
Mira berlari ke kamar mandi dan menutup rapat pintunya, membuat Lingga yang tertinggal di luar begitu panik melihat sang istri mendadak seperti itu.
“Mir! Mira! Are you oke? Mir!” panggil Lingga sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
Namun, yang dipanggil tak menjawab. Hanya suara orang muntah yang terus terdengar.
Sekitar lima belas menit berselang, pintu terbuka dan Mira keluar dari dalam toilet. Dia berjalan gontai karena mendadak tubuhnya lemas tak bertenaga.
“Kenapa bisa sampe gini sih? Biasanya kalau aku ngerokok juga nggak papa kan?” tanya Lingga.
Namun, bukannya menjawab, Mira seketika menepis tangan yang memapahnya, dan kembali berlari menuju toilet. Mira lagi-lagi muntah.
Saat dia selesai mengeluarkan isi perutnya hingga tersisa cairan kuning yang terasa pahit dan membakar tenggorokan, Mira keluar namun segera menghindar saat Lingga hendak mendekat.
“Jangan deket-deket! Aku nggak tahan bau mu, Kak. Beneran deh!” rengek Mira.
Lingga yang awalnya mengira sang istri hanya mengada-ada pun, mau tak mau menuruti permintaannya, karena tak mau Mira kembali muntah dan semakin memperburuk kondisinya.
Aneh banget sih? Biasanya juga nggak papa, keluh Lingga dalam hati.
“Ya udah, aku mandi dulu, terus gosok gigi biar wangi,” Ucap Lingga.
“Ya udah sana buruan,” seru Mira.
Lingga pun masuk ke kamar mandi, dan segera membersihkan dirinya hingga benar-benar wangi, agar Mira tak mengeluhkan baunya lagi.
Seusai mandi, lingga yang hanya mengenakan sebuah handuk yang melilit di pinggangnya, mencoba mendekati sang istri yang tengah berbaring di tempat tidur. Melihat Mira yang begitu pucat, membuat hasrat Lingga yang tadi sempat naik, kini turun drastis.
Dia berbaring di sisi sang istri, dan mengulurkan tangannya untuk bantal Mira.
“Apa sekarang udah nggak bau?” tanya Lingga.
Mira menggeleng dan segera msuk ke dalam pelukan prianya. Dia justru semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Lingga yang polos, dengan sisa buliran air mandi yang mengenai kulit wajahnya.
“Lemes yah?” tanya Lingga lagi.
“Ehmmm, lemes banget. Gimana dong? Mau lanjut makan siangnya?” tanya Mira tanpa mendongak ke atas.
Dia masih asik menciumi bau sabun Lingga yang menurutnya begitu nyaman.
“Nanti aja. Aku nggak tega makan kamu pas lagi lemes gini. Kita makan beneran aja yah. Mau ku ambilin?” tawar Lingga.
“Nanti aja. Aku masih pengin meluk kamu. Besok-besok, kalau mau deketin aku, mandi yang bersih dulu ya. Sumpah aku nggak tahan sama baunya,” rengek Mira
“Kenapa tiba-tiba bisa gini? Biasanya kan nggak papa?” tanya Lingga yang masih merasa heran.
“Ya mana ku tau. Yang kurasain emang kaya gitu, Kak,” sahut Mira.
“Ya udah, kamu istirahat dulu aja,” seru Lingga.
“Kamu masih ada kerjaan nggak, Kak?” tanya Mira.
“Nggak sih. Kan mau nemenin kamu di acara nanti malam,” jawab Lingga.
__ADS_1
“Ya udah. Jam setengah empat bangunin aku yah. Aku mau siap-siap ke sana,” seru Mira.
“Ya udah. Sekarang tidur dulu yuk,” ajak Lingga.
Keduanya pun memutuskan tidur, dan tak jadi melewatkan makan siang panas di atas ranjang, karena sikap Mira yang mendadak aneh itu.
...💋💋💋💋💋...
Sore hari, Lingga sengaja membawakan makan siang berupa pasta aglio e Olio buatannya, yang sangat Mira sukai ke dalam kamar.
Dia mengecup singkat bibir Mira, dan membangunkan sang istri.
“Selamat sore, Ratuku,” sapa Lingga.
“Ehm, sore, Kak. Udah jam berapa nih?” tanya Mira dengan suara serak, sambil meregangkan tangannya.
“Baru jam tiga. Aku sengaja bangunin lebih awal, biar kamu sempet makan dulu. Aku udah bikinin pasta kesukaan mu lho,” seru Lingga.
