Mirage

Mirage
Apa ini milikku?


__ADS_3

Seusai dari rungan Dokter Stella, Lingga berjalan ke arah bagian administrasi, dan mengurus semuanya.


Tak berselang lama, Mira yang kondisinya sudah lebih baik dipindahkan ke runag rawat VIP yang sudah dipesan oleh Lingga sebelumnya.


Kedua perawat tadi membantu Mira untuk berganti pakain pasien yang lebih hangat, dari pada dress yang dipakainya saat datang ke rumah sakit.


Setelah memastikan semuanya beres, kedua perawat itu pun kemudian pergi keluar, meninggalkan Mira agar beristirahat.


Saat ini, Mira duduk sambil meluruskan kakinya, dan bersandar pada bagian ranjang yang bisa dinaikkan sesuai keinginan.


wajahnya menerawang menatap ke arah jendela, yang memperlihatkan pemandangan langit hitam di malam hari yang tak berbintang. Siri khas langit di kota-kota besar yang sangat membosankan.


Apa dia sudah tau? Apa dia marah? Apa dia menolak anak ini? batin Mira yang menerka-nerka bagaimana kondisi Lingga saat ini.


Tepat saat itu, pria yang sedari tadi berada di benaknya, muncul dari balik pintu. Mira pun menoleh dan menatap pria itu lekat-lekat, ingin melihat ekspresi apa yang terlukis di wajahnya.


Namun, Lingga diam, hingga membuat Mira memalingkan kembali wajahnya.


Sepertinya, dia memang tidak akan mau menerima anak ini, batin Mira.


Meskipun dirinya sudah mempersiapkan kemungkinan itu, akan tetapi hatinya tetap saja sakit saat melihat ekspresi datar di wajah Lingga, saat telah mengetahui keberadaan anak dalam kandungan Mira.


Wanita itu menggigit bibir bawahnya, seiring dengan Lingga yang berjalan semakin mendekat padanya.


Kini, Lingga telah berdiri tepat di hadapan wanita es itu. Dia sengaja menghalangi pandangan Mira, yang terus saja melihat ke arah luar melalui jendela.


Namun, wanita itu justru kembali memalingkan pandangannya dan lebih memilih menunduk.


Lingga duduk di samping Mira. Dia meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya.


"Apa … apa dia milikku?" tanya Lingga yang menatap lekat wajah ratu esnya.


Mira masih menunduk.


"Kalau aku bilang 'iya', apa kamu akan percaya?" Mira balas bertanya.


"Mir, jawab aku!" seru Lingga sedikit meninggikan nada bicaranya.


Mira pun menoleh dan balik menatap Lingga.


"Ya, ini milik mu. Sekarang kau mau apa?" jawab Mira dengan mata yang telah berkaca-kaca.


"Kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku? Apa setidak percaya itu kamu sama aku, Mir?" tanya Lingga kecewa.


Melihat ekspresi Lingga yang menunjukkan sebaliknya, Mira pun kembali menunduk. Awalnya dia mengira, jika pria itu akan langsung memintanya untuk ab*rsi atau tak mengakui anak itu. Namun, Lingga justru terlihat kecewa saat dirinya tak memberitahukan keberadaan anak yang ada dalam kandungannya tersebut.


"Mir, jawab aku. Apa kamu begitu tidak percayanya sama aku, hem?" tanya Lingga yang ikut menuduk, dengan menumpukan keningnya pada genggaman tangan mereka.


"A … aku … aku hanya menyiapkan diri untuk menerima kemungkinan buruknya. Dari awal, aku tak berharap kau akan menerima dia, mengingat aku yang selama ini selalu bersama pria asing," ucap Mira.

__ADS_1


Lingga mengangkat kepalanya. Dia menatap lekat wajah wanita esnya, dan menyentuh lembut pipi Mira.


"Apa kau yakin ini milikku?" tanya Lingga sekali lagi.


"Hanya kakak yang selalu lupa memakai pengaman, saat bermain denganku," tutur Mira.


Lingga nampak terkekeh mendengar penuturan Mira, yang membuat wanita itu pun mengangkat wajahnya dan menatap bingung ke arah pria besarnya.


"Mir, aku akan selalu percaya dengan apa yang kamu ucapkan. Jadi, mari kita rawat anak ini sama-sama yah," ajak Lingga.


Bagai oase di padang tandus, hati Mira begitu terenyuh melihat Lingga yang begitu tulus mau menerima anak dalam kandungannya, dan mengakui anak itu sebagai miliknya.


Matanya berkaca-kaca, dan setetes bulir bening meluncur di pipi mulus wanita itu.


Lingga pun seketika itu mendekap Mira, dan membawanya ke dalam pelukan hangat si pria besar.


"Terimaksih, sudah mengandung anakku, Mir," ucap Lingga dengan sebuah kecupan di puncak kepala Mira.


Mira tak menyahut. Dia hanya mengangguk pelan dalam dekapan Lingga.


