
Tiga hari telah berlalu sejak Mira selesai dioperasi. Wanita masih belum juga membuka matanya. Akibat kehilangan banyak darah, membuat dia sedikit mengalami gangguan di otaknya yang menyebabkan dirinya tak kunjung bangun.
Namun, dari sensor pupilnya yang menangkap rangsangan cahaya, membuat Mira tidak dinyatakan koma oleh tim medis, hanya saja belum sadarkan diri dari tidurnya.
Lingga masih setia menemani wanitanya yang masih terpejam, dan mengalihkan semua pekerjaannya kepada Nicholas.
Silih berganti, teman-teman Mira di paradise fall datang menjenguk wanita malang itu yang harus kehilanagn calon anaknya.
Suatu sore, saat Lingga tengah memotong kuku jari Mira, tanpa sengaja ia ikut melukai kutikulanya hingga berdarah. Seketika itu juga, Mira bereaksi dengan menggerakkan sedikit jemarinya, dan bulu matanya pun terlihat mengerjap pelan.
Hal itu tak luput dari perhatin Lingga. Dia memanggil nama wanitanya yang sudah beberapa hari ini tak juga membuka mata.
"Mir! Kira!" panggil Lingga.
Bulu Mata wanita itu semakin sering bergerak, hingga akhirnya lambat laun pelupuk matanya pun terangkat sedikit demi sedikit.
Lingga pun bangkit dan mendekatkan wajahnya kepada Mira. Dia membelai lembut puncak kepala wanitanya itu, dan tak lupa menekan tombol darurat yang ada di samping tempat tidur.
"Sayang, kamu bangun? Syukurlah," ucap Lingga saat perlahan kedua mata Mira semakin terbuka.
"Ehm …," Mira kembali memejamkan matanya karena merasa silau dengan cahaya di ruangan itu.
Dia kembali membuka matanya perlahan, sembari menyesuaikan pupilnya dengan kondisi penerangan di ruang rawatnya tersebut.
Nampak samar-samar warna putih mendominasi pandangan Mira. Penglihatannya masih kabur, akibat terlalu lama tidur.
"A … ku … di … ma … na …?" kalimat pertama yang diucapkan Mira setelah bangun dari tidur panjangnya.
"Kamu di rumah sakit, Sayang," sahut Lingga.
Mira masih terlihat sangat lemas, hingga kedipan matanya pun begitu pelan.
Tak berselang lama, para dokter serta perawat datang dan melihat jika pasien telah sadarkan diri.
"Mohon maaf, tolong Anda tunggu di luar. Biarkan kami melakukan beberapa pemeriksaan terhadap pasien," ucap salah seorang perawat.
"Baik, Sus," sahut Lingga.
Dia pun melepaskan genggaman di tangan wanitanya dan berjalan keluar dari ruang rawat Mira.
Kondisi Lingga sudah membaik. Namun akibat luka tembak yang mengenai tulang keringnya, membuat pria itu harus berjalan dengan menggunakan kruk atau tongkat bantu jalan untuk beberapa waktu yang akan datang hingga dokter memperbolehkan melepasnya.
Lingga menunggu cukup lama, sekitar empat puluh lima menit. Saat dokter terlihat keluar dari ruangan, Lingga segera menghampirinya dan menanyakan kondisi wanitanya.
"Bagaimana, Dok? Apa dia baik-baik saja?" tanya Lingga.
"Syukurlah, dia bisa melewati masa kritisnya. Tinggal pemulihannya saja. Dan untuk soal kandungannya, tolong sampaikan dengan hati-hati, agar pasien tidak sampai terkena depresi," seru dokter itu.
Sang dokter pun memberifahukan apa-apa yang boleh dan tidak dilakukan oleh Mira, serta makanan apa saja yang harus dihindari beberapa waktu ini.
"Baik, Dok. Terimakasih," ucap Lingga.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," sahut sang dokter.