Mira bangun dan duduk bersandar di head board. Dia meraih tali rambut yang berada di atas nakas, dan menggulung rambutnya asal-asalan ke atas.
Lingga mengambilkan piring berisi makanan tadi, dan mulai menggulung sedikit demi sedikit pastanya.
“Aaaa...” tuntun Lingga agar Mira mau membuka mulut.
Namun, begitu pasta itu mendekat, Mira seketika langsung menutup hidungnya kembali.
“Ehm, nggak mau. Bau banget. Kakak kasih apaan sih?” tanya Mira yang kembali bersikap aneh.
“Nggak dikasih apa-apa kok. Bumbunya sama aja kaya yang biasa ku buat,” sahut Lingga.
“Nggak bau kok, Mir. Coba deh dikit,” pinta Lingga kembali mendekatkan garpu ke arah mulut istrinya
Namun, Mira seketika menepisnya hingga pasta itu berceceran di atas selimut.
“Hoek! Hoek!” Mira kembali mual dan berlari ke kamar mandi.
Lingga menghela nafas panjang melihat tingkah istrinya yang begitu aneh siang ini.
“Dia kenapa sih? Aneh banget. Biasanya juga minta nambah,” gumam Lingga kesal.
Dia pun turun dan mencari asisten rumah tangganya, dan memintanya untuk segera mengganti selimut yang kotor dengan yang baru, serta membuatkan sesuatu yang bisa meredakan rasa mual.
Selang setengah jam, Mira akhirnya keluar dengan wajah yang terlihat semakin pucat. Dia sampai tak bisa berjalan tegap, dan harus berpegang pada dinding di sampingnya.
Lingga pun menghampirinya dan mengangkat tubuh lemah itu menuju ke tempat tidur.
“Kamu kenapa sih? Kok hari ini jadi aneh banget?” tanya Lingga yang mencoba bersabar dengan tingkah istrinya.
“Aku juga nggak tau, Kak. Maaf,” ucap Mira sendu.
Wanita itu merasa tak enak dengan sikapnya pada sang suami, karena sudah dua kali dia muntah karena suaminya.
Lingga pun mengusap lembut puncak kepala Mira, dan berusaha tersenyum meski dia pun sebenarnya kesal.
__ADS_1
Asisten rumah tangga mereka mengetuk pintu, dan Lingga pun segera menghampiri dan menerima minuman hangat yang dibuatkan oleh wanita paruh baya itu.
“Thank you,” ucap Lingga.
Dia pun kembali masuk dan memberikan minuman itu kepada sang istri.
“Coba minum dulu. Katanya, ini bisa ngurangin mual,” seru Lingga.
Mira pun menurut. Setelah mencobanya, Mira merasa perutnya lebih baik. Dia pun kemudian meminumnya hingga tandas.
“Makasih ya, Kak,” ucap Mira.
“Kamu kuat mandi nggak? Mau ku bantu?” tanya Lingga.
“Nggak usah, Kak. Aku bisa sendiri kok,” sahut Mira.
Wanita itu pun kemudian dibantu Lingga menuju ke kamar mandi, dan membersihkan diri untuk bersiap pergi ke peragaan busana.
Sementara di luar, Lingga duduk di balkon, sambil memikirkan kelakuan istrinya. Tak berselang lama, ponselnya berbunyi tanda adanya panggilan masuk.
Lingga pun berjalan masuk dan mengambil ponselnya. Tampak nama sang ibu yang tertera di layar.
Aletta memang selalu menghubungi salah satu dari pasangan itu hampir setiap hari, untuk menanyakan kondisi mereka.
Lingga pun segera mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, Bu,” sapanya.
“Halo, Ar. Bagaimana kabar kalian?” sahut Aletta.
“Aku baik, tapi Mira, dia hari ini sedang sedikit aneh,” tutur Lingga.
“Ada apa dengan mantuku? Apa kamu terlalu keras menindasnya?” tanya Aletta.
“Aku nggak tau, Bu. Tiba-tiba aja dia mual pas tadi ku cium, mintanya harus wangi dulu. Terus tadi, biasanya dia doyan banget makan pasta buatanku, tapi sekarang malah dia mual-mual,” keluh Lingga.
"Apa kalian sudah lepas KB?" tanya Aletta.
"Sudah. Sekitar setahun yang lalu. Kenapa, Bu?" tanya Lingga.
“Anak b*doh. Itu namanya dia hamil. Cepat bawa dia ke dokter!” seru Aletta.
“Apa?!” pekik Lingga.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1