
Keesokan harinya,
Mira terbangun tanpa Thom di sisinya. Dia melihat ke sekeliling, namun tak ada jejak keberadaan pria paruh baya itu.
Dilihatnya pintun kamar mandi yang terbuka, pertanda tak ada orang di dalam sana.
“Kemana dia?” tanya Mira lirih.
Mira pun bangkit dari tempat tidurnya, dan mengenakan handuk kimono yang tersampir di sudut ruangan. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah sekitar satu jam dia berada di kamar mandi, kini dia pun telah selesai berganti pakaian yang terlihat santai.
Saat dirinya sedang duduk di depan cermin, tiba-tiba Thom masuk dari arah luar.
“Dari mana saja kamu, Thom! Aku mencarimu dari tadi!” tanya Mira sambil melihat pria itu dari pantulan cermin.
“Apa kau merindukan ku?” sahut Thom sambil berjalan ke arah wanita itu.
“Hah! Maaf yah!” elak Mira tersenyum miring.
“Hahaha! Aku dari bawah, baru saja selesai mengurus kepulangan kita!” tutur Thom.
“Memangnya kapan kita akan kembali?” tanya Mira sambil memakai antingnya.
“Nanti malam, sepulangnya kita dari pantai!” jawab pria itu.
“Wow! Secepat itu? Baiklah!” ucap Mira yang memasang ekspresi kecewa.
“Ayolah, Mir! Urusanmu di sini juga 'kan sudah selesai, sudah waktunya untuk kita pulang!” bujuk Thom.
“Baiklah! Saatnya kembali ke kehidupan nyata!” ucapnya sambil menghela nafasnya kasar.
Dia pun kini telah siap untuk agenda selanjutnya, yaitu pantai.
Thom dan juga Mira seperi biasa diantar oleh seorang supir kemana pun mereka pergi. Dan seperti biasa juga, Mira selalu memandang ke arah luar setiap kali dia berada di atas sebuah kendaraan. Sungguh pemandangan favorit seorang Thomas Wiratmaja.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dari kota S, kini mereka tiba di provinsi M yang memiliki destinasi wisata pantai yang begitu indah, dengan pasir putihnya yang memesona serta deretan karang yang bak dinding pembatas. Air lautnya pun begitu jernih, bersih tanpa sampah satu pun yang terlihat oleh mata.
Mira segera menuju resort yang sudah dipesan oleh Thom sebelum datang ke tempat itu. Diambilnya sepasang bikini biru muda, dengan atasan model kemben yang hanya menutupi bagian dadanya saja, dengan bagian bawah yang standar, dan tak lupa, ia mengikatkan kain pantai bercorak hijau kuning di pinggangnya, lalu kemudian menguncir asal rambutnya ke atas.
Setelah selesai, Mira pun segera berlari ke pantai, dan langsung bermain air di bibir pantai itu. Kakinya menendang-nendang air yang menyapu kaki mulusnya, dan senyumnya terlihat begitu ringan, seringan helai rambutnya yang tertiup angin laut siang itu.
Thom duduk berbaring di kursi pantai, dengan dipayungi payung pantai yang sudah disediakan pihak resort.
Pria itu hanya melihat tingkah Mira yang bak anak kecil, yang sedang asik bermain air laut. Thom tersenyum melihat Mira yang begitu bebas tertawa lepas.
Wanita itu kini berjalan ke arah Thom, dan membuka kain pantainya. Ia meletakkannya di kursi pantai yang berada di samping Thom.
“Mau bergabung?” ajak Mira.
“Tidak! Kau saja!” jawab Thom sambil terus bersantai.
“Baiklah!” sahut Mira.
__ADS_1
Dia pun berbalik kembali menuju pantai, dan segera menceburkan dirinya ke dalam air laur yang begitu jernih. Pemandangan bawah laut yang begitu jelas terlihat, membuat Mira begitu menikmati berlama-lama berada di tempat itu.
Sambil sesekali dia naik ke permukaan untuk bernafas, kemudian dia kembali menyelam untuk melihat keindahan yang ada di bawah sana.
Hingga waktu mulai menjelang tengah hari, Mira baru keluar dari dalam air. Dia berjalan ke arah Thom yang masih duduk dengan santainya di atas kursi pantai itu.
Mira berjalan menghampiri pria itu, dan mengambil kainnya yang masih tergeletak di tempat yang sama.
“Ayo kita cari makan! Aku lapar!” ucap Mira sambil mengikatkan kembali kain itu di pinggangnya yang ramping.
“Sudah selesai mainnya?” tanya Thom sambil melepas kacamata hitamnya.
“Sudah! Ayo!” sahut Mira yang kembali mengajak Thom untuk pergi dari tempat itu.
Pria itu pun bangkit dan berdiri di samping wanita itu. Mereka pun berjalan bersama menuju restoran yang berada di area resort.
Mira dan juga Thom, memilih duduk di kursi yang langsung menghadap ke arah laut. Tak lama kemudian, seorang pelayang datang memberikan dua buah buku menun kepada mereka berdua.
“Ada yang mau kau pesan?” tanya Thom.
“Aku mau mulhwi dan pat bingsu untuk desert! Ehm ... minumnya orange juice saja!” pesan Mira.
“Kalau aku, Jangeo Gui dan pat bingsu! Minumnya sama!” pesan Thom.
Pelayan itu pun menulis pesanan mereka di sebuah note book, dan mengambil kembali buku menu dari mereka berdua, kemudian pergi untuk menyiapkan pesanan kedua orang itu.
