang kalau kondisi kamu baik-baik aja. Semuanya aman dan kamu nggak sempet diapa-apain sama mereka. Udah gitu doang?" jawab Lingga.
"Cuma itu?" tanya Mira sembari mengerutkan keningnya.
Namun, Mira buru-buru mencegah pria itu pergi.
"Nggak usah, Kak. Biar besok aja," ucap Mira melembut.
Lingga kembali berjongkok, dan menatap lekat-lekat kedua manik hitam Mira.
"Jujur sama aku, ada apa sih sampe kamu ngotot banget tadi?" tanya Lingga.
"Ehm … aku … aku cuma … cuma kaget aja," ucap Mira.
Pria itu masih menatap Mira dengan kedua alis yang berkerut. Dia seolah tak puas dengan jawaban dari wanitanya, hingga Mira dibuat gelagapan.
"Kaget?" tanya Lingga dengan suara beratnya.
"I … iya cuma kaget. Ternyata aku … aku … aku hampir telanjang. Kenapa Kakak nggak bilang-bilang sama aku soal itu sih?" jawab Mira yang terdengar begitu gugup.
"Oh … itu. Buat apa sih dibahas lagi. Yang terpenting sekarangkan, kamu udah nggak papa lagi, Mir. Lupain aja yah," ucap Lingga.
Mira hanya mengangguk. Namun, dia masih penasaran dengan masalah yang sedang dihadapi oleh Lingga hingga membuatnya sempat melamun tadi.
Tak berselang lama, Nick datang membawakan makan malam untuk bos dan juga si kupu-kupu malam kekasih bosnya. Sebelum pergi, Lingga meminta asistennya untuk membawa hasil visum Mira ke kantor polisi, guna melengkapi berkas perkara yang telah diajukan Lingga atas tindak percobaan pemerkosaan Mira tempo hari.
__ADS_1
Lingga dan Mira pun makan bersama di dalam kamar rawat wanita itu. Karena lelah dan terlalu penat memikirkan masalah pembangunan departmen store-nyan di benua eropa, Lingga pun memilih untuk beristirahat dan tidur di sofa.
...💋💋💋💋💋...
Tiga hari kemudian, Mira sudah diperbolehkan untuk pulang. Lingga yang sedari tiga hari yang lalu terlihat begitu kelelahan setiap sepulang dari kantor, dan cenderung melamun. Bahkan kini dia tak menjemput Mira di rumah sakit.
"Selamat siang, Nona Mira. Tuan Lingga meminta saya untuk menjemput Anda pulang," sapa Nick yang sudah berada di dalam kamar rawat Mira.
"Di mana bosmu? Kenapa bukan dia yang datang, Nick?" tanya Mira yang merasa kecewa karena ketidak hadiran Lingga.
"Maaf, Nona. Tuan Lingga sedang sangat sibuk. Mari saya bawakan barang-barangnya," ucap Nick sambil meraih tas dan beberapa barang lainnya milik Mira.
Dia pun lalu keluar diikuti oleh Mira yang berjalan tak jauh di belakang sang asisten itu.
Sesampainya di dalam mobil, Mira memilih duduk di kursi belakang, sedangkan Nicholas yang menjadi supirnya.
Di tengah perjalanan, Mira yang merasa penasaran dengan sikap Lingga yang akhir-akhir ini sering melamun, akhirnya mencoba mencari tahu lewat asisten prianya itu.
"Ehm … Nick. Apa beberapa hari ini ada maslaah serius di kantor? Aku sering melihat pria itu melamun terus belakangan ini," ucap Mira.
"Oh … itu. Ada sedikit kendala dalam pembangunan cabang department store kami yang baru. Sudah sekitar satu minggu, sang arsitek yang semula dipilih oleh Tuan Lingga, belum juga mau menandatangi perjanjian kerja sama dengan perusahaan kami. Jadi, Tuan Lingga sedang mencoba mencari alternatif pilihan lain," papar Nicholas.
"Ehm … memang siapa arsitek yang menangani pembangunan ini dari awal?" tanya Mira penasaran.
"Belum menangani, Nona. Baru akan. Namun, Tuan Lingga sangat suka design-nya. Semuanya benar-benar detail dan sangat terancang sesuai dengan kodisi sekitar tempat pembangunan," jelas Nicholas.
"Oke … jadi, siapa si jenius itu?" tanya Mira.
"Namanya Steve Lee. Dia seorang arsitek muda yang sudah banyak merancang gedung-gedung milik perusahaan besar di dunia," tutur Nicholas.
"Steve Lee?" gumam Mira seolah mengingat nama yang terdengar tak asing baginya itu.
Tunggu … Steve? batin Mira yang seketika terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Nicholas.
.
.
.
.
Nah kan...othor tadi pagi bilang nggak janji, tp kalo sempet ku kasih 1 lagi
Udah ya, next eps besok lagi.
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1