...💋💋💋💋💋...


Beberapa hari kemudian, Mira sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Banyak pesan-pesan yang diberikan oleh dokter kepada kedua orang itu, terlebih untuk Lingga agar tidak terlalu memaksakan kehendaknya kepada Mira.


"Nyonya, sebaiknya jika Anda mendapatkan pemaksaan dari suami Anda, Anda bisa segera hubungi nomor ini," ucap sang dokter sambil menyerahkan sebuah kartu nama bertuliskan Komnas perlindungan Anak dan Perempuan.


Sedangkan Mira, dia justru terkekeh kecil melihat ekspresi Lingga yang menurutnya menggemaskan.


"Terimaksih, Dok. Saya janji akan mengingat pesan dokter," ucap Mira sambil menahan tawanya.


"Sudahkan, Dok? Kalau begitu, saya akan membawa istri saya pulang untuk istirahat," sahut Lingga yang tak mau kembali disudutkan oleh Dokter Stella.


"Baiklah. Jangan lupa untuk meriksakan kandungan, minimal sebulan sekali. Atau jika ada keluhan, segera bawa istri Anda ke rumah sakit," pesan sang doker.


"Baik, Dok." Mira menyahut dan berjabat tangan dengan Dokter Stella.


Setelah itu, mereka pun segera menuju ke apartemen The Royal Blossom. Sepanjang perjalanan, Lingga terus saja meletakkan tangannya di atas perut rata Mira, sambil sesekali mengusapnya.


Hati Mira pun menghangat saat melihat prianya begiru menyayangi anak yang masih belum berbentuk sempurna itu.


"Apa kita mau makan dulu?" tawar Lingga.


"Ehm … nggak ah. Aku mau langsung pulang aja," jawab Mira.


"Baik, Nyonya." Lingga pun mengiyakan permintaan Mira, dan segera menuju ke apartemen.


Terimakasih, karena sudah mau menerima anak ini, Kak, batin Mira yang tersenyum hangat ke arah prianya itu.


Sesampainya di Royal Rose Tower, Lingga mengangkat tubuh Mira saat keluar dari mobil, dan membawanya masuk ke dalam lift. Mira pun melingkarkan lengannya di leher lingga, dan membenamkan wajahnya di dada pria itu.

__ADS_1


"Kak, aku bisa jalan sendiri," ucap Mira yang menyembunyikan wajahnya di dada Lingga, karena malu.


"Harusnya tadi kita beli kursi roda saja, biar kamu nggak usah capek-capek jalan, Mir." Lingga sama sekali tak menghiraukan wanitanya yang saat itu tengah merasa sangat malu.


Beberapa orang yang berada di dalam lift pun memandangi mereka dengan tatapan aneh. Namun, Lingga sama sekali tak peduli. Justru Mira yang semakin dalam menyembunyikan wajahnya di dada Lingga.


"Maaf, istri saya baru saja keluar dari runah sakit. Kandungannya lemah," ucap Lingga yang berusaha menepis pandangan aneh para warga apartemen.


"Oh … perhatian sekali Anda, Tuan." salah seorang penghuni memuji sikap Lingga.


Hal ini sontak membuat pria itu merasa bangga dengan dirinya sendiri. Berbeda dengan Mira yang justru kesal dengan sikap narsis Lingga.


Apa dia nggak tau kalau gue ini malu banget sekarang? Malah dengab pe de nya bilang begitu tanpa ditanya. Pasti biar dipuji, gerutu Mira dalam hati.


Sesampainya di dalam apartemen, Lingga meletakkan Mira di atas tempat tidur.


"Kamu berbaringlah," seru Lingga.


"Tapi aku males, Kak. Masa di runah sakit bed rest, di sini juga gitu lagi. Kan be te," rengek Mira.


"Eh … calon ibu nggak boleh kebanyakan ngeluh. Nggak baik buat baby-nya," ucap Lingga sambil mengusap perut Mira yag masih nampak rata


"Ehm … Kakak …," rengek Mira lagi.


"Apa?" sahut Lingga gemas.


"Nggak mau tidur. Duduk aja yah," pinta Mira dengan manjanya.


Hah … kalau nggak lagi kaya gini, udah ku terkam kamu, Mir, batin Lingga.


"Ya udah. Kamu duduk dulu di sini, aku mau ambil barang-barang di mobil bentar," ucap Lingga.


Pria itu lalu mengecup kening Mira sekilas, dan berjalan keluar meninggalkan Mira.


Saat Lingga meninggalkan unitnya, nampak seseorang muncul dari balik dinding yang ada di ujung lorong, yang mengarah ke pintu darurat.


Sosok itu nampak memperhatikan unit di mana Mira dan Lingga tinggal bersama.


.


.


.


.


Misteri? Tenang aja, misterinya masih lama 😆 aku masih mau ngasih yang manis-manis dulu 😁 kalian nikmati aja alurnya oke😘biar aku yang urus ceritanya😎


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁

__ADS_1


__ADS_2