“Ah ... Di sini sangat indah! Aku jadi betah berlama-lama di sini!” tutur Mira sambil memandang ke arah laut lepas.
“Mir! Apa kamu sudah siap untuk kembali bekerja dengan Mommy-mu lagi?” tanya Thom disela waktu menunggu mereka.
“Yah! Aku hanya ingin membantu menghilangkan jejak masa lalu, dari seorang perempuan yang datang memohon kepadaku! Dan kebetulan, aku memang ada urusan di sini!” kata Thom menimpali.
Mira pun menatap ke arah Thom, dan meraih tangan yang nampak beberapa kerutan di sana.
“Aku sangat berterimakasih padamu! Aku janji, aku akan lakukan apapun yang kamu mau!” ucap Mira sambil menggenggam tangan pria itu.
“Termasuk, jika aku menyuruhmu meminta dukungan pada Tuan Lingga?” tanya Thom yang bermaksud menggoda Mira.
“Kenapa kau selalu membawa-bawa namanya? Aku sudah bilang kalau aku sangat tidak menyukai laki-laki itu!” bantah Mira.
“Dia pria baik, hanya saja dia belum menemukan perempuan yang mampu mengisi kekosongan di dalam hatinya! Sama seperti aku sebelum bertemu denganmu!” tutur Thom.
Mira segera menarik tangannya dari tangan pria itu.
“Kenapa aku merasa, kau seperti akan pergi dariku Thom?” tanya Mira.
“Hahahah! Mana mungkin aku akan pergi dari wanita semenggoda kamu, Mir! Hahaha!” ucap Thom dengan tawa yang menggelegar.
“Lalu?” tuntut Mira
Thom memajukan badannya dan meraih kembali tangan Mira.
“Kau lihat usiaku sekarang! Aku sudah tua dan kau masih sangat muda! Aku bisa mati kapan saja dan meninggalkan mu sendirian! Kau harus cari pendukung lagi agar hidupmu aman dan sejahtera! Aku tak ingin kau sampai menderita lagi seperti dulu, Mir!” ungkap Thom, kali ini dengan tatapan seriusnya.
__ADS_1
“Aku tak ingin dengar hal itu! Kau masih segar bugar, Thom! Kau tak akan mati dalam waktu dekat ini!” ucap Mira yang merasa keberatan dengan perkataan Thom itu.
“Aku hanya memikirkanmu saja, Sayang! Karena itulah, aku ingin menyiapkan masa depan untukmu, termasuk pria mu nanti!” ucap Thom.
“Sudah! Cukup! Aku nggak mau dengar apapun lagi masalah itu!” pinta Mira yang menarik tangannya dari pria itu.
Perdebatan mereka terinterupsi karena kehadiran pelayan yang telah datang membawakan pesanan mereka. Mulhwi pesanan Mira nampak sungguh segar. Perpaduan kuah pedas dan seafood segar, yang disajikan bersama potongan es batu yang dingin, membuat makanan ini sangat cocok dengan hawa panas siang itu.
Sedangkan Jangeo Gui pesanan Thom, lebih seperti belut panggang dengan bumbu khas negara K dengan taburan biji wijen di atasnya. Dan tak lupa, pat bingsu atau lebih dikenal dengan es kacang merah yang terkenal di negara K dengan aneka toping lezat dari mulai buah-buahan, kacang-kacangan, dan juga es krim aneka rasa serta sirup dan susu kental manis. Ini adalah makan favorit selama musim panas di negara itu.
“Silakan dinikmati pesanannya!” ucap pelayan itu.
“Trimakasih ya!” sahut Mira.
Pelayan itu pun meninggalkan mereka berdua kembali.
“Makanlah! Saatnya isi amunisi agar kau selalu sehat! Aku tak ingin dengar hal mengerikan itu lagi dari mulutmu, Thom!” ucap Mira tegas.
“Baiklah! Baiklah! Kita nikmati saja apa yang sekarang bisa kita lakukan, Oke?” seru Thom.
“Yah! Begitu lebih baik!” jawab Mira.
“Makanlah!” seru Thom.
Mereka pun menikmati hidangan yang tersaji di hadapan mereka dengan tenang.
Saat mereka tengah bersantap, serombongan berisikan tiga orang, dua pria dan satu wanita, datang ke resort itu.
“Ini semua gara-gara Kakak! Kita jadi terlambat ke sini!” gerutu si wanita.
“Terlambat bagaimana? Resort masih buka! Pantai juga nggak pindah kemana-mana tuh!” tunjuk salah satu pria itu ke arah pantai.
“Maksudku, udah terlalu siang untuk berenang di sana, Kak!” lanjut si wanita itu.
“Tunggu sore aja!” sahut si pria sambil melihat-lihat tempat duduk yang kosong, hingga dia menangkap keberadaan seseorang yang sangat ia kenal.
“Tapi 'kan lama!” rengek si wanita yang tak didengar oleh pria yang tak lain adalah kakaknya.
Pria itu memandang ke arah Thom dan Mira berada, dengan senyum yang menyungging di sudut bibirnya.
“Kita benar-benar berjodoh!” gumamnya sambil terus tersenyum.
Wanita yang datang bersama dengan pria itu pun melihat jika pria itu nampak tersenyum ke suatu arah. Dia pun mengikuti arah tatapan si pria dan betapa senangnya dia melihat siapa yang ada di ujung netranya itu.
“Mari!” pekiknya yang terdengar begitu antusias.
.
.
.
.
__ADS_1
Jika kamu suka dengan ceritanya, silakan tinggalkan like dan komen di bawah😊