
Mira tengah berbaring menyamping berhadapan dengan Lingga, dan menjadikan lengan pria itu sebagai bantalnya.
Lingga menyingkirkan anak rambut Mira yang menutupi wajah cantik itu. Keduanya masih polos tanpa sehelai benang pun dan hanya tertutup selimut, setelah percintaan mereka tadi.
Mira nampak memejamkan matanya, dan menikmati belaian prianya itu.
"Apa kamu lelah, Mir?" tanya Lingga dengan lembut.
"Ehm … nggak kok," sahut Mira malas.
Dia pun kemudian membuka matanya yang terlihat begitu sendu.
"Ada apa denganmu, Mir? Apa aku boleh tau?" tanya Lingga dengan lembut.
"Ehm … sebelum itu, aku mau minta tolong sesutau sama Kakak," pinta Mira.
"Minta tolong apa, hem?" tanya Lingga.
"Aku mau Kakak memerintahkan seseorang untuk mengintai Sisi, salah satu ladies di paradise fall," ucap Mira.
"Ehm ... Sisi? Kenapa harus mengintai dia?" tanya Lingga lagi yang belum mengerti maksud Mira.
"Ehm … sebenarnya, dia orang yang udah jebak aku, waktu di grand moon," ungkap Mira.
Lingga terperanjat hingga mengangkat sedikit kepalanya. Namun, Mira menahan pundak pria itu agar kembali berbaring di sampingnya.
"Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin-kemarin? Aku bisa membantumu untuk membereskan dia, Mir. Apa kamu nggak percaya sama aku?" tanya Lingga yang merasa kecewa dengan Mira
"Bukan, Kak. Bukan begitu. Aku cuma ingin menyelesaikannya sendiri saja. Kan ini juga urusan sesama ladies-nya Mom Winda. Jadi aku cuma mau menyelesaikannya dengan cara kami, cara para ladies," jelas Mira yang mencoba memberi pengertian kepada Lingga.
Pria itu pun kembali melembut. Dia mengusap pipi Mira yang masih nampak sendu.
"Lalu, apa sekarang semua sudah selesai?" tanya Lingga.
Mira menggeleng pelan.
"Mungkin masalah grand moon sudah, tapi masalah intinya belum sama sekali. Aku rasa, Sisi hanya orang suruhan. Menurut apa yang dikatakan Tania, malam itu juga ibunya Sisi mendapatkan operasi dengan biaya yang tidak sedikit. Kemungkinan, orang yang ada di balik semua ini, mengiming-imingi uang atau mungkin malah mengancam Sisi dengan ibunya."
"Aku cuma ingin memancing orang yang selalu ingin mencelakaiku, dengan Sisi sebagai umpannya. Entah kenapa, aku ngerasa kalau orang ini akan mendatangi Sisi lagi karena dia sudah gagal mencelakaiku," seru Mira.
Linggaa paham apa yang disampaikan Mira. Namun, dia sendiri tak ingin jika wanitanya kembali berurusan dengan orang yang sudah dengan sengaja mencelakainya.
"Kenapa kamu masih mau peduli dengan orang seperti itu? Harusnya, kamu biarin aja dia. Mau dia diburu mereka, mau dia diancam, itu bukan urusanmu, Sayang." Lingga menatap lekat kedua mata bening Mira.
Lingga seolah tau, maksud wanitanya meminta dirinya untuk mengintai, bukan hanya sekedar untuk mencari tau dalang di balik semua ini, melainkan juga untuk melindungi wanita bernama Sisi itu juga.
"Aku nggak peduli sama dia kok. Aku cuma mau manfaatin dia aja," sahut Mira mencoba meyakinkan Lingga.
Lingga tak menyahut. Dia hanya menarik Mira agar masuk ke dalam dekapannya.
__ADS_1
Hah … kenapa ratu es ku mendadak jadi ibu peri baik hati seperti ini? batin Lingga.
"Kak, jawab dulu. Bisa nggak?" rengek Mira dalam pelukan prianya.
"Ehm … kalau aku nggak mau, emang kamu mau gimana?" goda Lingga.
"Ya udah, aku coba minta tolong sama Steve aja. Dia kan baik hati," sindir Mira.
Lingga seketika mengurai pelukannya dan menjauhkan Mira darinya. Dia menatap tajam ke arah wanitanya itu, dengan kedua tangan yang mencengkeram pundak Mira. Namun, Mira yang ditatap, justru mengul*m senyumnya karena melihat Lingga yang sedang dilanda cemburu.
"Jangan sebut-sebut nama pria menyebalkan itu lagi, Mir. Aku sangat tidak suka," ucap Lingga penuh penekanan.
"Lagian … siapa suruh Kakak perhitungan sekali sama aku," ledek Mira yang justru menahan tawanya saat melihat raut wajah marah Lingga.
Si*lan! Dia sudah bisa menguasaiku samoai seperti ini, batin Lingga.