Seperginya semua dokter dan perawat, Lingga kembali masuk ke dalam ruang rawat Mira. Nampak di sana, wanitanya masih terbaring lemah, dan hanya mampu menggerakakn kepala ke kanan san kiri.
Lingga kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang, dengan sedikit memajukan posisinya, agar lebih dekat dengan Mira.
Dia meraih tangan wanita itu, dan menggenggamnya erat, seraya menempelkannya di pipi.
"Hai, putri tidur," sapa Lingga.
Nampak senyum tipis terukir di wajah pucat si ratu es.
"Berapa lama aku tidur, Kak?" tanya Mira dengan suara yang masih terdengar serak.
"Lumayan lama," jawab Lingga sembari membelai pelipis Mira.
__ADS_1
"Kak … Kak Erik?" tanya Mira.
Ada rasa khawatir tersirat di matanya, dan Lingga pun tahu akan hal itu.
"Mereka semua sudah diamankan oleh pihak berwajib. Aku akan pastikan, kalau mereka nggak akan keluar dalam waktu cepat. Kamu nggak usah khawatir lagi yah," tutur Lingga.
"Ehm …," Mira mengangguk.
"Apa kamu haus?" tanya Lingga.
"Ehm … tenggorokan ku lumahan kering," keluh Mira.
"Sebentar yah," ujar Lingga.
Dia mengambilkan air minum, dan memasang sedotan plastik untuk mempermudah Mira.
"Terimakasih, Kak," ucap Mira.
"Ehm … apa kau butuh sesuatu lagi?" tanya Lingga.
"Mataku masih berat. Boleh nggak aku merem lagi?" tanya Mira.
"Ehm … kau istirahat dulu saja yah. Aku akan selalu ada di sini untuk mu," ucap Lingga sembari mengecup punggung tangan wanitanya.
Kondisi Mira yang masih sangat lemah, membuatnya terus saja ingin memejamkan mata. Lingga pun memaklumi dan membairkannya.
Sepertinya, dia belum sadar sepenuhnya. Lebih baik, aku tunggu sampai dia benar-benar sudah siap, baru ku katakan tentang kandungannya, batin Lingga.
...💋💋💋💋💋...
Keesokan harinya, Mira yang nampak sudah lebih baik, bahkan sudah mulai menggerakan tangannya meski masih sedikit gemetar, nampak duduk bersandar di ranjang pasien yang posisi bagian atasnya sudah ditinggikan oleh Lingga.
Nampak, pria itu tengah mengelap wajah, tangan dan kaki Mira gara terlihat lebih segar. Hal ini pun ia lakukan bahkan saat si ratu es masih belum sadarkan diri.
"Mendingan kan?" tanya Lingga.
"Ehm … bisa pakein serum sama pelembab ke wajah ku sekalian nggak, Kak?" tanya Mira.
"Cantik apanya? Muka kaya zombie gini juga," gerutu Mira saat melihat pantulan wajahnya di cermin.
Lingkar hitam di mata, wajah pucat dan kusam, membuatnya malu menampakkan diri di hadapan orang lain.
"Buat aku, kamu masih cantik kok, Sayang," rayu Lingga.
"Nggak mau tau. Pokonya pakein!" seru Mira merengut.
Lingga terkekeh samar, dan dia pun menuruti apa yang diminta Mira. Dia meminta Nicholas membawakan perlengkapan make up Mira yang ada di apartemennya.
Tak berselang lama, seorang perawat membawakan makanan untuk Mira beserta obat yang harus diminum oleh si pasien.
Setelah selesai meletakkan semuanya di atas nakas, perawat itu pun kembali keluar.
"Laperkan? Makan dulu yah," seru Lingga.
Mira nampak mengangguk. Dia lalu mengusap perutnya. Namun tiba-tiba, sebuah ingatan terbersit di benaknya.
Lingga mengambil mangkuk bubur dan ketika hendak menyuapkan kepada Mira, dia melihat jika wanita itu diam tertunduk.
