
Di The Royal Blossom, terdapat empat tower, dengan nama bunga-bunga yang eksotis, diantaranya adalah rose, orchid, frangipani, dan lotus. Semuanya diawali dengan kata Royal sesuai dengan tema mewah dan glamor dari hunian elit itu.
Antara tower Roya Rose tempat tinggal Mira, dengan Royal Orchid, tempat yang dituju oleh wanita tua tadi, hanya terpisah oleh central park yang berada di tengah ke empat tower itu.
Mira pun mengajak Wanita itu berjalan menyusuri taman bunga yang menjadi simbol The Royal Blossom, dan menuju ke gedung di seberangnya.
"Ini gedungnya, Bu. Ibu tinggal masuk aja, trus tanyakan ke sekuriti, di mana unit yang Ibu cari," ucap Mira sesampainya mereka di lobi gedung.
"Terimakasih ya, Nak." Wanita itu tersenyum ke arah Mira, sambil meraih tangannya.
"Iya, Bu. Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Mira yang kemudian berlalu pergi.
Wanita itu memandangi kepergian Mira, dan memegangi telinganya. Ia nampak tengah menekan sesautu yang terpasang di sana.
"Target sudah berjalan kembali ke area mawar," ucapnya yang kemudian berjalan pergi keluar dari gedung The Royal Orchid.
...๐๐๐๐๐...
Di tempat lain, Thom yang tengah berada di dalam mobilnya, terus mencoba menghubungi Mira, namun tak satupun panggilannya yang diangkat wanita itu.
"Ayo, Mir. Angkat teleponnya," gumam Thom yang diliputi kepanikan.
Mobil terus melaju dengan cepat, namun semuanya terasa lambat ketika seseorang tengah berada dalam situasi yang mendesak.
__ADS_1
"Kenapa jalannya lama sekali?" gerutu Thom kepada sang supir.
"Maaf, Tuan. Ini sudah lumayan cepat. Anda tahu sendiri ibu kota itu semacet apa lalu lintasnya," sahut sang supir memberikan pengertian dengan sopan.
"Hah โฆ kenapa dia tak mau angkat teleponku," gumam Thom sambil memijit pangkal hidungnya.
Ia teringat Lingga, dan mencoba untuk menghububgi pria itu sekali lagi.
Tut! Tut! Tut!
"Aaarrrrggghhh! Kenapa tidak ada yang bisa dihubungi dalam situasi seperti ini sih!" teriak Thom.
Di tengah frustasinya, Thom mendapatkan sebuah panggilan masuk, dari nomor yang tidak dikenal. Pria paruh baya itu segera menerima panggilan tersebut.
"Maaf, Tuan. Mekanik yang kami panggil, sekarang tengah memperbaikinya. Namun, Nona Mira, telah lebih dulu kembali ke gedung ini, sehingga kami terpaksa menghentikan semuanya," tutur orang di seberang yang tak lain adalah anak buah Thomas.
Tepat saat itu, Thomas telah memasuki pelataran tower Roya Rose, tempat di mana Mira tinggal.
"Baik, aku yang akan mencegahnya. Di mana dia sekarang?" tanya Thomas sambil berlari keluar dari mobil.
"Dia sedang menuju basement, Tuan."
Thomas seketika berlari menuju parkiran bawah tanang dari arah luar, tanpa melewati lift. Dia sudah tak bisa berpikir normal, saat wanita yang ia sayangi ada dalam bahaya.
__ADS_1
Thomas berlari dan tepat saat ia sampai di sana, Mira baru saja akan membuka mobil sport-nya.
"MIRA!" teriak Thomas.
Pria paruh baya itu lalu berjalan cepat menghampiri Mira, yang memasang wajah kesal, sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
"Ada apa kau kemari, Thom? Bukankah kau sudah lupa dengan ku?" ucap Mira ketus.
"Kembalikan mobilku!" ucap Thom langsung tanpa menjawab pertanyaan Mira terlebih dulu.
Mira seketika menoleh dan menatap Thom dengan tajam. Ia mengernyitkan alisnya, karena tak yakin dengan apa yang ia dengar barusan.
"Kembalikan kataku," ucap Thom berusaha mengatur nafasnya yang tersengal akibat berlari tadi.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen yah๐ kembang ma kopi juga boleh banget๐
__ADS_1