"Jadi, kamu mau main-main dengan ku, hem," ucap Lingga yang tahu jika wanitanya hanya memancing kecemburuannya saja.
Dia pun merenggangkan cengkeraman di bahu Mira, dan turun ke pinggang wanjta itu. Dia menggelitiki si ratu es, hingga Mira menggeliat-liat karena kegelian.
"Hahahahha … ampun, Kak … udah … hahahha … kak …," teriak Mira yang tak kuat dengan gelitikan Lingga
"Siapa suruh kamu ngerjain aku. Hah … hah … rasain nih …," seru Lingga sambil terus menggelitiki wanitanya.
Namun, tiba-tiba Mira memekik keras seolah ia tengah kesakitan, tetapi lingga terus saja membuatnya tertawa geli.
"Aaaaaaahhhhhh …," pekik Mira.
Akan tetapi, Mira yang terus mendekap perutnya, dan keringat yang mulai bermunculan di pelipis wanita itu, Membuat Lingga menghentikan aksinya.
"Mir, kamu nggak papa? Aku … aku udah nyakitin kamu yah? Maaf yah," ucap Lingga yang merasa khawatir dengan wanitanya yang terus merintih kesakitan.
"Kak, rumah … sakit … tolong …," pinta Mira lirih.
Lingga mendadak kebingungan. Dia ingin segera membawa Mira ke rumah sakit, tetapi tidak mungkin karena kondisi mereka saat ini yang sedang telanj*ng bulat.
Akhirnya, Lingga pun memakai kembali celananya yang tadi ia pakai, dan mengambil kaos oblong yang ada di lemari.
Sementara Mira, dia hanya memakaikan wanita itu sebuah dress terusan selutut, tanpa memakaikan pakaian d*lamnya.
Dia buru-buru menggendong tubuh wanita itu hingga ke parkiran. Lingga mendudukkan Mira di kursi depan, dan pria itu pun segera memutar dan masuk ke kursi kemudi.
Lingga pun melajukan mobilnya secepat yang ia bisa, sementara Mira terus saja merintih dengan keringat yang semakin mengucur deras dan membuat Lingga semakin panik.
"Kamu yang kuat yah. Kita bentar lagi sampe kok," ucap Lingga sambil menggenggam tangan Mira yang masih mendekap perutnya.
Sekitar lima belas menit kemudian, lebih cepat sepulih menit dari biasanya, mereka telah sampai di rumah sakit.
Lingga sengaja langsung menuju ke pintu gawat darurat, agar Mira segera diberi pertolongan.
__ADS_1
"Ada apa, Tuan?" tanya salah seorang perawat yang melihat kedatangan Lingga.
"Cepat bawakan kursi roda atau apapun. Ada pasien yang kesakitan," perintah Lingga yang terdengar panik.
Dia buru-buru menuju ke tempat Mira berada dan membuka pintunya. Pria itu kemudian menggendong wanitanya dan meletakkanya di atas ranjang pasien yang dibawakan oleh perawat radi.
"Sakit, Kak," rintih Mira.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kamu akan dapat bantuan," ucap Lingga yang ikut berlari bersama para perawat yang mendorong brangkar tersebut.
Sesampainya mereka di depan ruang UGD, salah satu perawat menahan Lingga agar tetap berada di luar.
"Maaf, Tuan. Sebaiknya Anda tetap di sini. Biarkan kami yang menangani pasien," ujarnya.
"Tapi … tapi tolong sembuhkan dia, Sus. Pastikan dia baik-baik saja." Lingga masih mencoba melihat ke dalam, akan tetapi terus dicegah oleh perawat itu.
"Baik. Mohon kerjasamanya ya, Tuan," ucap perawat itu yang kemudian masuk dan menutup pintu rapat-rapat.
Lingga masih berdiri sambil mengusap wajahnya kasar. Dia begitu khawatir dengan Mira. Dia takut jika sesuatu yang buruk terjadi akibat ulah konyolnya.
Tak berselang lama, seorang dokter yang terlihat familiar, berlari menuju ke ruang UGD. Dia pun segera melakukan pemeriksaan terhadap Mira sesampainya di dalam sana.
Tak berselang lama, sekitar tiga puluh menit kemudian, dokter keluar dan menghampiri Lingga yang masih menunggu di luar.
Melihat sang dokter keluar, Lingga pun segera berjalan mendekat.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Lingga cemas.
"Anda sebagai suami kenapa sangat ceroboh seperti ini? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan keduanya?" cerocos dokter wanita dengan rambur sebahu itu kepada Lingga.
Lingga pun hanya mampu mengerutkan kedua alisnya dan mencoba memahami perkataan sang dokter.
.
.
.
.
Cie....babang di kira suaminya Nyai🤭🤭🤭
Lingga : apaan sih thor😊
Ciye....markonah eh … merona
Lingga : 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