Mirage

Mirage
Kembali bekerja


__ADS_3

Mira menyulut ro*kok di tangannya, dan menghisapnya perlahan. Dihembuskannya asap beracun itu hingga membumbung memenuhi ruangan tersebut.


"Tugas apa itu, Mom? Aku nggak mau yang aneh-aneh ya," ucap Mira sambil kembali menyandarkan punggungnya, dan menikmati lintingan tembakau yang menyala.


"Tidak akan aneh-aneh. Dia tamu VVIP dan hanya satu orang. Produk impor lho," ucap Mom Winda.


"Lalu?" tanya Mira.


"Dia baru kembali lagi ke negara ini, setelah kunjungan terakhirnya lima tahun lalu. Orang ini tajir, pengusaha sukses. Bisa dibilang, dia itu pangeran di kerajaan bisnis milik keluarganya." Mom Winda kembali menghisap batang ro*kok, dan menghembuskannya ke udara.


"Kamu bisa saja minta bantuan dia untuk jadi pendukungmu selanjutnya. Yah, kita sama-sama tahu kan kalau Thom itu sudah lumayan tua, dan mungkin sebentar lagi, dia sudah tidak se produktif sekarang. Jadi, apa salahnya jika kamu mulai mencari kandidat lainnya," lanjut Mom Winda.


"Memangnya, berapa usianya?" tanya Mira


"Ehm … sekitar tiga puluh tahun. Mungkin tiga satu," jawab Mom Winda.


"Wow … lumayan. Tapi, tebakanku, dia sama saja dengan pria hidung belang lainnya." Mira seolah tak ingin mengenal orang itu, dan berusaha menjelek-jelekkannya di depan Mom Winda.


"Bukankah Thom juga sama saja. Dia sudah banyak meniduri wanita-wanita malam lainnya sebelum kamu, Mir. Dia sama brengseknya dengan laki-laki hidung belang itu," sahut Mom Winda.


"Setidaknya, sekarang dia sudah jinak, da hanya melihat ku seorang. Selama aku mengenalnya, dia hanya mau bermain dengan ku saja. Bukankah itu sebuah kesetiaan?" ucap Mira menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.


"Ayolah, Mir. Thom hanya terkena virgin effect-mu saja. Dan yah, dia hanya mau bermain dengan mu, tapi kau, bermain dengan siapapun yang sanggup membayar mu bukan," ucap Mom Winda.


"Hahaha … tentu saja. Bukankah itu sudah jadi pekerjaanku?" sahut Mira yang tergelak dengan perkataan Mom Windanya.


"Bagus kalau kau paham. Jadi, tidak ada bantahan! Minggu depan, kamu harus menemani tamu VVIP kita selama dia berada di negara ini," ucap Mom Winda menegaskan.


"Wait, Mom! Apa Mom Winda yang merekomendasikan aku kepada tamu penting kita ini? Kenapa nggak yang lain aja? Tania misalnya," cecar Mira mulai penasaran.


"Bukan Mommy yang merekomendasikan mu, tapi dia sendiri yang meminta kamu menemaninya selama dia berada di negara ini. Mungkin, namamu sudah cukup terkenal di mana-mana, Mir. Seorang pe*la*cur yang tidak bisa men*de*sah di atas ranjang. Bukankah itu adalah sebuah tantangan, untuk semua pria penikmat wanita malam seperti kita," jawab Mom Winda.


"Yah, kau benar Mom. Semua laki-laki sama saja. Mereka hanya tertarik dengan satu hal, lembah berlendir sejengkal di bawah pusar," ucap Mira tersenyum mengejek.


"Anggap saja begitu. So, persiapkan dirimu. Dia akan sampai di sini lima hari lagi, tepatnya di hari jumat. Kemungkinan, malam minggu dia akan datang ke tempat kita. Lakukan perawatan tubuh kalau perlu, agar tamu kita puas dengan pelayanan paradise fall," seru Mom Winda.


"Bukan paradise fall, Mom. Tapi aku, Mira." ucap Mira.

__ADS_1


Mom Winda hanya mengedikkan kedua bahunya dan tersenyum tipis, lalu kemudian kembali menghisap puntung ro*kok yang masih menyala di tangannya.


Setelah pembicaraan itu, Mira keluar dari sana dan berjalan menuju base camp, tempat para Ladies (panggilan untuk wanita malam di sana) berkumpul.


Begitu masuk ke dalamnya, suasana girly begitu terasa. Banyak baju-baju seksi berbagai model dan warna terpajang di rak-rak yang berjejer di dalam ruangan itu.


