Mirage

Mirage
Ketakutan


__ADS_3

Saat melihat mira ketakutan dan cemas seperti itu, Lingga pun segera memanggil Dokter Tama untuk datang ke apartemennya.


"Apa dia punya trauma?" tanya Dokter senior itu.


"Entahlah. Aku tak begitu tau kehidupannya selama ini," jawab Lingga yang masih setia memeluk wanita itu.


"Sebaiknya, Anda coba bawa dia ke psikiater," ucap Dokter Tama yang merasa kesulitan saat memeriksa Mira, karena wanita itu terus saja menempel dan tak mau lepas dari Lingga, hingga pria itu tak bisa bergerak bebas.


"Apa kau pikir kalau dia ini gila, hah!" hardik Lingga kepada Dokter Tama.


"Psikiater bukan hanya dikunjungi oleh orang gila, Tuan. Tapi, orang dengan gangguan kecemasan seperti yang dialami Nona ini pun, perlu untuk pergi ke sana," ucap sang dokter.


Lingga pun menatap wanitanya yang terus saja gemetar ketakutan, dan merasa iba dengan apa yang dialami oleh Mira saat ini.


"Saya akan berikan obat penenang kepada Nona Mira, agar dia bisa istirahat," ucap Dokter Tama sambil menyiapkan alat suntik yang akan ia gunakan.


"Eh, tunggu! Dia sedang hamil. Kau jangan sembarangan memberinya obat penenang," cegah Lingga.


Dokter Tama terlihat menghentikan tindakannya, dan dia pun memasukkan kembali botol kecil yang tengah ia pegang.


"Baiklah! Saya akan memberikan cairan yang aman untuk ibu hamil," ucap sang dokter sambil mengambil kembali botol obat yang lain.


Dokter senior itu lalu meraih sebelah tangan Mira, dan menyuntikkan cairan bening itu ke dalam tubuh Mira.


"Berapa bulan kandungannya?" tanya sang dokter.


"Ehm … mungkin sebulan," jawab Lingga ragu.


Dokter Tama pun mengernyitkan alisnya mendengar jawaban yang keluar dari mulut Lingga.


"Jawaban macam itu, Tuan? Harusnya Anda sebagai calon ayah, lebih bisa paham akan hal ini," ucap Dokter Tama.


Dia telah selesai menyuntikkan obat itu, dan berjalan kembali ke arah tasnya.


"Tapi, apa Anda yakin itu benar-benar milik Anda?" tanya Dokter Tama.


Lingga mendadak diam. Dia pun sebenarnya ragu, mengingat pekerjaan Mira yang adalah seorang pelacur. Namun, dia segera menepis jauh-jauh pikiran buruk itu, dan meneguhkan hatinya jika anak dalam kandungan Mira adalah miliknya.


"Tentu saja aku yakin. Memang milik siapa lagi?" ucap Lingga yang terus memeluk erat wanitanya.


Kalau ragu, pasti aku sudah tes DNA kan, batin Lingga.


Namun, sesungguhnya, perkataan Dokter Tama membuat pria itu sedikit ragu dengan anak yang dikandung Mira. Tapi, melihat wanitanya yang dalam kondisi tertekan seperti ini, mambuatnya enggan untuk memikirkannya lebih jauh.


"Kalau kau sudah selesai, pergilah!" usir Lingga.

__ADS_1


"Hah … kelakuan mu tidak pernah berubah, Tuan. Baiklah, kalau begitu saya permisi," ucap Dokter Tama yang telah siap berkemas, dan pergi keluar sendiri dari apartemen, karena Lingga tak bisa mengantarkannya.


Sementara itu, obat yang diberikan mulai bereaksi. Mira pun terlelap dan mulai melepaskan peluaknnya dari Lingga.


...💋💋💋💋💋...


Malam menjelang, dan Mira baru saja terbangun dari tidurnya. Lingga masih setia menemaninya, namun tentu saja pria itu sudah mandi dan berganti pakaian saat wanita itu sedang terlelap.


"Ehm …." Mira mengerang lirih.


Dia menggeliat dan mulai meregangkan badannya. Tak sengaja, dia memukul ringan kepala Lingga, hingga Mira pun seketika membuka matanya karena terkejut.


"Hah … Kakak?" pekik Mira sembari menoleh.


"Selamat malam putri tidur," sapa Lingga.


"Ehm … sejak kapan aku ketiduran?" tanya Mira.


Dia pun bangkit dan duduk bersandar di head board. Mira meraih tali rambut yang biasa ia simpan di laci nakas, dan kemudian menguncir rambutnya.


"Lho … aku baru sadar. Bukannya aku di kantor Kakak yah? Kenapa tiba-tiba bisa di sini?" tanya Mira yang nampak kebingungan.