"Mira, kenapa? Ada yang sakit?" tanya Lingga.
Wanita itu mengangkat kepalanya. Sangat jelas terlihat jika matanya bergetar dan wajahnya semakin pias.
"Kak, aku kemarin tertembak di mana?" tanya Mira.
Giliran Lingga yang diam, seakan tahu apa yang akan ditanyakan Mira selanjutnya.
Sepertinya, dia sudah siap mendengar kabar tentang anaknya, batin Lingga.
__ADS_1
Pria itu terlihat meletakkan mangkuk bubur, kemudian mengulurkan tangannya, dan menyentuh perut bagian kiri Mira.
Pandangan si ratu es pun mengikuti ke mana arah tangan Lingga menuju. Dia turut menyentuh bagian yang dipegang oleh pria itu.
"La … lalu … anakku?" tanya Mira dengan suara bergetar.
Lingga menatap dalam mata Mira, dan beralih menyentuh pipi wanitanya.
"Dia sudah baik-baik saja … di surga," ungkap Lingga.
Mira tertegun mendengar penuturan Lingga. Namun, dia seolah masih bingung hingga air matapun tak mau menetes saat itu.
Lingga yang melihat itu pun, tampak khawatir. Dia takut jika Mira akan menjadi depresi karena rasa kehilangan yang teramat atas kepergian calon anaknya.
"Mir, kamu nggak papa kan?" tanya Lingga.
"Ehm … iya, Kak?" sahut Mira yang seperti orang linglung.
"Kamu nggak papa kan?" tanya Lingga lagi.
Pria itu menggenggam erat tangan Mira dan berharap wanitanya itu baik-baik saja. Sedangkan Mira, dia tak tau harus berkata apa.
Lingga kembali mengangkat mangkuk bubur yang sempat diletakkannya tadi, dan meminta Mira untuk membuka mulut.
"Kamu makan yah," seru Lingga.
Mira masih diam. Namun, sesaat kemudian otaknya kembali bekerja. Dia menghalau uluran sendok dari prianya dengan tangan.
"Kak, apa kamu lupa kalau aku nggak suka makanan rumah sakit?" ucap Mira.
Lingga pun menarik kembali sendoknya.
"Terus, kamu mau makan apa? Biar nanti aku beliin" sahut Lingga.
"Ehm … ketoprak boleh nggak?" tanya Mira.
"Aku beliin sop ayan aja yah. Nanti kamu tetep makannya bubur ini," bujuk Lingga.
Mira tersenyum dan mengangguk. Lingga pun bangkit berdiri dan sedkit membungkuk. Dikecupnya kening Mira sebelum dia beranjak pergi.
"Kak, maaf ya ngerepotin," ucap Mira.
"Nggak papa kok. Lagian cuma di bawah aja," sahut Lingga.
Pria itu pun berjalan pergi meninggalkan Mira sendirian di dalam ruang rawatnya.
Setelah memastikan jika Lingga telah keluar dan pintu tertutup rapat, tiba-tiba saja ekspresi wajah Mira berubah.
Dia diam. Tangannya terulur ke depan dan mengusap perutnya yang sudah kosong. Bulir bening satu persatu menetes dari mata sayu itu.
"Anakku," gumam Mira.
Dia memeluk erat perutnya, dimana pernah ada nyawa kecil di sana. Tangisnya mulai terdengar dan semakin pilu.
Lingga yang sedari tadi sengaja berdiri di luar pun, menyaksikan kejadian itu. Dia tak langsung pergi, karena tahu jika ada yang aneh dengan Mira, terlebih saat dirinya memberitahukan tentan kondisi anak mereka.
Menangislah, Mir. Menangislah. setelah itu, relakan kepergian anak kita, batin Lingga.
.
.
.
.
Akhirnya bisa update jugaaaaaa😭😭😭😭😭😭
__ADS_1
maaf pake banget guys🙏🙏buat kalian yang masih nungguin, makasih banget ya🤧🤧🤧🤧🤧
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