Meja rias dua sisi dengan lampu-lampu yang mengitari cerminnya, serta peralatan make up yang lengkap, tak lupa juga aksesoris tambahan sebagai penunjang penampilan mereka saat bekerja, semua tersedia di tempat itu.


Sofa empuk yang berada di sudut ruangan, menjad spot favorit para wanita malam itu untuk berkumpul dan saling bersenda gurai.


Mira berjalan dan langsung menuju ke arah sofa, di mana telah duduk beberapa teman seprofesinya.


"Hai, Mir. Dah balik lu?" sapa salah satunya yang berambut pendek sebahu, dengan anting panjang menjuntai hingga pundaknya.


"Yah, semalem, dan langsung disuruh kerja sama mommy!" keluh Mira sembari menghempaskan tubuhnya ke sofa, dan duduk di antara temannya itu.


"Wait! Coba tegakin badan lu, Mir!" seru temannya yang lain.


"Kenapa?" tanya Mira yang merasa malas menuruti perkataan temannya itu.


"Udah, bentar aja sih!" Wanita itu lalu sedikit menarik Mira, dan mendorongnya agak ke depan.


"Kenapa sih?" tanya Mira bingung.


"Pulang dari negara K, penampilanmu jadi makin berani yah," ucap wanita berambut sebahu.


"Oh itu … yah, kebetulan dapat inspirasi baru di sana," ucap Mira datar sambil mengedikkan kedua bahunya.


Tak berselang lama, Mom Winda datang menghampiri anak-anaknya ke dalam ruang make up.


"Ayo semuanya turun! Sambut tamu-tamu kita dengan baik, dan beri mereka kesan agar selalu ingin datang lagi," ucapnya.


"Iya, Mom." Semua ladies yang ada di sana kompak menyahut.


"Oh ya, di mana rubi?" tanya Mom Winda sambil mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan itu.


"Dia libur Mom. Lagi datang bulan," sahut wanita berambut sebahu yang duduk bersama Mira.

__ADS_1


"Oke, semuanya turun sekarang yah. Jangan ada yang males kerja," perintah Mom Winda.


Wanita paruh baya itu pun kemudian keluar dari base camp, disusul kemudian oleh para Ladies yang hendak turun ke lantai satu.


Di bawah sana, Mom Winda menghampiri bilik-bilik yang telah dipesan oleh para pengunjung. Wanita itu mendatanginya, karena sebelumnya pengunjung itu meningalkan pesan kepada Samuel, untuk mengirim beberapa wanita ke tempatnya.


"Selamat malam, Tuan-tuan. Saya Mom Winda, pengurus tempat ini." Mom Winda memperkenalkan dirinya.


"Bawakan kami beberapa teman untuk bersenang-senang," ucap salah seorang pria di bilik itu.


"Tunggu, aku ingin wanita dengan baju merah menyala yang tadi. Bisakah kamu bawa dia kemari?" seru pria lain yang sedari tadi nampak celingukan, mencari sesuatu di balik punggung Mom Winda.


"Baiklah, tunggu sebentar." Mom Winda tersenyum begitu ramah kepada para laki-laki hidung belang itu, lalu berbalik dan pergi dari sana.


Tak berselang lama, dia kembali dengan beberapa ladies-nya yang mengenakan baju berwarna merah.


"Silakan, Tuan. Ini anak-abak saya yang malam ini kebetulan memakai baju merah. Silakan pilih yang anda suka," ujar Mom Winda.


Dua di antara ketiga pria itu langsung memilih salah satu ladies, untuk mereka jadikan teman kencan, namun seorang lagi merasa tak tertarik dengan yang ada di hadapannya, padahal dialah yang meminta wanita berbaju merah tadi.


"Tuan, bukannya tadi Anda yang meminta wanita yang berbaju merah? Kenapa Anda tak memilih salah satunya?" tanya Mom Winda dengan suara yang dibuat selembut mungkin.


"Tidak! Aku tak tertarik sama sekali dengan mereka. Bawa pergi saja semuanya," seru pria itu kesal, yang lalu menuangkan minuman ke dalam gelasnya sendiri.


Mom Winda memberi isyarat tepukan tangan kepada para ladies untuk keluar dari bilik itu, sedangkan kedua wanita yang telah terpilih, memulai aksi mereka melayani tamunya.


Kini semua ladies berbaju merah telah pergi. Saat Mom Winda hendak keluar dari tempat itu, tiba-tiba Mira masuk begitu saja tanpa permisi, dan langsung duduk di samping pria yang tadi menolak semua ladies yang dibawa oleh Mom Winda.


.


.


.


.


Mau apa ya si Mira dsitu?🤔mau apa coba hayo😁

__ADS_1


tunggu next eps yah😊


__ADS_2