Dia pun melihat ke sekeliling, dan menyadari jika hari sudah gelap. Lingga pun ikut bangun dan melihat Mira yang kebingungan.


Apa dia nggak inget kejadian tadi siang? tanya Lingga dalam hati.


"Ehm … ini sudah pukul setengah sepuluh. Apa kamu lapar? Mau aku bikinin pasta?" tawar Lingga yang juga mencoba mengalihkan perhatian Mira.


Mira pjn meraba perutnha. Tiba-tiba, terdengar bunyi aneh yang membuat wanita itu malu.


"Sepertinya, lil baby minta makan tuh," goda Lingga.


"Hehehe … iya, Kak," sahut Mira tersipu.


"Ya udah. Kamu mendingan cuci muka dulu, terus ganti baju. Habis itu, susul aku ke bawah yah," seru Lingga.


"Oke," sahut Mira.


Wanita itu pun beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Lingga masih tertegun di tempatnya dan memandangi pintu yang sudah tertutup rapat.


"Apa yang sudah terjadi padamu, Mir?" gumam Lingga yang bertanya-tanya perihal keanehan yang dialami oleh Mira.


Pria itu pun kemudian beranjak dari posisinya dan turun ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Sementara itu, Mira yang bermaksud mencuci muka saja, justru memilih mandi sekalian karena merasa badannya sangat lengket.

__ADS_1


"Ehm … nggak nyaman banget. Padahal aku cuma tidur aja. Kenapa rasanya kaya habis olah raga sih?" keluh Mira.


Wanita itu pun melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya, dan memasukkannya ke dalam keranjang cuci.


Dia lalu melangkah menuju ke bawah shower, dan memutar keran airnya. Guyuran air yang seperti hujan, mulai membasahi dirinya.


Mira menumpukan kedua lengannya ke dinding yang ada di hadapannya, sambil memandangi dirinya di cermin yang telah berembun.


Tiba-tiba, sekelebat bayangan muncul diingatannya. Kejadian saat dirinya pulang ditengah guyuran hujan deras, lima tahun lalu.


Tubuh Mira menegang. Hawa dingin mulai terasa di sekitarnya. Hingga, ia merasakan jika ada seseorang yang tengah berdiri di belakang tubuh tel*njangnya.


"Gue udah balik, Mari," bisik sebuah suara yang entah datang dari mana.


Bulu kuduk Mira meremang. Dia pun seketika menoleh, namun tak ada seorang pun yang ada di belakangnya. Nafasnya memburu. Pandangannya terus beredar ke seluruh penjuru kamar mandi.


"Ngak ada siapa-siapa. Tapi, kenapa tadi rasanya nyata banget yah?" gumam Mira.


Wanita itu pun segera menyelesaikan mandinya. Dia buru-buru kekluar dengan mengenakan bathrobe, dan sebuah handuk kecil yang ia sampirkan di atas kepalanya.


Ia pun duduk di kursi yang berada di depan meja rias. Mira mulai mengeringkan rambutnya dengan handuknm kecil yang berada di atas kepalanya.


Namun, saat dia melihat pantulannya di cermin, dia seakan teringat dengan sosok bertudung yang sempat muncul di dalam mimpinya. Dia pun kembali gemetar. Matanya bergerak ke kanan dan kiri dengan cepat seolah mencari keberadaan sosok yang membuatnya ketakutan.


Nggak! Udah selama ini dia ngilang, dan gue udah bisa hidup tenang. Nggak mungkin dia tiba-tiba muncul begitu aja, batin Mira yang terus berusaha agar tak mempercayai mimpinya.


Dia bangkit berdiri, dan buru-buru keluar dari kamar. Sangkin paniknya, dia sampai lupa jika dia masih mengenakan bathrobe dan handuk yang juga masih bertengger di atas kepalanya.


Mira berlari ke arah dapur dan menghampiri Lingga yang tengah menyelesaikan masakannya.


Serta merta, Mira segera memeluk punggung pria itu dari belakang, dan mencoba mencari ketenangan di sana.


"Mira," panggil Lingga lirih saat merasakan wanitanya memeluk dengan tubuh yang kembali gemetar.


Dia pun berbalik, dan menangkup kedua pipi si ratu es. Dia kembali melihat ekspresi ketakutan dan cemas di wajah cantik itu. Mata Mira terus bergerak ke kanan dan kiri tak beraturan.


"Dia kembali … dia kembali, Kak … dia kembali! Aku takut!" Seru Mira yang semakin membuat Lingga, cemas terlebih air matanya yang mulai mengalir dengan derasnya.


.


.


.


.

__ADS_1


next eps besok lagi yah😎


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2