
"Ini sudah pagi, bahkan hampir siang. Kalian pulang lah. Dan Anda Tuan Lingga, semua kerusakan ini, akan saya masukkan ke dalam tagihan Anda," seru Mom Winda.
"Baik, Nyonya. Kirimkan saja tagihannya melalui asisten saya yang kemarin datang. Dia yang akan mengurus semuanya," sahut Lingga.
Mom Winda pun lalu berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan kedua orang aneh itu berdua di dalam sana.
Mira keluar dari balik selimut, dan berjalan menuju pintu. Namun, Lingga segera meraih lengannya dan membuat Mira berbalik menghadapnya.
"Lepas!" ucap Mira datar.
"Pulang dengan ku!" seru Lingga dengan tatapan tajamnya.
"Saya tidak mau," sahut Mira ketus.
"Memangnya kau sudah punya uang pembatalan kontraknya?" tanya Lingga sembari menatap manik hitam Mira dalam-dalam.
Merasa belum mendapatkan apa yang diminta Lingga, Mira pun memalingkan wajahnya, tanda jika dia belum bisa memberikan uang tersebut.
"Heh … selama pihak pertama belum bisa membayar uang pembatalan kontrak, atau pihak kedua yang dengan sendirinya menyudahi kontrak ini, maka perjanjian akan terus berjalan. Itu poin terakhirnya," ucap Lingga yang membuat Mira menoleh dan balas menatap tajam ke arah Lingga.
"Dasar licik!" seru Mira geram.
Lingga hanya menyunggingkan senyum di bibirnya, dan menarik Mira keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Mira dengan terpaksa mematuhi pria yang selalu membuatnya kesal, selama dia tak bisa memberikan kompensasi pembatalan kontraknya.
"Masuklah!" ucap Lingga ketika telah sampai di depan pintu mobil, yang ia bukakan untuk Mira di kursi penumpang depan.
Mira pun menurut, meski dengan wajah yang ditekuk, dan terus mendengus kesal.
Namun, Lingga dengan penuh perhatian, menghalangi kepala Mira, agar tidak terbentur bagian atas pintu, dan kemudian hendak memasangkan seat belt untuk wanita itu.
"Saya bisa sendiri, Tuan." Mira merebut seat belt, dan memasangkannya sendiri.
Lingga pun membiarkannya, dan menutup pintunya rapat. Ia lalu berjalan memutar dan masuk ke dalam kursi kemudi.
"Kita sarapan dulu sebelum pulang," ujarnya sesaat sebelum melajukan mobilnya.
Lingga hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi si ratu es di sampingnya itu.
Dia pun lalu melajukan mobilnya, membelah keramaian ibu kota yang sarat akan kemacetan di mana-mana.
Seperti biasa, Mira menatap ke arah luar mobil, dan menikmati pemandangan pagi menjelang siang di ibu kota, yang penuh dengan polusi dan kendaraan yang berjubel di jalanan.
Namun, kali ini wajahnya tak menyiratkan sebuah ketenangan seperti yang biasa terlukis di wajahnya, kala menatap pemandangan dari kendaraan yang tengah berjalan.
Hal ini dikarenakan, semenjak mobil berjalan sekitar satu kilo meter dari paradise fall, perutnya sudah merasa tidak enak, dan cenderung mual. Namun, Mira sebisa mungkin menahannya, agar tidak sampai menjatuhkan image-nya di depan Lingga.
__ADS_1
Wajahnya semakin terlihat pucat, dan keringat dingin keluar dari pelipisnya. Hal itu tak luput dari perhatian Lingga, yang memang sejak tadi memperhatikan Mira yang terus memalingkan wajah darinya.
Pria itu pun mengulurkan tangannya, dan menyeka peluh yang ada di pelipis Mira.
"Kau baik-baik saja?" tayanya khawatir.
Mira hanya menepis tangan Lingga, dan bahkan tanpa kata dan tanpa menoleh ke arah pria itu.
Lingga pun hanya mampu mendengus kesal, karena sikap Mira yang selalu saja dingin terhadapnya.
Sedangkan wanita itu, semakin merasa jika perutnya bertambah tidak bisa lagi untuk dikondisikan. Dia pun menepuk-nepuk dash board, dan membuat Lingga menepikan mobilnya seketika.
.
.
.
.
Nah lho, mual kenapa tuh Mir? ada yang lupa pke pengaman kah?🤔
like dan komen yuk guys😊
__ADS_1