
Lingga terus mendekap erat tubuh yang penuh dengan bau alkohol itu, meski punggungnya seperti remuk karena terus mendapat pukulan keras dari Mira.
"Kau … ja hat! Kau …." Mira semakin melemah, seiring dengan efek alko*holnya yang telah menguasai kesadaran sepenuhnya.
Teriakannya yang memaki-maki Lingga, kini semakin menghilang seiring dengan suara dengkuran halus yang keluar dari mulut wanita itu.
"Maaf! Maaf! Maaf!" Lingga terus merapalkan kata itu, seolah ia ingin menebus kesalahannya, kesalahan keluarganya yang telah pergi tanpa peduli pada kondisi Mira saat itu.
Dia terus mendekap Mira, bahkan saat wanita itu telah lelap tertidur. Perlahan, ia naik ke atas ranjang, dan memposisikan dirinya di samping Mira agar bisa terus memeluknya dalam tidur.
Lingga membelai lembut surai coklat terang Mira, dan terus mengecupi pelipis wanita itu.
Begitu posesifnya Lingga terlihat saat itu, hingga ia tak membiarkan Mira bergerak sedikitpun, bahkan untuk sekedar menggeliat.
Mom Winda lalu, menutup rapat pintu kamar itu, dan menggantungkan tanda merah di handle-nya.
"Sam, kembali ke bar mu!" Mom Winda lalu berjalan pergi, kembali ke kantornya di lantai dua.
Samuel yang semakin penasaran dengan hubungan kedua orang di dalam pun, terpaksa menuruti perintah sang bos.
Di seberang kamar, tanpa ada yang tau, seseorang pun turut mendengarkan apa yang terjadi di tempat itu.
"Jadi, tamu ini emang cuma buat elu, Mir." ucapnya.
💋💋💋💋💋
Keesokan paginya, Mira bangun masih dalam dekapan Lingga. Ia menggeliat, dan merasakan sesak.
"Ehm …," Mira berusaha sadar, dan hendak bangun.
__ADS_1
Namun, ia merasakan sebuah tangan kekar tengah menindih perutnya. Ia pun berusaha membuka matanya yang masih terasa berat.
"Siapa?" batinnya yang betanya-tanya akan sosok yang saat ini ada di sampingnya.
Karena gerakan Mira yang terus menggeliat, Lingga pun terusik dan mulai terbangun.
"Ehm … kau sudah bangun?" tanya Lingga, saat ia melihat wanita di sampingnya itu mengucek matanya.
Netra Mira membulat, kala ia melihat siapa yang tengah memeluknya saat tidur.
"Hei!" teriak Mira sambil mendorong tubuh Lingga agar menjauh dari dirinya.
"Anda sedang apa, Tuan?" Mira segera meringsut bangun, dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sampai ke leher.
Sementara lingga yang baru saja bangun, masih sempoyongan saat dirinya didorong dengan kuat hingga hampir terjatuh dari tempat tidur.
Wanita malam di hadapannya bertingkah bak seorang perawan, yang kedapatan tidur dengan seorang pria asing.
"Apa yang Anda lakukan pas saya nggak sadar? Cepet ngaku!" cecar Mira yang begitu aneh dan sehisteris itu.
Lingga nampak gugup. Dia berkali-kali mencoba mendekati mira dan hendak menjelaskan yang sebenarnya. Namun, Mira terus saja melemparinya dengan benda apapun yang ada di sekitarnya.
"Breng*sek! Kurang ajar! Mesum! Maniak!" maki Mira sambil terus melempari Lingga dengan bantal hingga hiasan yang ada di atas nakas.
Kegaduhan di dalam, terdengar hingga ke luar. Teriakan Mira, bahkan bisa menembus lapisan kedap suara yang memang terpasang di setiap kamar cinta di paradise fall itu.
Seorang cleaning service yang tengah mengepel lantai di dedak kamar itu, mencuri dengar sambil mendekatkan telinga ke daun pintu.
Seorang rekannya yang melihat pun ikut dibuat penasaran, akan apa yang tengah dilakukan oleh temannya itu.
__ADS_1
"Eh, ngapain lu?" tanya Petugas kebersihan yang baru datang.
"Ssssstttt! Di dalem lagi ada ribut-ribut. Tadi gue denger, cewenya teriak-teriak gitu. Kayaknya, di dalem lagi berantem deh," sahut cleaning service yang sedari tadi menguping.
"Ah elu. Ini kan emang tempatnya bertempur. Mereka cuma lagi baku hantam aja kali. Saling menjepit dan menusuk gitu hahahhaa," kelakar si rekan cleaning service.
Seorang lagi petugas kebersihan, datang dan ikut bergabung dengan dua orang yang tengah mencuri dengar apa yang sedang terjadi di dalam sana.
"Tuh kan, ada suara benda pecah," seru cleaning service yang pertama.
"Ganas banget yak maennya," gumam petugas kebersihan yang datang berikutnya.
"Emangnya, lagi ngapain sih di dalem?" tanya yang baru saja datang.
Tanpa mereka bertiga sadari, Mom Winda tengah berjalan ke arah mereka. Wanita tua itu melihat tiga orang berkumpul dan tengah menempelkan telinga mereka di pintu kamar, yang ditempati oleh Mira dan juga Lingga.
.
.
.
.
Ampun🙈ada yg nguping😅
Next eps besok ya guys😊jangan lupa like dan komen di bawah ya
kirim kopi juga boleh sini banyak-banyak🤭
__ADS_1